“Tuhan Tidak Mati!”: Renungan, Rabu 19 Mei 2021


Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)


Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh. 17:11b-19.


“Tuhan telah mati!”, tukas Friedrich Nietzsche. Melalui adagium ini, Nietzsche hendak menggemakan kepada setiap orang bahwa manusia perlu menyadari dan menegaskan kebebasan dirinya dengan menanggalkan Tuhan yang selalu mengawasi hidup manusia, yang justru membuat kebebasan manusia terpojok. Baginya, Tuhan harus mati agar manusia dapat benar-benar mengembangkan dirinya dengan bebas. Maka jelaslah bahwa Nietzsche mendorong orang-orang untuk berupaya melepaskan ketergantungan kepada siapapun, termasuk Tuhan, dan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri.


Nafas kehidupan sebagai salah satu modal hidup manusia tidaklah datang dari dirinya sendiri, melainkan diberikan oleh Tuhan. Tanpa nafas hidup, manusia menjalani hidupnya dan mengekspresikan kebebasannya sungguh tak mungkin. Manusia sekuat apapun dirinya tetap harus menggantungkan hidupnya kepada Tuhan.


Bacaan-bacaan liturgi hari ini hendak menggugah hati setiap orang beriman, bahwa Tuhan sungguh-sungguh memelihara dan memperkenankan umat-Nya untuk memperoleh keselamatan. Rasul Paulus menasihati para penatua jemaat di Efesus untuk tetap berjaga-jaga dan setia menggembalakan jemaat, serta mengingat setiap sabda Kristus dan mengamalkannya. Yesus, Sang Gembala agung, turut mendoakan murid-murid-Nya supaya terhindar dari marabahaya, diarahkan kepada kebenaran dan tetap teguh dalam semangat persaudaraan. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya hidup dan menghadapi pelbagai cobaan dunia seorang diri. Tuhan tetap menyertai umat-Nya.


Terkadang di tengah penderitaan yang dialami, kita menganggap bahwa Tuhan telah mati. Manusia merasa seorang diri menyusuri jalan penderitaannya, tangan Tuhan tak kunjung sampai merengkuh manusia dari penderitaan, sukarnya beban hidup sehingga menjadi kabut yang menutupi kasih dan kehadiran-Nya. Padahal, Tuhan itu dekat dengan ciptaan-Nya. Hanya saja manusia kurang menyadari bahkan mengabaikan-Nya.


Ironisnya di kala sukacita, manusia begitu saja melupakan Tuhan. Nanti dalam pengalaman duka barulah manusia mengingat Tuhan dan ketika doanya belum terkabul manusia menjadi benci, menyalahkan Tuhan, bahkan meragukan keberadaan-Nya. Seringkali ruang dunia yang sesak dan dipadati dengan kejahatan di mana-mana membuat manusia menyangka bahwa Tuhan tidak ada. Padahal masih banyak keindahan dan kebaikan yang turut mewarnai dunia yang dapat meyakinkan kita bahwa Tuhan itu ada, sebab kebaikan dan keindahan selalu datang dari Allah. Allah orang beriman adalah Allah yang hidup, Allah yang solider, Allah yang mencintai.


(Fr. Giovani Gosal)


“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11b).


Marilah berdoa:


Allah Pencinta, terima kasih atas cinta-Mu. Bantulah kami untuk tetap merasakan cinta-Mu dalam hidup ini. Amin.


Baca Renungan Pagi dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.