Uang, Bayang-bayang Berkat Allah

Dalam hidup kita, siapa yang tidak butuh uang? Pasti semua butuh. Injil hari ini merupakan topik yang langka, bagaimana sikap kita terhadap uang dalam menjalani hidup menuju kebahagiaan kekal. Dalam perumpamaan Bendahara yang tidak jujur, Yesus bukannya memuji ketidak jujuran bendahara itu, tetapi kecerdikannya dalam melihat situasi dan mengambil sikap yang tepat, yang menjamin keamanan hidupnya. Pada waktu itu, seorang bendahara berindak sebagai manajer, pengelola harta milik seorang kaya.

Ia yang menyewakan tanah-tanah kepada penggarap tanah dengan penjanjian nanti akan membayar dengan hasil panen dalam jumlah yang sudah ditentukan. Bagi bendahara itu, jasanya sudah dimasukkan dalam perjanjian bagi hasil itu. Nampaknya bendahara ini mengambil komisi terlalu banyak, sehingga pemilik tanah mendapat keluhan dari para penyewanya. Karena itu dia harus mempertanggung jawabkan tindakannya.

Berhadapan dengan ancaman pemecatan, ia tidak bisa atau tidak mau kerja keras atau mengemis. Maka ia mengambil  tindakan cerdik, menghapuskan komisinya dan mendapat hutang budi dari para penyewa tanah itu. Ia telah mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, ia mendapat tumpangan dan jaminan hidup. Bendahara itu mengurbankan keuntungannya, demi mendapat relasi yang lebih menjamin.

Bukankah ini juga yang perlu kita lakukan dalam hidup kita? Uang adalah alat untuk mendapatkan relasi yang lebih baik, sehingga kita dapat hidup lebih tenang dan dapat menjalankan hidup kita lebih baik; sehingga kita lebih bahagia dan lebih mudah mengikuti Tuhan menuju surga. Pendapat umum mengatakan hal ini berlaku jika kita punya cukup uang dalam hidup ini. Benarkah mempunyai uang lebih banyak akan membuat kita hidup lebih baik? Rusaknya negara kita, bukan karena para koruptor kekurangan uang.

Mereka mempunyai uang sangat banyak. Tetapi keserakahan membuat mereka merusakkan ekonomi negara. Kita juga mengenal banyak orang yang punya uang banyak dan penuh masalah dengan keluarga, kesehatan dan tidak bahagia dengan semua uang mereka. Seorang murid bertanya kepada sang guru: “Bagaimana orang kaya dapat masuk kerajaan surga?” Sang guru menjawab: “jika kekayaan itu seperti bayangan pohon bambu di halaman.” Sang murid melihat bayangan pohon bambu itu menyapu halaman tanpa menggerakkan sebutir debu pun.

Kekayaan adalah bayang-bayang berkat dan penyertaan Allah dalam hidup kita. Kekayaan adalah alat bantu agar kita dapat menjalani hidup lebih bahagia dan lebih dekat dengan Allah.  Pesan Yesus dalam perumpamaan bendahara yang tidak jujur, uang hendaknya dipakai sebagai sarana untuk membina relasi dengan sesama yang lebih dekat. Sesama yang terdekat dengan kita ialah keluarga kita; pasangan dan anak-anak kita. Dalam hal ini, bukan banyak atau sedikitnya uang yang menentukan. Tetapi bagaimana uang dapat menjadi alat komunikasi dalam keluarga.

Dalam komunikasi suami-istri, ada 3 hal yang paling sulit dikomunikasikan: sex, keluarga dan uang. Dalam bidang keuangan kesulitan terjadi karena sungkan atau ada ketidak percayaan atau takut untuk bicara tentang uang bersama pasangan. Tidak ada keterbukaan dalam bidang keuangan.  Ada pasangan yang pegang uang masing-masing dan memakainya sendiri-sendiri, tanpa diketahui oleh pasangannya. Sehingga terjadi penumpukkan barang, karena tidak pernah dikomunikasikan kebutuhan bersama.

Ada suami yang menjatah uang belanja istrinya dan menuntut istrinya memberi laporan keuangan. Ada istri yang mengeluh suami hanya memberi uang belanja dan tidak pernah membelikan pakaian/perhiasan untuk istrinya. Kepada anak, selalu ada ketegangan antara terlalu memanjakan atau terlalu pelit kepada anak dalam memberi atau membelikan sesuatu. Dalam perkara seperti ini, uang bukan alat bantu, bukan berkat, tetapi malah menjadi hambatan dalam membangun relasi dalam keluarga. Selama uang ada, masalah tidak kelihatan. Begitu ada kekurangan uang, maka segala masalah yang terpendam akan meledak keluar sekaligus.

Uang itu bersifat netral, amoral, tidak baik, tidak buruk. Masalah keuangan dalam keluarga hanya lah puncak gunung es. Yang tersembunyi di bawahnya ialah cinta diri. Perkawinan mengandaikan keterlibatan, komitmen. Komitmen adalah sebuah keputusan yang kita ambil dan kita laksanakan dalam situasi dan perasaan hati mana pun. Komitmen bukan hanya kesetiaan dalam hidup sexual perkawinan; tetapi termasuk juga dalam bidang keuangan. Perkawinan baru akan berjalan baik jika ada peleburan dua kehidupan, yang satu hidup untuk yang lain.

Pada saat itu tidak ada lagi uangku dan uang dia. Yang ada uang kita. Pemisahan keuangan, mungkin perlu. Tapi tanpa komunikasi, sebenarnya sudah terjadi perpisahan dalam hati kita. Uang sering berarti kuasa untuk mengontrol. Yang punya uang, yang menentukan. Dalam perkawinan yang bahagia, mungkin ada kesulitan keuangan; tetapi tidak ada pertengkaran tentang siapa memakai uang untuk apa. Karena dalam hidup perkawinan Kristiani, yang satu hidup untuk yang lain dan bersama-sama semua hidup untuk Tuhan.

Allah mengasihi kita, Allah ingin membantu kita. Uang adalah bayang-bayang berkat yang diberikanNya agar kita dapat mendekat satu sama lain dan bersama-sama semakin dekat dengan Dia. Yang penting, bukan berapa banyak uang yang kita miliki. Tetapi, seberapa dekat kita mengalami Tuhan dalam hidup kita. Uang dan kekayaan yang kita miliki adalah alat untuk mendekatkan kita satu sama lain.

Keterbukaan dalam bidang keuangan, merupakan tanda bahwa kita adalah Anak-anak terang yang cerdik, memilih berdiri disisi Allah dan memakai mammon, bukan dikuasainya; untuk melayani bersama Dia. Semoga kita sebagai anak-anak terang semakin terbuka dalam mengelola keuangan bersama keluarga kita dan semakin dekat satu sama lain dan semakin sedia bersama-sama mengikuti Tuhan. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.