Yusuf dan Istri Potifar: Diperlakukan Tidak Adil

Posted on

Ayat bacaan: Kejadian 39:12
======================
“Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.”

perlakuan tidak adil, yusuf

Menegakkan keadilan demi hukum. Betapa seringnya kita mendengar kalimat ini. Seharusnya kalimat ini bisa menjadi pegangan setiap warga negara untuk hidup dalam situasi yang berkeadilan dilindungi undang-undang. Tetapi nyatanya ada banyak celah di mana hukum dunia ini bisa diputarbalikkan. Orang yang salah bisa mendapat kebebasan, sebaliknya orang-orang yang benar bisa menjadi kambing hitam, bahkan mendapat hukuman penjara dengan tuduhan atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Kasus-kasus seperti ini terjadi di mana saja, tidak hanya di negara kita. Hukum memang bisa diputarbalikkan, keadilan di dunia memang semu sifatnya. Tidak jarang pula berbagai pemutarbalikkan fakta seperti ini bisa menyulitkan bahkan menghancurkan hidup seseorang. Ditangkap karena berbuat baik, itu terjadi di negara kita dan berbagai tempat lainnya. Mau mengungkap korupsi malah dipecat, atau bahkan diperkarakan ke pengadilan. Hal-hal seperti ini membuktikan bahwa sistem hukum dan keadilan dunia belum sempurna, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa sempurna.

Mengalami tuduhan karena melakukan hal yang baik. Mendapat fitnah. Dijadikan kambing hitam. Semuanya mungkin terjadi dimana-mana. Bahkan ribuan tahun yang lalu hal seperti ini pun sudah pernah terjadi. Saya ingin menyambung kisah antara Yusuf dan istri Potifar kemarin dari sudut yang berbeda. Yusuf adalah orang yang disertai Tuhan. Penyertaan Tuhan atas hidupnya itu membuatnya terus berhasil meski dalam situasi sulit sekalipun. Ia dijual menjadi budak ke Mesir, tapi di sana ia menunjukkan kualitas dirinya yang tangguh. Penyertaan Tuhan membuatnya berhasil dalam pekerjaannya sehingga ia pun mendapat promosi dari tuannya, Potifar. (Kejadian 39:2). Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Istri Potifar berusaha menggodanya, tapi Yusuf tidak menanggapinya, meski kesempatan sudah begitu terbuka di depan mata. “Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ay 8-9). Yusuf mau menjaga kepercayaan yang telah ia terima, tapi lebih dari itu ia tidak mau terjebak untuk melakukan kejahatan yang besar yang artinya berbuat dosa terhadap Allah. Ini kualitas luar biasa dalam diri Yusuf.

Apakah istri Potifar menyerah? Tidak. Ia terus berusaha membujuk Yusuf untuk menyetubuhinya. “Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.” (ay 12). Yusuf memilih untuk lari keluar, menjauhi dosa. Tetapi akibat bajunya tertinggal di tangan istri Potifar ia pun kemudian difitnah. Kekesalan ditolak berkali-kali oleh Yusuf membuat wanita itu kesal dan menyimpan dendam. Sehingga Yusuf pun difitnah melakukan hal yang sebaliknya yaitu sebuah tuduhan atas usaha memperkosa dirinya. “dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: “Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.” (ay 14-15). Dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Potifar kemudian memenjarakan Yusuf atas tuduhan perbuatan yang sebenarnya sama sekali tidak ia lakukan.

Betapa tidak adil bukan? Hal seperti ini pun terkadang bisa menimpa kita. Ketika kita sudah berbuat baik, tetapi kita malah menderita karenanya. Maksud baik kita disalahartikan. Kita sering mendengar orang difitnah, bahkan dianiaya justru karena berbuat baik. Ini memang terjadi di dunia, dengan sistem keadilan dunia yang masih subjektif, tapi hendaklah kita ingat bahwa ada Tuhan di atas segalanya. Dia tahu apa yang benar, dan meski di dunia kita diperlakukan tidak adil tapi sebuah keadilan yang sebenarnya kelak akan kita terima dari Tuhan.

Paulus tahu benar bagaimana rasanya menderita ketika mewartakan Injil kebenaran. “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” (2 Korintus 11:24-28). Paulus harus rela menerima semua itu demi memelihara jemaat. Bukan hanya Paulus, tetapi semua rasul-rasul dan pewarta Injil pada saat itu termasuk para jemaat pun harus menerima berbagai ancaman, siksaan bahkan dihukum mati dengan mengenaskan. Betapa tidak adilnya dunia ini. Tapi ingatlah bahwa meski demikian Tuhan tidak akan menutup mata dari apa yang kita perbuat. Meski harus menderita akibat perbuatan baik, itu masih jauh lebih baik daripada kita menyelamatkan diri dengan melanggar firman Tuhan. Petrus berkata: “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.” (1 Petrus 3:17). Petrus juga berkata “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” (1 Petrus 3:14).  Menderita karena berbuat baik mungkin membuat kita tersiksa dalam kehidupan di dunia ini, tetapi perbuatan jahat yang kita lakukan saat ini akan berbuah penderitaan yang kekal kelak. Tuhan mengetahui segalanya dan akan mengganjar kita sesuai dengan apa yang kita perbuat ketika hidup.

Yesus sudah mengingatkan kita “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Pada waktu lain Yesus juga berkata “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (10:38). Artinya kita memang harus siap menerima berbagai bentuk penderitaan itu, jika memang harus, untuk mengikut Yesus daripada menolakNya demi sesuatu yang fana di dunia ini. Dalam Ibrani kita melihat pesan penting buat kita untuk terus bertahan meski berada dalam tekanan atau situasi yang tidak adil ini. Disana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (Ibrani 3:14). Dalam Yakobus kita bisa bacaBerbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1:12). Dan sebuah pesan penting dalam Wahyu: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10b).

Jika memang kita harus mengalami ketidakadilan atau bentuk-bentuk perlakuan buruk lainnya karena kita mengikuti firman Tuhan, bersabarlah dan tetaplah setia. Ada sesuatu yang disediakan Tuhan kepada siapapun yang mampu mempertahankan kesetiaannya sampai mati. Yang penting adalah untuk terus berjalan sesuai firman Tuhan apapun resiko yang harus kita hadapi, karena biar bagaimanapun lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat, seperti yang dikatakan oleh Petrus. Setiap saat akan ada godaan yang menerpa kita, mencoba menyesatkan kita dengan berbagai iming-iming kemewahan atau kenikmatan dunia, tolaklah semua itu dalam nama Yesus. Meski harus menanggung fitnahan atau akibat-akibat buruk dari sesama manusia di dunia ini, tetaplah berjalan sesuai firmanNya. Dan pada akhirnya kita akan menjadi orang-orang pemenang, bahkan lebih dari pemenang.

Dalam situasi dan kondisi apapun, tetaplah setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.