“X-Men: Apocalypse”, Tetaplah Percaya pada Allah

BAGI saya, film X-Men: Apocalypse lebih heboh dibandingkan dengan Captain America: Civil War.  Selain jalan ceritanya yang hidup dan pesan moral yang jelas, pertarungannya sangat asik.

Akhir zaman

Dari judul apocalypse atau apokalipsis, penonton sudah tahu bahwa ini tentang akhir zaman.  Bahkan saya sangat yakin, gagasan film ini mengadopsi gagasan tentang akhir zaman dari alam pemikiran Perjanjian Baru.

Konsep akhir zaman yang berkembang dalam Perjanjian Baru adalah bumi dimana manusia hidup ini akan berakhir dengan ditandai bencana besar-besaran.   Bencana itu akan menghancurkan segala bangunan yang telah ada.  Angin topan, gempa dan air bah meluluh lantakan semua tatanan kehidupan.  Ketika semua itu terjadi,  pemimpin baru dan kehidupan baru akan muncul.  Konsep ini diadopsi dalam film X-Men terbaru.

Raja kegelapan

En Sabah Nur penguasa Mesir Kuno yang telah terkubur ribuan tahun akhirnya bangkit lagi.  Ia memproklamasikan diri sebagai dewa yang benar.  Ia datang untuk menghabisi semua dewa palsu.  Ia secara definitif menolak segala senjata dan alat buatan manusia.  Ia sebaliknya hendak memaksimalkan daya manusia.

Ia rekrut semua mutant di muka bumi ini untuk menjadi pasukannya.  Secara khusus, ia berhasil mengajak Ororo Munroe, Psylocke, Angel, dan Magneto seolah-olah the Four Horsemen, menjadikan mereka sebagai hamba-hamba andalannya.  Ororo dan kawan-kawannya tunduk kepada Sabah karena dalam hati mereka masih diisi ruang gelap yang mentahtakan ambisi, dendam, sakit hati, dan kekecewaan.  Kepada mereka, En Sabah berhasil membagikan visi tentang kehancuran bumi dan bangkitnya tatanan baru.

Sepak terjang mereka sungguh membuat ciut semua pemimpin dunia.  Mereka mahadahsyat dan tak terkalahkan.

Apakah Allah akan mengalahkan En Sabah dan kawan-kawannya?  Pertanyaan itu mengusik dalam hati saya selama menonton film.  Saya menjadi kecil hati bahwa kuasa kegelapan lah pemenang atas bumi ini.   Sungguh mengerikan bila raja kegelapan berkuasa.

Puzzle utusan Allah

Di pihak lain adalah Professor Charles Xavier, Hank McCoy, Jean Grey, Alex Summers, Scoot, Nightcrawler dsb, mereka itu mutant-mutant yang memiliki suara hati,  dipenuhi kasih, dan kebenaran.  Mereka berkoalisi untuk menghentikan Sabah.   Masing-masing mutant itu seperti puzzle yang tengah disusun dalam kesempatan pertempuran melawan En Sabah cs.

Di bawah komando Charles, ia adalah mutant paling ampuh dalam hal telepati, sinergi semua mutant berhati suci berhasil menghentikan polah En Sabah.

film x-men apocalypseFilm “X-Men, Apocalyse”

Justru saya melihat dalam film yang berdurasi 144 menit, para mutant ini begitu manusiawi.  Mereka memiliki rasa kasihan, ingin menolong temannya, dan berjiwa rela berkorban.  Memang, mereka dikaruniai daya linuwih tetapi dalam pertarungan daya linuwih itu mental melawan kekuatan En Sabah.

Kekuatan jahat itu dikalahkan dengan kasih.  Raven Darkhölme atau Mystique justru menyentuh hati Erik sang magneto.  Ia katakan, “Aku datang untuk membantumu Erik.”  Atau Charles, ia justru percaya bahwa tidak dengan mengandalkan kekuatan dirinya maka ia bisa menang.  Ia mempersilahkan karunia lain untuk berpartisipasi seperti ia persilahkan Jean mengambil alih pimpinan pertempuran.

Menurut saya, pesan jelas dari film ini adalah: kekuatan kegelapan itu berujung pada penghancuran, perpecahan, dan pemujaan egoisme.  Sehebat apa pun ia, sekuat apa pun ia, tetapi seluruh ciptaan hanyak akan dijadikan budak-budaknya.  Ini berbeda dengan kekuatan dari Allah.  Kekuatan Allah di dunia dihadirkan dalam kesatuan dan penerimaan kemanusiaan.   Pada akhirnya semua akan bersukacita dan menjadi anak-anak terang.

Di penghujung film, para penonton pun akan mengangguk setuju bahwa akhir zaman tetap di tangan Tuhan.

avatar Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.