Wisata Lombok: Kemeriahan Gili Trawangan (5D)

Gili Trawangan Lombok diving

SEKELOMPOK turis asing dengan gagahnya tanpa baju di dada melenggang santai menyusuri jalanan kecil yang memisahkan dua sisi kawasan bersebelahan; yang satu deretan kafe tepi pantai, lainnya deretan hunian berbintang atau restoran dan malah pasar. Sejenak kemudian, barisan pelancong asing –kali ini perempuan manca negara—melaju santai dengan sepeda onthelnya hanya dengan bikini.

Lalu sejurus kemudian, rombongan turis lokal mengisi ruang public berupa jalan sempit tak kurang dari 4 meter ini dengan moda transportasi lokal khas Gili Trawangan: cidomo alias cikar bertenaga kuda.

Gili Trawangan yang berlokasi di luar ‘daratan’ Pulau Lombok kawasan Barat sejatinya kini tengah bersolek.

Datangnya para turis manca negara dan kemudian turis lokal ke sebuah pulau kecil di gugusan kepuluan yang semuanya menyandang nama ‘gili’ ini seakan menjadi sumber energi kehidupan baru di Gili Trawangan. Mereka datang tidak hanya untuk having fun semata, tetapi juga membawa cerita.

Gili Trawangan Lombok papan nama 2

Pesona Gili Trawangan yang kian mendunia di Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Selebihnya, tentu saja, membawa uang. Bukan saja untuk dibelanjakan demi kebutuhan having fun semata itu, melainkan juga untuk investasi. Maka tak ayal lagi, Gili Trawangan menjadi medan baru bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya, setelah sebelumnya mereka ikut ‘mengeroyok’ Senggigi –kawasan pantai di Lombok Barat yang lebih dahulu memacarkan magnet wisata bagi para pelaku industri pariwisata.

Gili Trawangan Lombok pantai pasir putih

Pasir putih menjadi andalan penting bagi pariwisata Gili Trawangan di Lombok Barat. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

***

Gili Trawangan menurut kacamata saya sekarang ini sudah sangat ‘bule’.

Ahmad, seorang pemuda asli Lombok yang kini mengadu nasib dan mencari kehidupa di Gili Trawangan, membenarkan kesan subjektif di atas. Menurut pemuda ramah yang kini sehari-hari menjawa gawang sebuah kafe sederhana di pojokan pasar tradisional di Gili Trawangan, nafas kehidupan di pulau kecil ini kini lebih banyak ditopang oleh industry pariwisata.

Lihat saja di sepanjang jalan kecil yang memisahkan kawasan pantai dengan kawasan permukiman penduduk di Gili Trawangan, begitu kata dia. Maka, di situ akan terlihat deretan kafe, resto, hunian berbintang, bungalow, homestay, dan night spot yang berjibun jumlahnya.

Gili Trawangan Lombok resto tepi pantai

Resto tepi pantai berdiri membentang jauh di sepanjang garis pantai di Gili Trawangan. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

“Kalau mau lihat apakah Gili Trawangan itu hidup atau tidak, datanglah nanti malam di pelataran pasar ini,” tantang Ahmad mencoba meyakinkan saya yang baru pertama kali menginjakkan kakiku di Gili Trawangan.

Meski wujud fisiknya hanya pelataran semata, namun lahan setengah lapangan bola ini dalam sekejap akan menjadi night market, demikian kata Ahmad. Pada malam hari, lapangan kecil ini akan menjadi wahana paling meriah dimana aneka night party digelar di sini.

Minum-minum sembari ngobrol ngalor-ngidul seakan tak ada habisnya bahan obrolan menjadi acara paling dinantikan oleh para turis asing. Demikian pengamatan Ahmad.

***

Atmosfir ‘bule’ di Gili Trawangan tidak hanya terjadi di barisan jalan yang memisahkan dua kawasan hunian dan kafe yang mengisi ruang-ruang public di sepanjang bibir pantai. Di gang-gang kecil dimana banyak berdiri spot hunian dalam bentuk homestay atau motel, suasananya sama saja.

Gili Trawangan Lombok aneka menu

Aneka menu makan-minum tersaji hampir 24 jam di Gili Trawangan. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Pagi hari, gang-gang itu serasa sepi tiada orang. Namun, ketika beranjak siang, maka seperti laron berterbangan mencari cahaya usai datangnya hujan, maka gang-gang sempit yang lebarnya hanya sepanjang cikar atau motor ini pun akan kelihatan lebih ‘menggairahkan’ karena ‘laron-laron’ bule itu sudah keluar dari ‘persembunyiannya’.

Kata Ahmad, chef sekaligus penjaga gawang kafe di ujung lapangan—mereka sudah semalaman hang-out di pasar, waktunya tidur menjadi lebih panjang. “Menjelang siang hari, barulah mereka bangun, keluar rumah dan mencari tempat untuk breakfast sekaligus lunch,” terang Ahmad.

Ketika Legian dan Jimbaran di Pulau Bali sudah sedemikian crowded-nya oleh para pelancong, maka Pulau Lombok menjadi destinasi utama mereka setelah atau sebelum ke Bali. Apalagi, Gili Trawangan juga menawarkan hal-hal nyaris sama seperti di Legian: pasir putih, hunian dari kelas bintang sampai kelas ‘embek’, makan-minum berlimpah dengan menu Barat, Chinese atau lokal.

Gili Trawangan Lombok resto daftar menu

A votre service mes amies. Demikian kurang lebih semangat Gili Trawangan menyambut hangat para turis asing dan domestik dengan aneka menu makan-minum. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Gili Trawangan Lombok turis menggendong teman

Kemeriahan Gili Trawangan di Lombok Barat ikut tampak dalam kemeriahan seorang turis asing yang dengan nada canda menggendong temannya menyusuri jalan. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Kemeriahan Gili Trawangan di kawasan wisata Lombok Barat sekarang sudah menandingi Senggigi yang sudah ngetop duluan sejak dua decade terakhir ini. Untuk mereka yang tidak terlalu suka dengan kemeriahan di Gili Trawangan, maka Gili Meno dan Gili Air menjadi pilihan paling siip untuk keperluan wisata diving dan snorkeling.

Apa pun yang terjadi, Gili Trawangan tetaplah menjadi magnet wisata bagi semua orang; tak terkecuali wisatawan domestik dan apalagi turis asing.

tiga gili di lombok by wisata lombok

Tiga “gili” di kawasan wisata Lombok Barat yakni Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. (Courtesy of Wisata Lombok)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.