What is Faith? (2)

(sambungan)

Abraham dikenal luas sebagai bapa orang beriman. Berlebihan? Tentu tidak, karena lewat kesaksian hidupnya ada beberapa kali kejadian yang membuktikan bagaimana hebatnya ia mempergunakan iman dalam menanti penggenapan janji Tuhan, meski situasi aktual ketika itu sama sekali tidak mendukung. Kitab Ibrani menuliskannya dengan jelas. Pertama: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8).

Bayangkan apabila anda berada di posisi Abraham, maukah kita pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, di saat hidup sedang baik-baik saja? Meninggalkan sesuatu yang jelas, mapan menuju kepada sebuah tempat asing yang tidak jelas? Pada saat itu Abraham tentu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Tapi lihatlah bahwa ia taat mengikuti perintah Tuhan dan berangkat sesuai dengan perintah Tuhan. Itu ia lakukan karena ia memandang dengan kacamata iman. Meski tidak ada yang pasti, dan pada saat itu ia belum mendapat penjelasan apa-apa mengenai tujuan Tuhan, kenyataannya ia tetap pergi dan berdiam di tanah asing yang dijanjikan Tuhan kepadanya. (ay 9).

Kalau iman merupakan dasar dari yang diharapkan dan bukti dari apa yang tidak atau belum kita lihat, apa yang mendasari iman Abraham tersebut? Apa visi yang ia lihat lewat imannya? Adakah Alkitab menuliskan hal itu? Ya, ada. Demikian ayatnya: “Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” (ay 10). Abraham ternyata memiliki visi tentang masa depan, sesuatu yang belum ia lihat secara nyata, namun ia memiliki buktinya yaitu lewat iman. Orang lain mungkin tidak melihat hal tersebut, tapi Abraham mampu melihatnya dengan kacamata imannya.

Kisah di atas barulah ujian pertama iman Abraham. Selanjutnya Abraham diuji keteguhan imannya lewat janji untuk memiliki keturunan di usia yang sebenarnya sudah tidak lagi memungkinkan. Ibrani pasal 11 kembali melanjutkan cerita Abraham ini. “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” (ay 11). Pada saat itu Abraham dan Sara adalah pasangan usia senja yang sudah sangat tua. Kakek dan nenek diberi janji keturunan? Itu tidak masuk akal. Tetapi mereka bisa memegang janji Tuhan yang mungkin terdengar sangat aneh atau bahkan mustahil tersebut.

Kalau punya momongan saja sudah tidak masuk akal, Tuhan malah menjanjikan keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di laut. Bagaimana reaksi kita kalau kita jadi Abraham? Kita mungkin akan tertawa ketika memperoleh janji yang bunyinya seperti itu, tetapi Abraham menerima janji itu sebagai sebuah kebenaran dan memegangnya teguh. Yang lebih berat, pembuktian janji itu ternyata tidak langsung datang seketika. Ternyata janji itu masih membutuhkan bertahun-tahun setelahnya untuk digenapi. Dan kita tahu janji Tuhan itu pada akhirnya nyata terbukti. Abraham sudah mengetahuinya terlebih dahulu meski belum melihatnya, dan kembali itu karena kacamata iman yang ia pakai.

Ujian imannya tidak berhenti disitu tapi justru semakin berat pada saat Ishak sudah lahir.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.