Yang Aku Kehendaki adalah Belas Kasihan, Mat 12:1-8

charity

ADA seorang nenek miskin ketahuan mencuri ketela di kebun tetangganya, yang rumahnya di desa. Oleh tetangga yang empunya kebun ini nenek tua itu lalu ditangkap dan mau dilaporkan ke polisi. Walaupun nenek itu sudah minta maaf, karena ia sangat membutuhkan ketela itu, namun tetangga tetap ngotot ingin memperkarakan masalah ini.

Lalu ada tetangga lain yang membela nenek ini, karena kasihan. Tetapi yang merasa kecurian menjawab: “Soalnya ini masalah pencurian, maka harus diselesaikan secara hukum. Kalau tidak diproses secara hukum pencurian akan merajalela.”

Maka datanglah orang-orang desa berbondong-bondong ingin tahu masalahnya. Dan terjadilah nenek ini dibawa kekantor polisi dan maksudnya akan diproses kantor pengadilan terdekat.

Setelah di sidang, nenek ini kena vonis: Denda satu juta dan kurungan selama 7 bulan.

Orang-orang yang hadir semua protes: “Ini tidak adil. Masakan nenek yang sudah tua ini mencuri karena membutuhkan makan, malah harus bayar satu juta dan dikurung tujuh bulan. Saya setuju yang harus dihukum adalah yang punya kebun yang tidak tahu belas-kasihan dan main keras-kerasan.”

Orang Farisi yang sok tahu aturan menegur murid-murid Yesus memetik bulir gandum di sawah dan menyalahkannya. Namun Yesus menjelaskan bahwa ada situasi dimana orang bebas hukum kalau orang punya hati nurani. Orang-orang desa tadi adalah orang punya hati nurani, maka berani membenarkan tindakan nenektua yang kelaparan.

Maka Yesus mengatakan: “Yang Aku kehendaki ada-lah belas kasihan dan bukan persembahan.”

Maksudnya aturan agama bukanlah yang menentukan semua, tetapi belas-kasihan, rasa kemanusiaan. Karena banyak orang yang hanya ikut aturan agama, tetapi tidak punya rasa kemanusiaan dan tidak sudi menolong orang kecil. Banyak orang yang bangga bahwa telah menjadi agamawan yang baik, karena telah banyak memberikan persembahan bagi Tuhan berupa hewan-hewan yang disembelih, atau berupa harta benda yang diserahkan untuk rumah ibadat, atau mengorbankan banyak waktu untuk beribadat, tetapi kalau dalam hidup sehari-hari tidak punya kasih sayang kepada orang lain, menurut Yesus itu tidak banyak artinya. Karena kehidupan beragama muaranya adalah kasih sayang, kepedulian terhadap orang lain.

Pernyataan Yesus ini mau mengajak kita untuk mengubah cara pikir kita bahwa perlu diperhatikan adalah kasih sayang. Dalam keluarga aturan dan disi-plin, tetapi tidak boleh meninggalkan kasih sayang. Dalam pendidikan ada tatan an dan disiplin, tetapi tidak boleh meninggalkan kasih sayang, kepedulian kepada pribadi yang diasuh.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.