Tumpleg Bleg, 32 Orang Beragam Profesi Ikut Misi Kasih KBKK ke Keuskupan Pangkalpinang (2)

BERBEDA dari misi-misi kasih Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) Indonesia sebelumnya dengan jumlah peserta tidak melebihi angka 30 orang, kali ini misi bakti kasih (baksih) KBKK Indonesia ke Keuskupan Pangkalpinang boleh dibilang melebihi kuota jumlah wajar. Mau ditolak, ya bagaimana karena sudah ada niatan baik mau berbagi kasih.

Akhirnya, misi baksih KBKK Indonesia ke Keuskupan Pangkalipinang di Provinsi Bangka-Belitung (Babel) diikuti oleh 32 orang peserta. Sebelumnya, misi baksih KBKK Indonesia ke Keuskupan Tanjung Selor di Kalimantan Timur diikuti oleh 27 peserta.

Beragam profesi

Jumlah peserta rombongan besar misi baksih KBKK Indonesia ke Keuskupan Pangkalpinang tercatat sebanyak 32 orang. Mereka ini menekuni hidup dengan banyak label profesi atau usaha. Jumlah dokter ada 5 personil terdiri dari 2 dokter spesialis, 2 dokter umum, dan satu dokter dosen/pengajar mata kuliah tentang tropical desease.

Lalu ada 2 orang pastur dari Ordo Salib Suci (OSC) yang secara khusus datang dari Pulau Nias di Sumatra Utara karena  ingin terlibat dalam kegiatan misi baksih KBKK Indonesia ini.

Berikutnya, ada setidaknya 2 orang yang sehari-harinya berkegiatan menjalankan roda bisnis di bidang produksi garmen, 1 orang di bidang mining.

Rombongan ini menjadi berwarna dengan hadirnya 1 orang anggota yang sehari-hari duduk sebagai pimpinan tertinggi di sebuah perusahaan besar, 1 orang manajer bidang kegiatan sosial, 1 wartawan, 1 pelukis/seniman.

Makin beragamlah warna  rombongan misi kasih KBKK Indonesia ke Keuskupan Pangkalpinang ini  dengan ikut sertanya 1 pengusaha bidang konstruksi, 1 pengusaha bidang supplier alat-alat laboratorium, 1 pengusaha bidang supplier alat-alat mekanik. dan selebihnya adalah para ibu rumah tangga yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan rohani seperti kelompok Lectio Divina.

Angkat junjung

Ada yang menarik dalam setiap misi baksih KBKK Indonesia ke setiap wilayah keuskupan yang ingin mereka kunjungi. Meski para pesertanya merangkai aneka profesi dan kurang lebih boleh dibilang masuk kategori self-employeed atau bahkan employer, namun satu hal sangat pasti begitu mereka ini memakai ‘baju semangat’ KBKK. Mereka ini jadi manusia-manusia ‘utusan’ yang dikirim Gereja untuk melayani orang lain. Karena itu, orang-orang ini dalam sekejap bisa menjadi manusia-manusia yang ringan tangan suka berbagi, punya sikap peduli orang, dan merasa diri  “kami ini semua ya sama saja”.

Singkatnya, sekat-sekat sosial dengan sendirinya lumer begitu kelompok ini menyatu dalam satu misi bersama yakni ingin berbagi kasih kepada sesama.

Maka yang ada bukan lagi si A ini dokter spesialis, atau si B ini direktur, atau si C pengusaha. Melainkan A-B-C —semuanya—merasa diri hanya sebagai ‘anggota’ KBKK dengan niatan baik yakni berbagi kasih.  Karenanya, begitu bagasi paket misi kasih rombongan ini mencapai angka sekitar 800 kg, dengan sendirinya ya si A-B-C-D-E-F dan seterusnya itu pula yang harus angkat junjung mengangkati 40 koli barang untuk kemudian bisa dibagi-bagikan dalam misi pelayanan bakti kasih itu.

Itu belum seberapa, karena para romo Keuskupan Pangkalpinang pun juga ikut angkat junjung mengangkati aneka dus berisi obat-obatan, makanan, pakaian, tas, pernak-pernik barang kenangan.  “Semua lebur menjadi satu dalam semangat bersama yakni ingin melayani,” ungkap seorang peserta yang baru pertama kali ikut dalam misi bakti kasih KBKK Indonesia ini.

Capai? Sudah barang tentu, karena kegiatan angkat junjung barang-barang ini bukan hal yang dia akrabi sehari-hari dimana kesehariannya lebih banyak diwarnai kegiatan di  belakang meja untuk menulis laporan, evaluasi, dan refleksi.

Tapi ya itulah dinamika yang selalu ada dan eksis  menempel kuat dalam setiap misi kasih KBKK Indonesia kemana pun mereka pergi diutus untuk berbagi kasih. Itu tak lain lain adalah tumpleg bleg-nya aneka profesi dan pekerjaan bisa lumer dan lebur  menjadi satu semangat yakni pelayanan kasih dan berbagi iman. (Bersambung)

Photo credit: KBKK Indonesia (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: