Universe of Humanity

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.”

perbedaan

Pola, gaya dan tingkah manusia begitu banyak ragamnya. Ada yang langsung “nyetel” dengan kita, yang “chemistry” nya pas, ada pula yang sulit untuk dekat dengan kita karena berbagai hal. Bisa jadi sifatnya berbeda, atau hobinya, kebiasaan, cara bicara, dan sebagainya. Kita pun bersinggungan dengan begitu banyak orang yang berbeda-beda ini setiap hari. Ada yang kita suka, ada yang kurang cocok, ada pula yang sebisa mungkin dihindari. Seorang Pendeta pernah berkata “tidak ada orang yang sulit. Semua itu tergantung kemampuan dan kerelaan kita untuk mengenal atau mengerti mereka lebih jauh.” katanya. Ia mengatakan itu bukan hanya sebatas omongan saja, melainkan berdasarkan pengalamannya melayani selama puluhan tahun sejak masa mudanya. Apa yang ia katakan mungkin benar, apalagi itu memang menjadi kesimpulan dari pengalaman hidupnya sendiri. Tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa untuk bisa berpikir atau bertindak seperti Bapak Pendeta itu bukan main sulitnya. Hati hamba, katanya, itulah yang harus kita miliki. Sebuah hati yang tidak mementingkan diri sendiri, berorientasi untuk melayani dan melakukannya atas dasar kasih.

Ada sebuah kata yang saya ingat hari ini, sebuah kata yang menyinggung keragaman dari kemanusiaan yang disebut dengan A Universe of Humanity. Kata ini mengacu kepada pandangan secara luas terhadap keragaman sikap, tingkah, pola dan gaya manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan penuh keragaman. Tidak ada satupun yang persis sama, semua punya sesuatu yang unik dan berbeda, dan hal itu bisa kita sikapi dengan pandangan yang bermacam-macam pula. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menghujat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas. Mereka ini akan terus memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Berbeda denominasi bisa membuat orang saling memandang sinis satu sama lain. Padahal seharusnya kita tidak boleh berlaku demikian. Semua anak-anak Tuhan punya tugas dan kapasitasnya masing-masing, terlepas dari perbedaan tata cara peribadatan masing-masing. Dan kita pun memiliki tugasnya sendiri-sendiri juga. Paulus mengatakannya seperti ini: “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya Paulus terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh tidaklah pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Meski ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus kita kenal sebagai seorang yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia sepenuhnya mengabdikan sisa hidupnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil, karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain dan rindu agar semakin banyak orang yang mengenal Yesus. Bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Kesulitan akan membuat kita patah semangat dan menyerah. Tapi tidak bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus menjadi taruhannya.

Kita bisa melihat ketika Paulus berada di Roma, ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. “Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya.” (Kisah Para Rasul 28:16). Keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah yang dialami Paulus ternyata tidak menghentikannya. Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya. “Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. (ay 30-31). Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali dan terus dengan terus terang memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus agar mereka yang datang ke rumahnya turut mendapat anugerah keselamatan.

A universe of humanity ada di sekitar kita, dan menunggu untuk dijangkau. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita. Kita semua memiliki tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan, dan itu adalah tugas yang harus kita jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi, jangkaulah orang lain sebanyak-banyaknya, dan itu bukan harus selalu dengan berkotbah. Memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus mengalir melalui diri kita. A universe of humanity is within our reach today.

Nyatakan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: