Yesus Peduli, Iman Menyembuhkan bahkan Menghidupkan

Compassion

Senin, 07 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XIV
Hosea 2:13.14b-15.18-19; Mzm 145:2-9; Matius 9:18-26

“Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.” (Matius 9:22)

Hari ini, kita berjumpa dengan Yesus yang peduli dan berbelas kasih. Sikap peduli dan belas kasih-Nya berpadu dengan dua orang beriman istimewa kuat.

Pertama, iman seorang kepala rumah ibadat. Kepala rumah ibadat itu sedang berduka. Putrinya meninggal dunia. Ia beriman, maka datang menjumpai Yesus. Ia menyembah Yesus dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup. ”
Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid- Nya. Buah dari iman itu benar: putrinya yang sudah meninggal dunia itu bangkit dan hidup setelah dijamah Yesus.

Kedua, iman perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Dalam hati ia berdoa, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dan terjadilah. Ia pun sembuh.
Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Luar biasa istimewa Yesus! Yesus tak hanya menjadi penyembuh orang yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan, sakit parah! Ia juga menjadi daya hidup dan berkuasa atas maut! Bahkan anak yang sudah meninggal pun dihidupkan-Nya!!

Apa yang bisa kita timba dari kisah ini? Pertama, kepedulian Yesus yang luar biasa. Hari Sabtu lalu (5/07), saya belajar untuk peduli kecil-kecilan saja. Saya mendapat berita duka. Sahabat saya, Bapak Pdt. Gunarto meninggal dunia. Saya ajak seorang haji yang beberapa waktu lalu saya perkenalkan dengan beliau. Kami berdua, pastor Katolik dan haji Muslimin melayat ke tempat persemayaman jenazah di Pantiwilasa Citarum, Semarang.

Sementara kami ngobrol dengan salah satu anggota keluarga yang berduka, saya mendengar di ruang yang lain lagu-lagu rohani Gereja Katolik dinyanyikan. Ternyata sedang ada Misa Requiem untuk umat Katolik yang meninggal dunia. Maka kuputuskan, begitu Misa Requiem selesai saya juga akan sekalian melayat keluarga yang bersangkutan. Itulah sebabnya, saya pun berpamitan dengan keluarga Almarhum Pdt. Gunarto dan melayat di ruang lain setelah Misa Requiem usai. Keluarga sangat bersukacita ketika saya datang melayat. Syukurlah.

Ternyata, persis di sebelah ruangan itu, ada juga umat Katolik Kebon Dalem yang meninggal dunia. Maka, saya pun segera melayat ke sebelah seusai berdoa dan menyalami keluarga dan umat yang hadir di situ.

Saat saya berjumpa dengan istrinya, dia memberitahukan bahwa jenazah sang suami yang meninggal masih ada di kamar jenazah. Rencananya, baru esok hari (Minggu pagi) jenazahnya dibawa ke ruangan. Oleh sebab itu, saya pun mengajak sang istri bersama kedua putranya untuk berdoa di kamar jenazah.

“Aduh, saya takut Romo,” sahut sang istri.

“Loh, kenapa? Kan suamimu ta?,” sahut saya.

Setelah ragu beberapa saat, akhirnya, kami berempat (istri, dua anak mereka dan saya) menuju kamar jenazah yang ada di lorong persemayaman.

Sepi. Tak ada orang. Kamar jenazah pun tertutup rapat. Ruangan sempit itu bisa kami buka. Jenazah bapak itu tertidur kaku dan beku terbungkus rapata dengan kain kafan, sangat rapat sehingga tak satu bagian tubuh pun – termasuk wajah jenazah itu – kelihatan.

Kami masuk di ruangan sempit itu. Saya berdoa bersama keluarga. Aroma kapur barus memenuhi ruangan itu. Selesai berdoa dengan isi berterima kasih, minta maaf-memaafkan, dan mengucapkan selamat jalan. Selesai berdoa, saya pamit pulang bersama Pak Haji yang menunggu di persemayaman. Keluarga pun sangat berterima kasih atas kehadiran dan doa yang saya persembahkan.

Kisah-kisah kecil itu sekadar upaya saya mencontoh Yesus untuk bersikap peduli kepada sesama, terutama mereka yang sedang berduka. Itu pelajaran pertama.

Pelajaran kedua, kita contoh dari perempuan yang dua belas tahun sakit pendarahan itu. Imannya sangat kuat, sampai dia berdoa, “Asal kujamah jubah-Nya aku pasti sembuh!” Benar, ia pun sembuh seketika.

Kita belajar mencontoh sikap perempuan itu setiap kali kita mengikuti Prosesi Sakramen Kudus dalam Adorasi meriah. Saat itulah, Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus berkeliling dengan berkat yang dilimpahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Maka dari itu, pada saat itulah kerap terjadi mujizat penyembuhan lahir dan batin bagi yang sungguh percaya. Iman itulah yang menyembuhkan.

Tuhan Yesus Kristus, anugerahilah kami iman, harapan dan kasih kepada-Mu agar kami pun kian peduli dan berbelas kasih kepada sesama.

Kredit foto: Ilustrasi (Twig Hugger)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.