Wajah, Mencari Makna Sebuah Peristiwa

wajah

BELUM lama ini (Kamis, 26 Juni 2014), saya mengunjungi Gua Pindul (cave tubbing) – daerah Bejiharjo –  Gunung Kidul – Yogyakarta. Dengan menggunakan ban  dan berpakaian pelampung serta dipandu oleh seorang  guide, kami melewati sungai di bawah gua yang memiliki tiga  zona (terang-samar-samar dan gelap abadi) sungguh menakjubkan. Yang lebih menakjubkan lagi adalah  bapak muda yang memandu kami. Dia berkata, “Dulu saya tidak bekerja dan wajah saya muram, tetapi sejak wisata Gua Pindul ini dikenal luas, wajah saya ceria dan berseri-seri, apalagi harus mendampingi para turis mancanegara dan domestik!” Kami semua mengiyakan, “Memang senyum dan tawa dapat mengubah wajah seseorang.”

Coba sekarang kita bayangkan, bagaimana orang yang tugas sehari-harinya adalah mengantar jenazah, seperti apa yang dikerjakan oleh David Copperfield semasa kecilnya. Setiap genta gereja berbunyi, ia harus mengenakan pakaian hitam, topi hitam mengiringi peti mati yang serba hitam. Atau dalam mitologi Yunani kita kenal dengan Dewa Hefaistos sebagai Dewa yang pincang dan bertugas di bengkel untuk membuat alat-alat perang. Ia dilukiskan sebagai dewa yang muram atau Dewa Atlas yang tugasnya hanya memanggul bumi dari kekal sampai kekal. Pekerjaan yang seperti itu tentu akan membuat wajahnya nampak tua dan lelah.

Dalam dunia pewayangan, ada tokoh yang bernama Dasamuka yang berarti sepuluh wajah. Sindhunata dalam bukunya yang berjudul,  “Anak Bajang Menggiring Angin” melukiskan jika Rahwana sedang murka, maka wajahnya berubah menjadi sepuluh. Wajah sepuluh itu menampilkan: watak-watak angkara mura dari manusia. Dalam Mahabaratha tulisan Walmiki, ada Baladewa yang memiliki wajah merah jika marah.  Kemudian Fauzi Rachman dalam bukunya yang berjudul  “Rahasia dan Makna Huruf  Hijaiyyah” melukiskan bahwa marah itu berasal dari api dan harus dipadamkan dengan air wudlu.

Kenyataan bahwa wajah dapat dilihat dari hati nyata dalam patung  Pieta yang adalah karya agung, masterpiece dari Michelangelo (1475 – 1564). Patung itu melukiskan tubuh Yesus yang baru saja diturunkan dari kayu salib “terkapar”  di pangkuan Bunda Maria. Ketika para pengunjung menyaksikan patung yang kesohor itu banyak kritik yang dilontarkan terhadap tampilnya Bunda Maria yang jauh lebih muda daripada puteranya sendiri. Jawab pemahat Renaissance yang terkenal itu adalah, “Jiwa yang suci,  benar dan indah tidak pernah menjadi tua dan wajahnya selalu cantik.”

Orang Jawa menyebut wajah itu pasuryan.  Pasuryan itu berasal dari bahasa Jawa (krama Inggil)  yang berarti raut atau air muka atau wajah. Keadaan wajah seseorang berkait dengan keadaan jiwa dan hatinya, bahkan ada yang mengatakan bahwa  pasuryan  adalah bayangan hati.  Lalu, “Bagaimana hal itu dapat kita pahami?”  Ketika Leonardo da Vinci (1452 – 1519)  hampir selesai melukis  Last  Supper, ia tidak menemukan model untuk Yudas. Berbulan-bulan, ia mencari-cari sang model di penjuru kota dan akhirnya menemukan seseorang yang memiliki wajah  sangar dan bermuram durja.  Sesampai di  studio, sang model berkata, “Da Vinci, apakah engkau lupa denganku?”  Model itu pun berkata, “Saya adalah orang yang dulu sebagai model Yesus. Kemudian saya hidup tidak teratur, mabuk-mabukan,  mengganggu masyarakat setempat dan kadang-kadang merampok serta mencuri.”

Ketika hidupnya baik, damai dan sejahtera wajah seseorang bisa jadi  klimis, bersih, cantik dan manis. Sebaliknya jika hidupnya  tidak baik, tidak teratur, tidak sejahtera – mungkin – wajahnya suram. Sekali lagi, “Mungkin!”

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.