Yang Terbaik atau Sisa?

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
=======================
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.”

Di belakang rumah saya terdapat perkampungan penduduk yang meriahnya bukan main kalau ada yang mengundang organ tunggal. Suatu kali saya iseng melihat langsung seperti apa suasananya disana, ternyata layaknya kebanyakan organ tunggal, apa yang terlihat disana sangatlah tidak mendidik, terutama bagi anak-anak. Ironisnya, ada begitu banyak anak-anak yang ikut melebur disana. Sebagian pria dewasa terus menyawer penyanyinya yang berusaha tampil seerotis mungkin agar dapat saweran. Wajah istri yang kesal melihat ulah suaminya lumayan banyak disana. Rata-rata mereka ini hidup susah, tapi lucunya mereka masih bisa memberi saweran lumayan besar. Toleransi memberi sesuatu memang seringkali mempunyai standarnya sendiri bagi setiap orang. Ada yang kalau memberi tip nominalnya besar supaya dilihat hebat, diingat oleh pramusajinya atau ada pula yang memberi karena genit. Tapi giliran ada pengemis kumuh dan kotor, mereka bukannya mengasih tapi malah marah. Memberi persepuluhan apakah harus tepat 10% atau seiklasnya, 10% sesudah atau sebelum dipotong pengeluaran masih menjadi perdebatan di kalangan anak Tuhan. Tapi giliran mentraktir teman dan hidup dalam lingkungan pertemanan yang wah, kalau perlu hutang pun jadi. Ada saja alasan yang bisa disampaikan. Ada yang pernah berkata kepada saya bahwa ia ragu kalau uangnya nanti diselewengkan oleh pengurus di gereja, tapi lucunya ia tidak berpikir seperti itu dalam mengeluarkan uang kepada hal-hal yang jelas-jelas tidak penting. Padahal apa urusannya bagi kita? Benar atau salah pemakaiannya itu menjadi tanggung jawab mereka, sedangkan tanggung jawab kita adalah memberi yang terbaik kepada Tuhan. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak ada gunanya dicampur-adukkan.

Begitulah yang banyak terjadi di kalangan orang percaya. Semua orang yang mengharapkan berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi ironisnya banyak yang hanya memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Itupun dengan rasa berat hati dan bersungut-sungut. Bukannya memberi dengan sukacita tapi malah dalam keadaan terpaksa dan merasa seperti dirampok. Bayangkan apabila kita melakukan hal seperti itu kepada ayah kita di dunia. Ayah baru boleh makan kalau kita sudah kenyang, tinggal sisa-sisa atau remah-remah, itupun kalau ia makan kita berikan tampang seperti tidak ikhlas, karena terpaksa saja supaya tetap hidup dan kita tidak disalahkan kalau ada apa-apa. Bukankah itu merupakan sikap durhaka? Kalau kepada ayah kita saja seperti itu, apalagi kepada Tuhan, Bapa Surgawi kita.

Dalam kitab Maleakhi kita bisa melihat bagaimana Tuhan sempat merasa muak dan murka ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas dari umatNya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Maleakhi 1:6). Jika kepada ayah kita saja kita harus bersikap hormat, tidakkah kita seharusnya lebih hormat lagi kepada Tuhan, pencipta segalanya termasuk diri kita? Dia menciptakan kita dengan begitu indahnya, lengkap dengan segala rancangan penuh damai sejahtera agar kita semua memiliki masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Bahkan Yesus Kristus, anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua tidak lagi berakhir dalam kebinasaan melainkan bisa memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Tapi sebagian orang tidak menghargai betapa besar kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Bukannya bersyukur dan rindu untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, mereka malah sibuk menimbang-nimbang neraca keuangan dan segala yang mereka miliki agar jangan sampai berkurang saat ‘terpaksa’ memberi kepada Tuhan supaya jangan masuk neraka, atau supaya usaha mereka lancar jaya jauh dari kebangkrutan. Wajar jika Tuhan marah besar melihat kelakuan seperti ini.

Kita bisa melihat apa yang memicu kemarahan Tuhan yang merasa diperlakukan tidak hormat ini dalam ayat selanjutnya dalam Maleakhi pasal 1. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (Maleakhi 1:8). Perilaku seperti ini sangatlah tidak pantas, dan bagi Tuhan merupakan sebuah kecemaran bahkan penghinaan (ay 7). Begitu murkanya Tuhan terhadap sikap-sikap demikian, hingga Dia berkata “Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.” (ay 14). Sangat keras, dan itu wajar karena dengan berbuat demikian kita merendahkan Tuhan, yang seharusnya ditinggikan di atas segalanya.

Sikap seperti ini jelas tidak pantas untuk dilakukan. Tidak kepada orang yang kita hormati di dunia, apalagi kepada Tuhan semesta alam. Apalagi kalau kita melihat betapa banyaknya janji berkat, perlindungan bahkan keselamatan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita manusia, yang ia ciptakan dalam posisi sebagai anak dan ahli warisNya. Salah satu firmanNya dalam Mazmur bunyinya seperti ini: “Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” (Mazmur 81:17). Janji berkat Tuhan lainnya dibeberkan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14. Tuhan jelas menjanjikan segala yang terbaik buat kita. Dia memberikan yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kita? Jika kepada orang tua kita, dan kepada orang-orang yang kita hormati saja kita harus memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang asal-asalan atau malah sisa-sisa saja, tidakkah Allah jauh lebih layak untuk mendapatkan yang terbaik dari kita yang mengaku anak-anakNya? Hari ini mari kita renungkan, apakah selama ini kita sudah memberi apa yang terbaik dari kita untuk Tuhan? Atau kita masih mengedepankan neraca untung rugi, hitung-hitungan dalam pengukuran duniawi ketika hendak memberi untuk Tuhan? Apakah kita rindu untuk memberi yang terbaik atau kita malah memberi remah-remah atau sisa-sisa karena terpaksa? Have we offered Him nothing but the best of us, or are we still thinking of giving him just the left-overs? 

Persembahkan yang terbaik bagi Tuhan, sebab Dia layak menerimanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.