Tuhan, Ajar Aku Untuk Berserah

DI dalam Kitab Suci Perjanjian Lama pernah ada seorang tokoh yang mengalami keterpurukan dan kebinasaan yang sangat mengerikan.

Padahal dia ini orang benar, dia tidak pernah melakukan kesalahan. Hidupnya sempurna tanpa cela.

Tetapi di puncak kehidupannya, semua yang ia miliki tandas tak tersisa sedikitpun, bahkan orang-orang yang dicintainya pun ikut diambil dari padanya satu per satu.

Semuanya dirampas dari padanya dalam jangka waktu yang singkat bahkan hampir bersamaan.

Hidupnya dijungkirbalikan. Dari posisi di paling atas dan mulia sekarang menjadi yang ternista di antara yang paling hina.

Ia terpuruk sampai ke dasar yang paling dalam. Di mana hanya ada kegelapan dan kesendirian.

Pedihnya melebihi sedihnya.
Jiwanya terluka oleh sengsara.
Menderita karena merasa dilupakan Sang Pencipta.

Tidak ada lagi penolong baginya, sahabat apalagi saudara.
Jangan pernah bicara tentang arti sahabat di hadapannya.
Karena baginya sahabat hanyalah sebuah kepiluan dan kekecewaan tak berujung.

Satu persatu mereka menjauh dan memalingkan muka.
Dia menjadi bahan olokan dan tertawaan oleh orang-orang yang pernah ia anggap sebagai sahabat.

Air matanya telah menjadi kering
Tulang-tulangnya telah menjadi begitu rapuh karena jiwanya yang merana.

Dia ingin melihat keadilan
yang tidak sedikitpun dilihatnya.
Dia mencari kemurahan
yang sekarang menjadi sedemikian mahalnya.
Dia bertanya ke segala arah
namun tiada satu jawabpun ia terima.

Tuhan seolah begitu jauhnya,
tak mendengar dan tetap membisu.

Tidak sulit bagi kita untuk menebak siapa tokoh ini. Ya benar…. Jawabnya AYUB.

Di bagian akhir kitab Ayub,
akhirnya Allah memperdengarkan suaraNya kepada Ayub.
Allah membuka misteriNya yang tadinya begitu samar bagi Ayub.

Berhadapan dengan kuasa Allah AYUB BERSERAH.

Bacalah 2 ayat di Ayub 42:1-6

Maka jawab Ayub kepada TUHAN:

2.”Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.

Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Apa yang dilakukan Ayub di dua ayat di atas bisa kita sebut dengan KEKUATAN BERSERAH (The Power of Surrender).

Ayub berserah dan menaklukkan diri pada KEMAHAKUASAAN ALLAH.
Ayub percaya dan berani menggandalkan rencana Allah dalam merancang semua mahlukNya.

Kawanku yang baik,
Kita ini hanyalah insan Allah,
kita mahluk ciptaanNya,
sekaligus kita ini milikNya.

Ketika hidup kita (saya dan Anda) saat ini jungkir balik seperti Ayub, belajarlah bagaimana cara Ayub berserah kepada Allah di akhir segala pencariannya.

Selamat pagi kawan,
Tuhan memberkati harimu.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.