Tuhan Dipuji Lewat Kita

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 10:9
=====================
“Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

memuji Tuhan lewat kita

Ada satu hal yang selalu jadi pemikiran saya setiap hari. Apakah hari ini saya sudah melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain? Saya tidak mau bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah saja. Saya sadar betul bahwa pekerjaan yang saya lakukan hari ini adalah berasal dari anugerah Tuhan, untuk tujuan yang baik. Saya tidak ingin terjebak pada kepentingan diri sendiri, untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, tetapi alangkah indahnya apabila apa yang saya lakukan itu juga bisa memberi dampak positif bagi hidup orang lain. Itu kerinduan saya, meskipun dalam kenyataannya sebagai manusia biasa saya pun tidak luput dari berbagai kesalahan. Itulah sebabnya saya sering mengambil waktu untuk menelaah kembali segala sesuatu yang telah saya lakukan. Yang baik saya tingkatkan, sedang yang jelek harus segera diperbaiki. Mampukah saya menjadi sebuah cerminan Kristus yang baik, atau jangan-jangan saya masih merupakan batu sandungan bagi banyak orang. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya bisa menjadi sumber bagi orang lain untuk mengenalNya secara benar. Tidak sekedar mengenal siapa Tuhan yang kita sembah, tetapi juga memuliakan dan memujiNya. Ini sebuah tanggungjawab yang harus kita emban dalam proses perjalanan kehidupan kita.

Hari ini marilah kita melihat sekelumit kisah mengenai kunjungan ratu negeri Syeba ke Yerusalem dimana Salomo waktu itu memerintah sebagai raja (1 Raja Raja 10:1-13). Nama besar Salomo pada waktu itu sangat harum terdengar hingga ke negerinya. Dan ia tertarik untuk membuktikan sendiri apakah benar Salomo itu seperti yang didengarnya. Ratu Syeba membawa pertanyaan-pertanyaan sulit, namun Alkitab mencatat “Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.” (ay 3). Ratu Syeba pun terpukau melihat semuanya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kemakmuran negeri yang diperintah Salomo, tata krama orang-orang disana dan tentu saja hikmat yang dimiliki Salomo. “Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.” (ay 4-5). Maka ratu Syeba pun mengakui bahwa apa yang ia dengar sebelumnya tentang Salomo memang tidak berlebihan (ay 6), bahkan lebih dari itu. Begitu terpukaunya ratu Syeba hingga ia berkata “sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.” (ay 7). Selanjutnya masih dalam keadaan terkagum-kagum ratu Syeba berkata “Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!” (ay 8). Dan bukan itu saja, ratu Syeba pun kemudian memuji Tuhannya Salomo. “Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.” (ay 9). Lihatlah hikmat yang diperoleh Salomo dari Tuhan ternyata mampu ia pergunakan untuk memuliakan Tuhan. Orang lain bisa melihat betapa hebatnya Tuhan lewat diri Salomo dan tidak tahan untuk memuji Tuhannya secara langsung.

Kita mungkin tidak memiliki hikmat sebesar Salomo, tetapi kepada kita semua telah dikaruniakan segudang talenta yang tentu bisa kita pergunakan untuk menyatakan Tuhan kepada orang-orang disekitar kita. Kita masing-masing memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri yang akan mampu memberi manfaat kepada orang lain bukan untuk menunjukkan kehebatan kita tetapi menyatakan kemuliaan Tuhan di mata orang lain. Singkatnya, orang bisa mengenal Tuhan secara benar lewat kita dan memuji Dia, tetapi sebaliknya bisa pula mendapat pemahaman yang salah lewat perilaku-perilaku kita yang jelek. Menjadi terang yang bercahaya  di hadapan orang lain, itu merupakan tugas kita di dunia ini sebagai anak-anak Allah. Kita memiliki terang Kristus di dalam diri kita, tetapi itu semuanya akan sia-sia saja jika hanya disimpan sendiri. Tuhan Yesus mengumpamakannya seperti berikut: “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15). Oleh karena itulah Yesus berkata “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (ay 16). Terang harus terletak di atas, tidak tersembunyi sehingga bisa menerangi orang lain. Itu artinya kita harus mampu menunjukkan perbuatan-perbuatan baik yang memberi kebaikan bagi orang lain, sehingga mereka akan memuliakan Tuhan lewat diri kita.

Salomo menunjukkan bagaimana ia bisa memakai apa yang telah dihadiahkan Tuhan kepadanya dengan baik sehingga lewat semua itu Tuhan dipermuliakan. Kisah hari ini membuat saya berpikir untuk mempergunakan semua talenta yang telah Tuhan berikan demi namaNya. Sudahkah kita menerangi orang lain dengan terang Tuhan yang ada pada kita? Mari hari ini kita sama-sama memikirkan apa yang bisa kita perbuat agar mampu membawa banyak orang untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Pergunakan talenta yang diberikan Tuhan untuk membawa orang lain memuji Dia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.