Warisan Berharga alm. Romo Frans Harjawijata OCSO: Brevir Berbahasa Indonesia

Paus Johannes Paulus, Paus Benedictus XVI dan para Frater CM tengah melakukan doa brevir bersama (Ilustrasi/Ist)

PEPATAH lama mengatakan “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”. Kali ini, gading indah dan warna belang nan eksotik itu telah ditinggalkan oleh alm. Romo Frans Harjawijata OCSO dalam bentuknya yang paling agung: Brevir berbahasa Indonesia.

Baca juga: 

Tidak banyak orang tahu  soal ini, sampai akhirnya YR Widadaprayitna, mantan mentor saya di Seminari Mertoyudan tahun 1978, membisikkan satu hal penting ini.

Buku Brevir

Brevir adalah buku tebal berisi doa-doa pujian harian yang senantiasa didaraskan oleh semua anggota tarekat religius –baik kategori Ordo maupun Kongregasi. Semua pastor, suster biarawati, rahib dan rubiah selalu menenteng buku tebal berisi kumpulan doa-doa harian yang biasa disebut brevir ini.

Buku ini memuat ribuan teks-teks doa, madah pujian, refren, dan masih banyak lagi yang lainnya. Brevir menjadi semacam ‘buku wajib” bagi sekalian suster, pastor, rahib, rubiah yang setiap hari wajib mendaraskan doa-doan harian ini. Maka brevir menjadi semacam manuale untuk berdoa bersama di komunitas-komunitas religius.

Dalam sebuah risalah, ditulis antara lain seperti ini:

Tradisi berabad-abad lamanya dalam Gereja Katolik Semesta mengenal apa itu Ibadat Harian atau biasa disebut dengan ‘ofisi’ atau ‘brevir’.Tiga istilah berbeda itu bermakna sama yakni kegiatan mendaras doa ini mengikuti irama waktu dalam sehari.Disebut “ibadat harian” karena doa ini mengikuti irama waktu dalam satu hari menjadi tujuh  kali jam berdoa/ibadat. Karenanya dalam istilah Latin dikenal dengan liturgia horarum (liturgi berdasarkan jam).Kata ‘ofisi’  berasal dari istilah Latin yakni Officium Divina yang berarti tugas ilahi.Disebut ofisi karena doa-doa ini harus didaraskan oleh semua anggota tarekat religius mana pun dalam komunitasnya masing-masing secara bersama. Hanya para Jesuit saja yang termasuk tarekat religius yang nyebal aturan alias keluar dari tatanan umum: tidak ada kewajiban bagi setiap Jesuit untuk mendaraskan Brevir dalam kebersamaan, namun boleh dilakukan secara mandiri dan pribadi demi ‘mobilitas’ karya.Istilah ‘brevir’ dalam bahasa Indonesia mengadopsi istilah sama dalam bahasa Latin yakni  breviarium yang artinya ikhtisar jam-jam kanonik.

Warisan  berharga

Yang tidak diketahui umum adalah fakta berikut ini.

Brevir berbahasa Indonesia yang kini menjadi buku manuale ibadat harian untuk para pastor, bruder, suster, rahib dan rubiah dari semua tarekat religius ini pada dasarnya merupakan warisan berharga peninggalan alm. Romo Frans Harjawijata OCSO.

Menurut YR Widadaprayitna, ketika semangat aggiornamento tengah bergelora menjadi denyut nadi seluruh komponen di Gereja Katolik Semesta sesuai nafas Konsili Vatikan II, maka Brevir dengan rumusan doa-doa berbahasa Latin dengan demikian harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal.

Nah, di Gereja Katolik Indonesia, tugas nan berat namun mulia ini konon jatuh ke pundak alm. Romo Frans Harjawijata OCSO. Harap tahu saja, para seminaris alumni Seminari Menengah Mertoyudan yang belajar selama kurun waktu tahun-tahun pra Konsili Vatikan II (1962-1965)  biasanya sangat mahir dan lancar membaca, menulis, dan –katanya lagi—malahan  juga berbicara dalam bahasa Latin.

Bahasa Latin kini sudah menjadi ‘bahasa mati’, sekalipun banyak kosa kata bahasa klasik yang menjadi  pondasi dasar bagi banyak bahasa di Eropa ini masih tak lengkang oleh waktu. Banyak kata bahasa Latin hingga kini masih dipakai sebagai istilah di dunia kedokteran, hokum, dan politik.

Bahasa Latin kini sudah menjadi ‘bahasa mati’. Namun,  banyak kosa kata bahasa klasik ini masih menjadi pondasi dasar bagi banyak bahasa di Eropa  seperti Italia, Jerman, Perancis, Spanyol, Portugis, dan juga Inggris. Banyak istilah dalam bahasa Latin hingga kini tak lengkang oleh waktu karena masih dipakai sebagai istilah di dunia kedokteran, hukum, dan politik.

Barangkali karena duduk di sebuah tim khusus di KWI atau tempat lain, maka tugas menerjemahkan teks-teks doa dan madah pujian berbahasa Latin dalam Brevir Latin menjadi Brevir Berbahasa Indonesia akhirnya diberikan kepada alm. Romo Frans Harjawijata OCSO.

“Brevir bahasa Indonesia lengkap dengan teks-teks doa dan madah pujian yang sangat puitis dengan khasanah bahasa sastra yang elok tersebut adalah warisan berharga peninggalan seorang sosok besar dalam Gereja Katolik Indonesia: alm. Romo Frans Harjawijata OCSO,” tulis YR Widadaprayitna kepada Sesawi.Net.

Megah sekaligus indah. Demikian satu kata kesimpulan YR Widadaprayitna.

Lagu-lagu gerejani Kyriale

Itu belum cukup. Kalau kita melongok buku panduan lagu gerejani, maka beberapa lagu bercorak Gregorian seperti Kyriale juga merupakan hasil komposisi dari seorang rahib Trappist bernama Romo Frans Harjawijata OCSO. Dalam buku Puji Syukur,misalnya, di situ ada corak lagu Bapa Kami versi Rawaseneng.

“Nah, lagu itu merupakan hasil komposisi alm. Romo Frans Harjawijata OCSO. Suara almarhum memang sangat bagus dengan kekuatan nafas sangat panjang,” kenang Dr. Winoto Doeriat, sesepuh Paguyuban Sesawi dan Pembina Yayasan Sesawi, yang masih terbilang kerabat dekat dengan alm. Romo Frans Harjawijata OCSO.

Menurut penuturan Winoto Doeriat, saat di Seminari Menengah Mertoyudan, alm. Romo Frans Harjawijata OCSO ada dalam satu barisan angkatan dengan pendiri dan pemimpin Kompas Jakob Oetama, pengusaha Kaptin Adisumarta. “Ketika di Seminari Mertoyudan dulu, saya pernah diajari berenang oleh alm. Romo Frans di Pemandian Umbangtirto di kompleks Stadion Kridasana Yogyakarta,”  kenang Winoto Doeriat.

“Kami berdua bersama pernah pergi ke Surabaya dan kemudian naik feri ke Pulau Madura. Saat itu, alm. Romo Frans ingin menjajal kebolehannya berenang menyeberangi Selat Madura. Namun keinginan itu tidak kesampaian, padahal semangat dan daya tahannya berenang itu sangat luar biasa,” tutur Winoto Doeriat.

Requiescat in pace.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.