Umat Katolik di Mata Capres

pilpres

NILAI penting umat Katolik di mata Prabowo maupun Jokowi saat ini tentu saja adalah dari segi di mana (?) suara umat Katolik akan dilabuhkan dalam pemilu. Sejumlah survei menunjukkan, aspirasi umat Kristiani terutama Katolik sebagian besar biasanya mengelompok kepada kandidat yang memiliki kedekatan ideologis (nasionalis, pancasilais, soekarnois) maupun kedekatan kepartaian (PDI Perjuangan). Di sisi lain, suara pemilih muslim cenderung terbelah-belah baik kepada partai nasionalis, islamis, maupun sekularis.

Tampaknya ada “harapan terpendam” bagi umat Kristiani melalui kemenangan politik dalam pemilu akan mampu mengatasi berbagai persoalan mendasar seperti diskriminasi sosial, kesulitan beribadah (tempat ibadah) dan ekslusi peran dalampenyelenggaraan negara. Faktanya, sosok Prabowo Subianto sesungguhnya memiliki banyak kerabat (ibu, adik, saudara ipar) yang Kristiani.

Demikian pula partai Gerindra memiliki banyak kader Kristiani dan secara mendasar memiliki kedekatan dengan Soekarnoisme. Dengan demikian tak ada alasan secara mudah menganggap koalisi Prabowo tak memiliki basis pluralitas, paling tidak pada lingkaran terdalam, dibandingkan koalisi Jokowi.  Prabowo juga pernah menjadi Cawapres Megawati di Pemilu 2009, dan secara pribadi berideologi yang sejajar dengan Soekarnoisme. [BACA JUGA : Pelajari Rekam Jejak Perjuangan Para Capres (1)]

Oleh karena itu, pengelompokan politik umat berdasarkan sosiologis dan psikologis, meski masih selalu ada, pada dasarnya sudah tidak memadai. Selain tak memiliki alasan rasional yang bersifat evaluatif, landasan memilih dengan dasar agama, etnis, kelas sosial dan kepartaian semata hanya akan menurunkan derajat kualitas demokrasi modern.

Bagi umat Katolik, ada baiknya “tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang”, baik keranjang kubu Jokowi maupun Prabowo. Kekuatan umat Katolik selayaknya diletakkan pada kemampuan mengidentifikasi sepak terjang dan riwayat perjuangan kandidat selama ini, sehingga dengan demikian lebih rasional, historis dan bersifat personal berdasar suara hati. Dengan modal itu kiranya umat akan makin dewasa, makin disegani kawan maupun lawan dan menjadi panduan bagi haluan kehidupan berbangsa. [BACA JUGA : Pelajari Rekam Jejak Perjuangan Para Capres (2)]

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.