“Yesus Sang Penyelamat”: Renungan, Senin 17 Mei 2021


Hari Biasa Pekan VII Paskah


Kis. 19:1-8; Mzm. 68:2-3,4-5ac, 6-7ab; Yoh.16:29-33


Saudara-saudari yang terkasih, pada hari ini, bacaan-bacaan Kitab Suci mengajak kita semua untuk semakin mengenal identitas sejati dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Pengenalan yang baik terhadap seseorang atau sesuatu hal merupakan langkah awal yang diperlukan seseorang agar tidak jatuh ke dalam prasangka-prasangka buruk atau pada kesesatan.


Dalam bacaan Injil dikisahkan tentang Yesus yang sedang mengajar para murid-Nya tentang suatu dukacita yang mendahului kemenangan. Dalam pengajaran-Nya tersebut, Yesus kemudian tiba pada pengungkapan jati diri-Nya yang berasal dan datang dari Allah. Hal itu dikatakan Yesus kepada para murid tanpa kiasan apa-apa, sehingga pada akhirnya para murid pun menjadi tahu dan percaya bahwa Yesus datang dari Allah. Adanya pengungkapan jati diri Yesus ini menjadi tanda pengenalan akan identitas Yesus sebagai seorang penyelamat. Tentang para murid dikatakan bahwa kelak mereka akan mengalami suatu dukacita yang mendalam. Akan tetapi, pada akhirnya dukacita itu kemudian akan menjadi suatu sukacita yang dapat membawa mereka kepada keselamatan. Itulah inti tugas perutusan yang diemban Yesus, yakni membawa orang pada keselamatan.


Dalam kisah para rasul diceritakan tentang bagaimana Paulus memberikan Roh Kudus kepada murid-murid yang ada di Efesus. Pada awalnya murid-murid yang ada di sana tidak mengenal Roh Kudus dan hanya berpegang pada baptisan Yohanes. Akan tetapi, dengan kedatangan Paulus, mereka kemudian memberikan diri untuk dibaptis kedua kalinya, dalam nama Yesus Kristus. Setelah menerima  baptisan atas nama Yesus, mereka kemudian langsung menerima kuasa Roh Kudus yang kemudian memampukan mereka berkata-kata dalam bahasa Roh dan bernubuat. Hal tersebut hendak memberikan penegasan tentang besarnya kuasa yang berasal dari Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan kuasa-Nya yang besar, para murid dapat menerima dan merasakan Roh Kudus dalam diri mereka. Kisah dari tindakan Paulus terhadap umat di Efesus ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas tentang identitas Yesus sebagai seorang Penyelamat. Karena dibaptis dengan nama Yesus, seseorang dapat menerima dalam diri mereka kehadiran dari Roh Kudus yang menyelamatkan.


Dalam hidup sehari-hari, hendaknya kita selalu percaya dan berpasrah pada kuasa dan kehendak Tuhan. Adanya sikap penyerahan diri ini tidak berarti bahwa kita hanya perlu bersikap pasif dalam hidup. Kita diharapkan mampu untuk mencontoh sikap hidup Yesus, dan menerapkannya dalam setiap bidang kehidupan kita di dunia ini. Berlaku baik terhadap Tuhan dan sesama merupakan sikap hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Yesus sebagai Penyelamat sejati pasti akan senantiasa membimbing dan menyertai kita dalam hidup kita.


(Fr. Dean Rengkung)


“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33)


Marilah berdoa:


Yesus, Sang Penyelamat sejati, tinggallah dalam diriku, dan berikanlah aku kekuatan dan berkat-Mu selalu. Amin.


Baca Renungan Pagi dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.