Vonis Mati untuk Mantan Pastur karena Perbuatan Kriminal

< ![endif]-->

BERITA memprihatinkan hari-hari menjadi perbincangan hangat di kalangan internal maupun eksternal  Gereja Indonesia. Postingan ini sangat ramai hilir-mudik di milis-milik katolik; bukan hanya di antara awam, melainkan lebih-lebih juga di antara imam, frater, suster, dan para pemerhati praktik menjalani hidup religius sebagai imam/pastur, bruder, suster.

Pertanyaannya, kenapa Herman Jumat Masan –sang mantan pastur diosesan (praja) dari Keuskupan Larantuka di Flores (NTT) ini—sampai tega membunuh tiga orang yang tak lain istri dan kedua bayi mereka?

Kasusnya memang sangat kompleks. Begitu salah seorang teman mantan frater SVD dari Flores yang mengikuti perkembangan kasus Herman Jumat Masan ini sejak beberapa tahun silam.

10 tahun tak terendus

Sejak setahun lalu, kasus ini sudah ramai diperbicangkan di milis-milis katolik secara internal. Intinya, milis-milis ini menyebutkan bahwa sang pelaku benar-benar kalap hingga tega membunuh kekasihnya dan dua bayi hasil hubungan gelap mereka.

Menurut seorang teman mantan frater SVD (Serikat Sabda Allah) kelahiran Flores, NTT, peristiwa hubungan gelap itu terjadi di Kabupaten Sikka, NTT, kurun waktu tahun 1997-an.

Waktu itu, sebagai imam/pastur muda dari Keuskupan Larantuka, Herman Jumat Masan mendapat tugas pastoral sebagai pembimbing rohani untuk para frater diosesan lintas keuskupan di Seminari Lela.

Seminari Lela adalah seminari khusus bagi para calon frater diosesan (praja) dari beberapa keuskupan di NTT dan proses penggemblengan mental dan rohani itu dipusatkan di Seminari Lela yang secara territorial berada di wilayah Keuskupan Maumere, juga di Flores, NTT.

Mary Grace –demikian teman-teman sesama alumni di STFK Ledalero biasa memanggilnya—adalah alumni perguruan tinggi khusus untuk para calon imam ini. Almarhum belajar selama 4 tahun di sini.

Usai resmi meninggalkan biara sebagai suster biarawati SsPS, Mary Grace pada awal merintis karir dengan bekerja pada sebuah yayasan yang  bergerak di bidang kesehatan di Larantuka pimpinan Romo Frans Amanue Pr. Desember 2001 Mary Grace berhenti bekerja pada yayasan itu dan kemudian pindah bekerja sebagai tenaga non medik menjadi penyuluh rohani untuk para pasien di sebuah RS di Lela.

Jatuh hati

Dalam perkembangan waktu, akhirnya sekali waktu Herman Jumat Masa berkenalan dengan Mary Grace, seorang mantan biarawati yang sudah resmi keluar meninggalkan busana biarawatinya tahun 1997 dan kemudian bekerja di sebuah RS di Lela. Perkenalan itu pun lantas berbuah hubungan cinta antara sang pastur dengan mantan suster biarawati yang punya nama asli lengkap Yosephine Karedok Payong.

Mary Grace alias Yosephine Karedok Payong berasal dari Adonara, juga di Flores (NTT). Begitu pula Herman Jumat Masan juga berasal dari daerah yang sama yakni Kecamatan Ile Boleng, Adonara, Flores Timur.

“Dia mantan suster biarawati dari Kongregasi SSpS. Orangnya ramah, cantik dan pintar,” kata seorang teman jurnalis kelahiran Flores.

“Dulu, namanya  Suster Mary Grace SSpS. Almarhumah itu teman sekolah saya waktu sama-sama di Seminari Tinggi Ledalero.  Pembawaannya baik dan pintar bergaul dengan siapa saja,” tandas wartawan cetak ini.

Hubungan cinta terlarang itu antara (Pastur) Herman Jumat Masan dengan mantan Suster Mary Grace itu  pun akhirnya membuahkan benih kehidupan sungguhan. Setelah diketahui hamil, akhirnya pada tahun 1998 di bulan Juni, Mary Grace diketahui berhasil melahirkan bayi, hasil pacarannya dengan sang pastur.

Herman Jumat Masan menjadi pembimbing di Seminari Tahun Rohani untuk para frater diosesan (praja) di Lela kurun waktu tahun 1997-2006.

Aneh pula di telinga para pemerhati Gereja, ketika disebutkan persalinan itu terjadi di kamar sang pastur di Seminari Lela. Lantaran ketakutan akan hubungan gelap yang membuahkan janin itu, maka orok itu pun konon disekap mulutnya hingga kehabisan nafas dan meninggal dunia.

Lagi-lagi, keheranan besar terjadi: bayi yang sangat muda itu lalu dikuburkan sebuah pertamanan bunga di  depan kamar pribadi sang pastur yang berada di Kompleks Seminari Tahun Rohani di Lela, Kabupaten Sikka.

Seiring dengan berjalannya waktu, Herman tetap menjalin cinta dengan Mary Grace alias Yosephine Karedok Payong hingga beberapa tahun kemudian lahirlah anak kedua hasil hubungan cinta mereka. Lagi-lagi, bayi yang baru seumur jagung itu ‘dibiarkan’ mati dan kemudian dikuburkan lagi di depan kamar pribadinya sang pastur.

Karena mengalami pendarahan sangat hebat ketika melakukan partus (persalinan), Grace akhirnya juga meninggal dunia dan lagi-lagi dikuburkan di depan kamar sang pastur.

Terbongkar Januari 2013

Kasus hubungan gelap antara seorang pastur dengan mantan suster biarawati itu mengemuka, setelah sang pastur berhasil menjalin cintanya dengan seorang perempuan lain –keturunan Tionghoa— dari Maumere. Konon, namanya Sofie.

Kecurigaan Sofie atas ‘perilaku’ yang tidak biasa pada kekasihnya –Herman Jumat Masan—yang sudah resmi meninggalkan jubahnya sebagai imam terjadi karena seringkali menyebut nama Mary Grace. Kadang, dia juga melakukan ‘nyekar’ menuju gundukan tanah dan kemudian memberi bunga di atas gundukan tanah itu.

Sementara itu, keluarga besar Mary Grace alias Yosephine Karedok Payong pun juga tiada henti mencari keberadaan anggota keluarganya yang dilaporkan ‘hilang’.

Ketika kasus ini mulai merebak, Herman Jumat Masan telah resmi meninggalkan jubahnya sebagai imam diosesan untuk Keuskupan Larantuka dan kemudian diketahui bekerja di perkebunan sawit di pedalaman Kalimantan Barat.

Kabar-kabur tentang hubungan asmara antara Herman Jumat Masan dengan Mary Grace dengan membawa dua orang anak namun sudah meninggal dan dikuburkan di sebuah tempat itu pun akhirnya sampai ke telinga Pastur Peter Payong SVD yang kebetulan masih ada hubungan kekerabatan dengan almarhuman Mary Grace. Sepulang dari Filipina sebagai angkatan misionaris pertama SVD dan alumnus Seminari Tinggi Ledalero, dia berinisiatif menelisik sas-sus ini.

Setelah mengantongi izin dari Polres Maumere, akhirnya pada awal tahun 2013 dilakukanlah uji forensic dengan cara membongkar lokasi kuburan di taman bunga di Kompleks Seminari Tahun Rohani di Lela. Di situ ditemukan tiga kerangka manusia: satu dewasa, dan 2 bayi. Uji forensik meyakinkan bahwa kerangka orang dewasa itu adalah Mary Grace karena ‘bukti’ forensic berupa cincin hadiah adiknya dan kawat gigi yang pernah dia pasang oleh seorang teman suster biarawati SSpS. Tes DNA memperkuat bukti forensic.

Semua kerangka sudah dimakamkan secara terhormat di Kecamatan Ile Boleng, Adonara, Flores Timur. Sementara, Herman Jumat Masan yang diketahui bekerja di Kalbar sudah datang ke Maumere dan mengakui semua perbuatannya.

Dituntut hukuman mati

Sidang pengadilan yang digelar di Maumere, Flores, NTT merekam tuntutan jaksa yang menghendaki hukuman mati untuk terdakwa Herman Jumat Masan. Tanggal 19 Agustus 2013, Pengadilan Negeri Maumere menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk terpidana. Pengadilan Tinggi NTT memperkuat putusan ini hingga kemudian muncul breaking news beberapa hari lalu, Mahkamah Agung RI ‘memperkuat’ vonis itu dengan hukuman maksimal yakni hukuman mati.

Sekarang muncul perbicangan hangat.  Ketika dihukum penjara seumur hidup dan kemudian dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI, status terpidana Herman Masan Jumat sudah awam atau masih pastur kah?

Judul sebuah berita di media online yang menyebutkan terpidana (masih) pastor dianggap kurang pas. Ini karena secara legal formal, yang bersangkutan sudah tidak lagi menjadi pastur/imam. Lebih tepat menyebut Herman Jumat Masan sebagai mantan pastur/imam.

Sources:  Diolah dari berbagai sumber tertulis dan narasi orang.

Photo credit: Ilustrasi (Courtesy of Liputan.com)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.