Vindicate Me, O Lord..

Ayat bacaan: Mazmur 26:1
=======================
“VINDICATE ME, O Lord..”

selidiki aku

Beberapa minggu yang lalu tetangga saya membatalkan secara sepihak perjanjiannya dengan seorang tukang yang seharusnya merenovasi rumahnya. Ia merasa biaya yang dibebankan terlalu mahal, sehingga ia memutuskan untuk memakai tukang yang lain saja. Ternyata tukang itu sudah terlanjur membeli bahan-bahan, dan karenanya ia pun mengalami kerugian yang tidak sedikit. Si tukang yang juga mengenal saya menceritakan itu semua dan menyatakan bahwa ia merasa sangat kesal karena seperti dipermainkan. “Bayangkan, pembatalannya hanya beberapa jam sebelum waktu yang kita sepakati bagi saya untuk datang bekerja kesana.” gerutunya. “Setidaknya tanggung dong bahan-bahan yang sudah saya beli, ini sudah tidak jadi, malah saya rugi sebesar ini..” tambah si tukang itu. Dan saking kecewanya, si tukang pun mengaku malas melewati rumah di depan saya karena tidak mau melihat tetangga saya. Perselisihan seperti ini sering terjadi dan biasanya timbul karena kedua pihak merasa benar. Dengan komunikasi baik-baik seharusnya bisa diselesaikan, tapi alangkah sulitnya untuk membuang ego ketika kita sedang berselisih atau beradu argumen dengan seseorang. Sehingga baik sadar atau tidak, kita bisa meninggalkan luka di hati orang lain karenanya.

Saya ingin menyambung sedikit menambahi renungan kemarin yang mengingatkan kita mengenai pentingnya memiliki hati yang bersih sebelum kita mendatangi Allah membawa doa-doa kita. Seharusnya kita membereskan terlebih dahulu hal-hal yang masih mengganjal, mungkin dendam, amarah atau sebagainya yang bisa mengotori hati kita, karena itu bisa membuat doa-doa kita tidak ditanggapi oleh Tuhan. Kita harus membereskan terlebih dahulu:
Niat jahat yang masih ada di hati kita. “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18)
Dosa-dosa yang belum dibereskan. “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2)
Hati yang masih dipenuhi keinginan-keinginan untuk memuaskan hawa nafsu. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3)
Ganjalan/perselisihan dengan orang lain. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Matius 5:23-24)

Masalahnya terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan dan ucapkan ternyata menorehkan luka di hati seseorang, bahkan bisa sampai menimbulkan kepahitan bagi mereka dan sulit sembuh untuk waktu yang lama. Ketika Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kita seharusnya membereskan terlebih dahulu permasalahan dengan seseorang, dan ketika orang memiliki ganjalan tentang kita dalam hatinya, jelas hal itu merupakan sesuatu yang penting. Hanya saja ego kita sering menjadi penghalang, atau kita seringkali tidak sadar telah melukai perasaan orang lain lewat perbuatan dan perkataan kita.

Daud menyadari hal itu. Itulah sebabnya ia mengatakan “VINDICATE ME, O Lord..” (Mazmur 26:1). Vindicate me, bebaskan aku dari tuduhan, kesalahan, kecurigaan atau keraguan. Selidiki aku, itu kata Daud. Ada kalanya kita tidak menyadari telah melukai perasaan orang lain, atau mungkin kita sudah lupa, padahal buat mereka itu masih berbekas dan terasa sangat menyakitkan. Daud kemudian berseru pula: “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” (ay 2). Lewat rangkaian seruan Daud ini kita bisa belajar bahwa kita bisa meminta Tuhan untuk memeriksa diri kita, hati dan pikiran kita, apakah kita sudah benar-benar membereskan segala sesuatu atau tidak. Pada bagian lain kembali kita dapati seruan yang sama. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (139:23-24). Daud tahu bahwa ada banyak hal yang masih harus dibereskan terlebih dahulu sebelum ia mampu berhubungan dengan Tuhan. Membawa hati yang masih kotor untuk menjumpai Tuhan di tahtaNya yang kudus dan suci tentu tidaklah layak. Dan karena itulah kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa hati kita sudah benar-benar bersih, tidak lagi punya masalah dengan orang lain dan sebagainya, sebelum kita berharap bahwa Tuhan mau mendengar doa kita.

Lingkungan yang terdekat adalah keluarga kita. Dan tanpa sadar, disana pula kita sering menorehkan luka. Apa yang kita ucapkan ketika sedang emosi kepada pasangan kita, baik istri kepada suami maupun suami kepada istri, atau orang tua kepada anak, dan sebaliknya anak kepada orang tua, bisa menyinggung atau melukai perasaan mereka. Mungkin kita sudah lupa, tapi tanpa sadar luka yang kita timbulkan lewat perkataan itu telah terlanjur menorehkan luka yang cukup dalam di hati mereka. Ada banyak keluarga yang akhirnya berantakan, masa depan anak menjadi hancur karena ada sesuatu yang pahit timbul di dalam hubungan antar keluarga ini. Para suami, para ayah, yang biasanya kelelahan dalam bekerja sering mudah emosi di rumah dan begitu gampang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan perlakuan tidak pantas kepada istri atau anaknya. Petrus pun mengingatkan: “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. (1 Petrus 3:7). Sebagai seorang suami, saya pun tidak terlepas dari kesalahan seperti ini. Ada kalanya ketika emosi saya mungkin mengeluarkan kata-kata yang tidak baik. Sesuatu yang berlebihan, yang keluar hanya karena emosi semata, namun tak pelak hal itu bisa menyakiti perasaan dan meruntuhkan mental istri saya. Karenanya dalam waktu-waktu tertentu saya secara rutin menanyakan sekiranya ada sesuatu yang pernah saya perbuat atau katakan yang menyakiti istri saya, dan jika ada, saya akan segera minta maaf kepadanya. Ganjalan seperti ini selain bisa menghalangi doa, tapi juga berpotensi menimbulkan masalah di waktu yang akan datang. Dan saya sadar apapun itu harus dibereskan sesegera mungkin.

Sudahkah anda memastikan bahwa anda tidak meninggalkan luka di hati seseorang, baik itu pasangan anda, anak, teman, orang tua dan sebagainya? Sekiranya anda tidak yakin, mintalah Tuhan untuk memeriksanya. Sebab Tuhan berkata “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin..” (Yeremia 17:10). Daud memiliki kerinduan seperti itu, ia rindu untuk memastikan bahwa ia tidak meninggalkan bercak noda dalam hatinya yang akan merintangi kedekatannya dengan Tuhan. Ia pun berseru: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12). Kita bisa berdoa memohon hal yang sama kepada Allah. Dia akan senantiasa siap memperbaharui kita, tapi jangan lupa bahwa kita pun harus segera membereskan masalah apapun yang pernah timbul dengan sesama kita.

Menjaga hati agar tetap bersih itu penting, karena itulah sumber kehidupan yang akan sangat menentukan jalan hidup kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Mari kita sama-sama memastikan hati kita hari ini agar tetap bersih. Mintalah Tuhan untuk memeriksa apakah kita sudah membereskan semuanya atau belum, dan selesaikanlah secepatnya apapun yang masih menjadi penghalang bagi kita untuk mendatangi tahtaNya. Vindicate us, O Lord.

Hati yang bersih mutlak diperlukan agar doa-doa kita tidak terhalang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: