What is Faith? (3)

(sambungan)

Suatu hari datanglah perintah Tuhan agar ia mengorbankan anak yang dijanjikan Tuhan sebelumnya itu sebagai korban persembahan. Jika ini kita alami, bagaimana reaksi kita? Kita mungkin akan mengamuk dan menuduh Tuhan mempermainkan kita sesuka hatinya dengan sangat kejam. Sudah dikasih, kok malah harus dibunuh? Maksud Tuhan apa sih? Kita mungkin berpikir seperti itu. Tapi Abraham tidak bersikap begitu. Penulis Ibrani menuliskan jelas alasannya. “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.” (ay 17-19).

Abraham tahu bahwa Tuhan tidak terbatas kuasaNya, dan ia tahu persis bahwa Tuhan bukanlah sosok kejam dan bermaksud jahat. Semua itu pasti ada alasannya, dimana rancangan Tuhan itu akan selalu baik pada waktunya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk taat. Dan kitapun tahu apa yang terjadi selanjutnya. Penulis Ibrani dengan jelas mengatakan bahwa itu “karena iman.” Abraham mampu karena berpedoman pada iman yang memberi bukti akan sesuatu yang belum ia ketahui. Meski ia belum melihat langsung, ia sudah mendapat segala bukti terhadap apa yang belum ia lihat lewat imannya. Dia bisa memiliki visi yang jelas di masa depan karena ia percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan, dan ia memiliki bukti nyata karena ia memandang dengan iman. Betapa luar biasa besar iman Abraham. Tidaklah mengherankan apabila gelar bapa orang beriman disematkan kepadanya.

Iman seringkali mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, tetapi benar tidaknya atau besar kecilnya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau bagaimana cara kita memandang masa depan yang penuh ketidakpastian. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita hari ini. Sebab iman adalah dasar dan bukti dari bagaimana kita memandang masa depan, yang tidak atau belum kita lihat.

Sebagai manusia kita memang terbatas kemampuannya. Tetapi jangan lupa bahwa kita punya Allah yang tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi oleh apapun. Aplikasi dan implikasi iman sesungguhnya sangatlah luas. Iman mampu menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti kuat dari apapun yang belum kita lihat. Yesus berkata “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22). Kuncinya hanya satu: percaya. Dan percaya akan hadir lewat iman.

Jangan lupa karena iman dalam Kristus pula kita dibenarkan, sehingga kita bisa hidup tenang dalam damai sejahtera. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Roma 5:1-2). Kita memang tidak tahu apa yang bisa terjadi di depan sana. Hidup memang tidak mudah. Tetapi maukah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu berada bersama kita dan melindungi kita? Bisakah kita memiliki visi seperti Abraham yang bisa melihat janji Tuhan dinyatakan jauh sebelum itu terjadi? Iman menjadi dasar dan bukti untuk itu. Kalau begitu, sudahkah kita memiliki kacamata iman? Bagaimana kita hidup akan sangat ditentukan oleh iman seperti apa yang ada pada kita saat ini. Your faith determines your future.

Faith is belief in what you cannot see or prove or touch. Faith is walking face first and full speed into the dark.” – Elizabeth Gilbert (penulis)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.