What a Friend We Have in Jesus (2)

(sambungan)

Betapa banyaknya manfaat, keuntungan dan keistimewaan yang bisa kita peroleh dari sebuah ikatan persahabatan. Kalau membangun persahabatan dengan sesama manusia saja sudah mendatangkan banyak keuntungan, apalagi sebuah persahabatan yang terjalin antara kita dengan Yesus. Keistimewaan sampai sejauh mana yang bisa kita peroleh? Lihat apa kata Yesus berikut: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (ay 15). Kita mengetahui segala sesuatu rahasia Kerajaan Allah, isi hati Tuhan, dan itu disampaikan langsung oleh Yesus dalam posisi sebagai antar sahabat. Bukankah itu merupakan sebuah keistimewaan yang luar biasa besar? Sebagai manusia kita menghargai status dari sahabat dan nyaman untuk terbuka, bahkan untuk hal-hal yang sangat pribadi sekalipun. Ternyata Tuhan pun demikian.

Yesus mengatakan bahwa Dia akan memberitahukan segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa, dan ini pun sejalan dengan apa yang sudah dikatakan jauh sebelumnya yaitu dalam kitab Mazmur. “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Tidak ada rahasia di antara sahabat. Kita akan dengan nyaman membuka segala rahasia kita kepada orang yang sudah kita anggap sebagai sahabat kita, dan begitu pula dengan Tuhan. Firman Tuhan berkata Takut akan Tuhan juga berarti menghormatiNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya. Menjadi sahabat Tuhan akan membuat kita mendapat penyingkapan berbagai rahasia surgawi, mengetahui isi hati Tuhan dan mendengar apa yang menjadi rencana-rencanaNya. Tuhan sudah mengulurkan tangan untuk menjalin persahabatan dengan kita.

Apa yang diberikan Kristus sebagai seorang sahabat sesuai dengan deskripsiNya sendiri mengenai hakekat persahabatan yang sejati. Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Kita dituntut pula untuk bisa sampai kepada tingkatan seperti ini, karena kita telah membaca pada ayat sebelumnya bahwa kita diperintahkan untuk bisa mengasihi orang lain seperti Yesus sendiri telah mengasihi kita. Tapi lihatlah bahwa perintah ini bukan hanya diberikan secara sepihak kepada kita. Yesus sendiri telah menjadi teladan sempurna mengenai hal ini dengan karya penebusanNya di atas kayu salib, membayar lunas segala dosa yang merintangi jalan kita untuk menerima keselamatan dengan mengorbankan diriNya sendiri. Itulah bentuk persahabatan yang kita peroleh dari Yesus, sebuah bentuk persahabatan sejati yang penuh kasih setia.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Artinya jelas, seorang sahabat akan merasa gelisah apabila ia tidak mampu menyatakan perhatiannya dan bantuannya apabila sahabatnya tengah menghadapi masalah. Bayangkan jika kita mendapatkan perhatian seperti ini langsung dari Tuhan. Dan Tuhan sudah mengulurkan tanganNya untuk bersahabat dengan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menyambut uluran tanganNya atau memilih untuk menepis kehormatan besar yang teramat istimewa ini? Semua tergantung keputusan kita.

Yang pasti, Tuhan rindu untuk menjadi sahabat sejati kita jika kita mau menerima tawaran ini dengan sukacita dan tentunya dengan serius. Apabila kita mengasihi Tuhan selayaknya seorang sahabat, menjaga untuk tidak menyakiti atau mengecewakan perasaan Tuhan, tetap dekat dan melakukan segala perintahNya dengan taat, maka Tuhan akan meletakkan kita di deretan sahabat-sahabatNya yang terdekat. Siapkah kita untuk menjadi sahabat Tuhan?

What a friend we have in Jesus 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.