Uskup Purwokerto Sambut 50 Tahun Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur (1)

50 Tahun Paroki Santo Yoseph Purwokerto: 19 Maret 1964- 2014

SAUDARA-saudari terkasih, umat paroki Santo Yoseph Purwokerto,

Pertama-tama saya ucapkan profisiat atas usia 50 tahun paroki Anda tercinta ini. Usia 50 tahun dalam perjalanan hidup seseorang adalah masa ketika seseorang mulai menep (mengendap). Saya katakan menep, karena pada usia 50 tahun seseorang tertata dan terolah dengan baik gejolak-gejolak yang berhubungan dengan perasaan dan hasrat badani mulai berkurang dan hidup menjadi lebih tenang.

Saya berharap bahwa hidup menggereja Umat Paroki Santo Yoseph pun sudah memasuki tahapan menep seperti saya sebutkan di atas sehingga dengan hidup menggereja yang lebih menep Gereja Paroki Santo Yosep dapat sungguh menjadi tanda kehadiran dan berkat Allah bagi banyak orang.

Orang yang sudah menep dalam menghadapi dan memutuskan suatu hal pertimbangannya bukan senang – tidak senang, enak – tidak enak, tetapi pertimbangannya adalah baik – tidak baik, perlu – tidak perlu, berguna – tidak berguna. Ini juga merupakan salah satu tanda untuk menyebut bahwa seseorang dapat dikatakan dewasa.

Oleh karena itu, kiranya tema yang diangkat dalam perayaan 50 tahun ini, yakni “Berjalan Bersama Menuju Gereja Yang Hidup dan Dewasa” menunjukkan hidup menggereja yang menep tersebut. Tanda ke-menep-an itu juga dapat dijumpai dalam diri Santo Yoseph yang menjadi pelindung paroki ini.

Disebutkan dalam Injil bahwa Santo Yoseph mempunyai kebiasaan untuk “mempertimbangkan” (Mat 1:20) keputusan dan tindakannya. Kebiasaan untuk weweka (mempertimbangkan keputusan dan tindakan) itu juga berarti memberi kesempatan kepada Allah untuk ikut ambil bagian dalam keputusan dan tindakan kita. Sehingga tidak mengherankan bahwa Allah, melalui malaikatnya sering menjumpai Santo Yoseph dalam mimpinya (bdk. Mat 1:20; 2:13, 19).

Mgr Sunarka SJ 2

Uskup Diosis Purwokerto (Jateng) Mgr. Julianus Sunarka SJ. (Ist)

Mudah-mudahan kebiasaan Santo Yoseph ini juga menjadi kebiasaan seluruh umat paroki yang berlindung pada nama santo Yoseph ini.

Saudara-saudari terkasih,
50 tahun yang lalu ketika Mgr. W. Schoemaker, MSC memutuskan untuk mendirikan paroki baru di Purwokerto sebelah timur ini salah satu pertimbangannya adalah di tempat tersebut banyak pertokoan milik orang Tionghoa, dan banyak di antara mereka yang menjadi katolik (90% umat bakal paroki St. Yosep waktu itu adalah Tionghoa).

Bagaimana pun ini menuntut pelayanan secara khusus yang berbeda dengan paroki yang sudah ada pada waktu itu. Mgr. Schoemaker telah mengambil langkah yang strategis yakni bagaimana agar sudara-saudariku yang pekerjaannya berdagang ini terdampingi dengan baik, sehingga sungguh-sungguh menjadi seorang pedagang yang katolik dan dapat menjadi saksi Kristus serta pewarta Injil lewat hidupnya sebagai seorang pedang.

Semangat dasar inilah yang kiranya harus terus dikembangkan di Paroki Santo Yosep ini sehingga pedagang pun dapat merasul lewat cara berdagangnya. Lewat berdagang umat mempunyai kesempatan untuk berjumpa dengan banyak orang dari berbagai agama. Karena itu, karya dunia dagang ini adalah karya yang mempunyai daya sentuh ke masyarakat luas.

Kalau umat katolik yang pekerjaannya adalah berdagang ini sungguh-sungguh dapat memainkan peranannya sebagai pedagang katolik yang baik, ini menjadi kesaksian akan kehadiran Kristus bagi masyarakat luas. Ini sungguh menjadi kekuatan yang luar biasa bagi paroki santo Yosep ini.

Purwokerto Timur Gereja St Yoseph 2 fasade

Pesta Emas 50 Tahun: Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur baru saja merayakan Yubelium Pesta 50 Tahun dalam sebuah misa mirunggan bersama Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ dan Uskup Diosis Manado Mgr. Yos Suwatan MSC. (Ist)

Saudara-saudariku terkasih,

Bahwa tempat yang dipilih untuk mendirikan gedung gereja ini berada di tengah perkampungan kiranya juga bukan sesuatu yang kebetulan saja, melainkan pilihan agar keberadaan Gereja santo Yoseph ini dekat dengan masyarakat. Hal ini harus diimbangi dengan semangat pastoral yang sesuai dengan cara hidup masyarakat. Kendati sebagaian besar umatnya berasal dari etnis Tionghoa, tetapi Gereja tidak boleh menjadi eksklusif tinggal dalam tembok yang rapat melainkan harus dekat dengan masyarakat.

Gereja Paroki Santo Yoseph akan menjadi Gereja yang dicintai, bukan dibenci, oleh masyarakat kalau Gereja dapat memainkan peranan yang signifikan bagi masyarakat, sehingga keberadaan Gereja relevan karena memang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian Gereja paroki Santo Yoseph sungguh dapat menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah.

Akhirnya, saya ucapkan Selamat Berpesta! Maju tak gentar membela yang benar….maju terus meneruskan perjalanan menuju Gereja yang hidup dan dewasa! Mari kita bersama bersenandung mohon restu kapada Santo Yoseph:

Logo Keuskupan Purwokerto OK bagus

Logo Keuskupan Purwokerto: Non Mea sed Voluntas Tua, Bukan kehendaku, melainkan kehendak-Mu.

Santo Yusup Rama Dalem
Kang ngembani Sang Timur
Katresnanta tampa surem
Mrig Gusti Sang Ma luhur
Mring Gusti Sang Ma luhur
Santo Yusup o nyuwun
Mrih tresna mring Sang Kristus
Santo Yusup o nyuwun
Mri tresna mring Sang Kristus
Mrih tresna mring Sangkristus

Santo Yusup emban Dalem
Tunggil lan Hyang Ma Suci
Kalayan tresna sungkem
Mring Putra amemuji
Mring Putra amememuji
Santo Yusup o nyuwun
Mrih setya mring Sang Kristus
Santo Yusup o nyuwun
Mrih setya mring Sang Kristus
Mrih setya mring Sang Kristus

Purwokerto, 19 Maret 2014

+Mgr. Julianus Sunarka, SJ
Uskup Diosis Purwokerto

 

Tautan:  50 Tahun Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur, Lalu Apa? (2)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.