Yesus Dihukum Mati karena Alasan Ekonomi? (3)

SEPANJANG hidupnya, Yesus banyak bertentangan dengan para ahli taurat dan orang Farisi. Tetapi pada saat akhir hidupNya, anehnya Dia dituntut oleh kaum Saduki, bukan oleh ahli taurat dan orang Farisi.

Alasan sebenarnya di balik penuntutan tersebut, secara menarik dijelaskan oleh Mgr. Suharyo.

Kaum Saduki merupakan golongan imam agung. Mereka sekaligus adalah tuan tanah dan pemegang monopoli ekonomi Bait Suci yang merupakan pusat ekonomi pada waktu itu. Kaum Saduki merasa  berhak menentukan aturan kelayakan suatu hewan kurban, hal yang menyebabkan harga hewan kurban yang ‘layak’ dipersembahkan melambung tinggi dari harga wajar hewan tersebut di pasaran ternak.

Mereka juga yang memegang hak penuh atas penukaran uang suci. Maka mereka sadar kepentingan mereka sangat terusik dan terancam ketika Yesus marah besar di Bait Suci dan ingin mentahirkan Bait Suci dari segala ‘kekotoran’.

Alasan ekonomi rupanya yang memicu segala upaya pemakzulan dan berakibat pada penyaliban Yesus.

“Yesus Kristus inilah yang kita ikuti sebagai orang katolik”, tegas Mgr. Ignatius Suharyo, “kita perlu berbela rasa, bukan apatis atau sekedar tenang-tenang mendayung”, tambahnya. 

Nilai kristiani

Menurut Ex Corde Ecclesiae, konstitusi apostolik yang diterbitkan Paus Yohanes Paulus II pada 15 Agustus 1990 tentang perguruan tinggi katolik, identitas katolik dirumuskan sebagai komunitas akademik.

Tugas utamanya adalah memajukan martabat manusia melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka disyaratkan otonomi kelembagaan dan kebebasan akademik.

Martabat manusia, jelas Mgr. Suharyo, bisa dilihat dari ciri-cirinya yaitu kebebasan, tanggung jawab, dan keterbukaan kepada yang transenden.

Maka institusi dituntut untuk memadukan keunggulan dalam perkembangan humanistik dan budaya dengan pelatihan profesional. Selain itu, memadukan peningkatan martabat kemanusiaan dengan kegiatan akademik sebagai dialog antara ilmu dan iman.

Tentu kebebasan akademik dalam memajukan ilmu perlu rambu kompetensi ilmiah dan etika profesi yang dipegang teguh.

Transformasi sosial

Permasalahan bisa dilihat dari realita di sekeliling kita, tukas Mgr. Ignatius Suharyo.

“Dulu salah satu mata kuliah favorit saya adalah ‘Current Event’ dimana dosen bukan membawa textbook ke ruang kuliah tetapi membawa permasalahan hari kemarin ke kelas dan meminta mahasiswa membahasnya dari berbagai perspektif. Sekarang, saya bisa dengan mudah mendapatkannya dari membaca koran setiap hari,” cerita Bapak Uskup KAJ.

Perubahan tata nilai yang menunjukkan transisi dari masyarakat tradisional menuju masyarakat teknologi modern, ditandai juga dengan hal negatif seperti material begitu mudah diterima dan segi nilai tidak diperhatikan.

Ibarat naik mobil, kepala naik mobil Mercy, badan masih naik pedati.

Realitas kemiskinan dan ketidakadilan terpampang di sekitar kita. Suatu riset yang meneliti bisnis kopi bermerk di cafe yang secangkirnya mencapai 40 ribu rupiah, ternyata hanya 7% dari harga tersebut yang kembali ke petani sebagai produsennya, yang nota bene menanggung risiko paling tinggi misalnya ketika gagal panen.

Penelitian lain menunjukkan bahwa 80% dana riset obat tertuju untuk kepentingan menengah ke atas yang memiliki daya beli. Topik yang dituju antara lain produk pelangsing tubuh dan kosmetika.

Perguruan tinggi katolik perlu menunjukkan kepedulian dengan penelitian yang berlandaskan kepekaan sosial dan bertujuan meningkatan martabat manusia, bukan sekedar memenuhi tuntutan pasar, begitu pesan Mgr. Suharyo mengakhiri pencerahannya. 

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.