Warung Panjat

Warung makan di Pacitan ok

TEMAN, di kantor saya ada tempat favorit untuk kumpul-kumpul di pagi hari sebelum bekerja. Sebenarnya bukan tempat yang mewah yang ber-AC, melainkan hanyalah pojokan kantin tempat kami biasa sarapan bersama. Biasanya sambil makan kami bercerita ngalor ngidul sambil bagi-bagi lauk dan sayur.

Kalau lupa bawa bekal, jangan kuatir kelaparan karena pasti banyak teman yang bersedia membagi makanannya, entah itu sepotong pisang goreng atau segelas teh manis hangat. Atau untuk teman yang ingin praktis, di situ ada warung tegal (di balik tembok kantor) yang menyediakan macam-macam masakan sesuai lidah dan kantong.

Cara membelinya cukup unik yakni tinggal berteriak saja kepada Ibu pemilik warteg dan ibu itu akan mengantar pesanan kita lewat atas tembok. Kami biasa menyebut warteg ini warung panjat karena dulu ada semacam tangga kecil yang memudahkan kita naik dan bertransaksi dengan pemilik warung.

Hampir semua karyawan di kantor saya suka sekali makan di warung panjat, termasuk yang bule-bule. Sehingga kalau warung panjat tutup kami bisa seperti anak ayam kehilangan semangat hidup. Seolah-olah warung panjat itu satu-satunya pemompa spirit hidup kami….(hadeehh..…lebay!).

Saya sendiri tidak pernah absen ke sana. Bukan hanya karena merasa cocok dengan masakan Ibu warung panjat, tetapi terlebih tempat itu menjadi tempat melepaskan kepenatan dan kejenuhan bekerja. Apalagi kalau bertemu teman “senasib” yang juga sedang duduk-duduk di pojokan kantin, wah…bisa curcol sejenak sambil menikmati masakan favorit dan setelah itu mendapat energi baru untuk melanjutkan kerja.

Warung panjat itu pun jadi saksi saat seorang mengalami kegembiraan dan keberhasilan, saat kecewa dan sedih, saat jenuh luar biasa, saat marah karena tak mampu membela diri, saat disalahkan, dan segudang momen lain yang tak dapat disebutkan satu persatu.

Suatu pagi beberapa waktu lalu, saya duduk makan di pojokan kantin sambil memesan nasi, ikan goreng dan sayur plus sambal dari warung panjat. Ini hari terakhir kantor buka, karena mulai besok karyawan akan libur selama kurang lebih tiga pekan lamannya. Kalau karyawan libur, otomatis warung panjat juga tutup dan pojokan kantin itu menjadi sunyi senyap tanpa gelak tawa seperti biasa.

Membayangkannya saja saya sudah merasa lemas terlebih dahulu. Yaahh…. kapan lagi makan di warung panjat?

Bagi saya sebenarnya bukan tempatnya atau makanannya yang memberi saya tambahan energi melainkan suasana keakraban dan kebersamaan di sana. Saya ingat sudah berapa kali saja pihak kantor ingin menutup warung panjat dan melarang karyawan memesan makanan di sana. Sampai-sampai dipasang kamera CCTV di sebelah atas-entah untuk memantau apa. Tetapi tetap saja orang-orang yang berkumpul di tempat itu tidak berkurang melainkan bertambah.

Bahkan tak jarang karyawan dari divisi lain juga muncul untuk memesan makanan di warung panjat.

Saya merasa beruntung posisi warung panjat itu ada di pojokan kantin kantor kami, sehingga tidak perlu repot jauh-jauh meninggalkan kantor untuk makan.

Teman saya yang tidak pernah nongkrong di sana mengatakan begini,”Wah, ngapain aja sih, loe makan di sana? Enakan delivery order aja, bersih dan banyak pilihan”.

Hhmm…… omongan teman saya yang nyinyir itu tidak saya hiraukan sebab percuma berdebat dengan orang yang tidak pernah mengalami hal yang sama tetapi ngotot dirinya benar. Meski suatu hari saya diam-diam memergoki dia menyuruh OB kantor untuk memesan makanan dari warung panjat. Haalaaahh!!

Entahlah….semakin warung ini hendak disisihkan dan dipisahkan dari kami, semakin kuat dorongan langkah untuk mengadakan rendez-vous di sana. Semakin warung panjat ini dihina dan dilecehkan, justru semakin eksis dia. Orang yang tidak bergabung di komunitas warung panjat pastilah sulit untuk merasakan aura kehangatan dan kemerdekaan yang bisa men-charge baterai baru.

Tentu saja baterai baru itu harus dibarengi niat dan semangat untuk bekerja lebih baik lagi. Tiga minggu liburan cukuplah untuk mensyukuri semua pengalaman suka duka yang diberikanNya untuk memperkokoh langkah kaki di masa depan. Cukuplah waktu rehat ini digunakan untuk membangun komitmen baru agar lebih teliti lagi, lebih rajin, lebih cermat, lebih jujur, lebih positive thinking lagi.

Persis seperti buku yang saya baca tentang personality seorang guru. Buku itu berjudul The Act of Teaching, karangan Donald R Cruickshank (1999) yang menuliskan The effective teachers are positive people. Kalau bukan dari sekarang membangun sikap positif, lalu mau kapan?

Wah….. saat menulis ini tiba-tiba saya teringat sesuatu. Sewaktu pulang kantor tadi saya belum pamitan kepada Ibu warung panjat. Kalau mau mulai bersikap positif harusnya saya bilang: “Buuu…., selamat libur yaaa, terimakasih sudah mengisi hari-hari saya dengan keceriaan khas warung panjat. Sampai ketemu lagi nanti. God bless you!” dan Ibu warung panjat pasti tersenyum dan bersyukur hidupnya sebagai penjual nasi ternyata berarti bagi orang lain.

Dengan demikian berarti saya sudah menularkan semangat positif kepada orang lain tetapi sayangnya…..tadi saya lupa pamitan, teman!

Keterangan foto: Papan nama sebuah warung kecil di pinggiran kota Pacitan, Jatim (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.