Yesus Sang Entrepreneur: Keyakinan (2)

KETIKA saya belajar sejarah dulu, saya diajarkan untuk menghafal tahun dan peristiwa bersejarah. Tetapi pelajaran yang pokok malah dilewatkan. Sebab, belajar dari sejarah semestinya berarti kita belajar bagaimana perjuangan orang-orang besar yang bermimpi besar itu mewujudkan mimpinya. 

Satu hal yang mencolok ialah bahwa para pemimpi itu ternyata juga punya keyakinan. Keyakinan bahwa mimpinya akan terwujud. 

Parahnya kalau tidak pernah PD

Karena kita gagal belajar dari sejarah, maka hidup kita dihadang masalah. Bukan hanya tak punya mimpi, malah sudah tak memiliki keyakinan. Bahkan keyakinan (kepercayaan) diri juga tak punya. Orang muda bilang, kurang PD. Hanya orang yang  kurang percaya diri, ia berteriak paling keras: aku bisa! 

Karena kurang PD, sesama dan dunia jadi masalah. Hanya orang yang kurang PD, ia akan sibuk menangisi kekurangannya. Waktu kita remaja dulu, berhari-hari kita sibuk membersihkan jerawat di wajah kita, tak melakukan apa-apa yang bermanfaat. 

Di negeri kita, tak banyak kita bisa belajar tentang keyakinan ini. Bahkan penyelenggara negeri ini pun tidak PD. Itu sebabnya kekayaan bumi pertiwi ini berabé, karena telah masuk gadai. Sekiranya, bangsa kita ini percaya diri, punya keyakinan diri, harta kekayaan negeri ini takkan habis dibagi seluruh penduduk negeri  kita, sampai akhir dunia.

Jangankan keyakinan, bahkan mungkin mimpi pun sudah tak punya lagi. Itu sebabnya, masing-masing sibuk untuk mencari diri, dengan berkorupsi. Salah satu sebabnya karena orang tak punya mimpi, lantas juga  tak lagi punya keyakinan. 

Iman tidak sama dengan agama 

Sebetulnya para pendiri negeri ini sudah betul meletakkan dasar hidup bersama lewat Panca Sila yang belakangan digabung menjadi satu kata “Pancasila”. 

Sila pertama dan utama adalah Ketuhanan Yang Mahaesa. Itu artinya keyakinan akan Tuhan. Dan ini berarti iman. Iman adalah keyakinan. Tetapi lihatlah yang terjadi, seluruh negara sibuk dengan urusan agama. Agama beda dengan iman. Agama adalah  ungkapan  iman. Selama berupa ungkapan, maka konsekuensinya: perbedaan dan berubahan. Beda agama, beda ungkapannya. 

Bahkan dalam satu agama, tetapi beda waktu dan tempatnya pun, berbeda ungkapannya.  

Contoh: Orang katolik tahu, kalau sekarang Doa Syukur Agung dilarang didoakan oleh umat. Padahal dulu boleh dan sah saja. Tidak hanya iman, yang ungkapannya berbeda.

 Kasih, cinta, pun ungkapannya berbeda. Ada yang mengungkapkan cinta dengan „mencium“, ada punya dengan „menampar“. Ada „mengizinkan“ itu berarti cinta, ada pula yang „melarang“ itu ungkapan cinta. Itulah sebabnya, orang muda selalu merasa orangtuanya kurang mencintainya, kalau dilarang ini dilarang itu. Padahal, sungguh mati, orangtua maksudnya dengan  melarang itu mencintai anaknya. (Bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.