Traveling Mendebarkan: Dinihari Terdampar di Ventimiglia di Kerumunan Maghrébins (2)

ventimiglia2

HARI-hari menjelang Paskah di Roma tahun 2011 silam. Dengan sigap, saya bersama tiga perempuan paruh baya anggota rombongan wisata mandiri meninggalkan Via de Guarazzi menuju Termini, stasiun pusat kereta api di jantung kota Roma. Tujuannya menuju Milan.

Tapi tiket ludes abis. Maklum hari-hari itu tengah musim libur Paskah. Jadi banyak warga kota Roma dolan pelesiran kemana-mana.

Padahal, di saku kami sudah ada tiket Eurail Pass untuk tujuan tiga negara: Italia, Swiss dan Perancis untuk kurun waktu berlaku 2 pekan. Dengan posisi tiket ludes abis untuk destinasi wisata ke Milan, maka tidak ada pilihan lain menuju Perancis melalui jalur Ventimiglia. Padahal sedianya kami akan menempuh jalur Roma-Milan-Swiss-Paris. Dengan tiadanya tiket menuju Milan dan Venezia, maka rute perjalanan saya ubah menjadi Roma-Ventimiglia-Nice. (Baca juga: Traveling Mendebarkan: Tiga Hari Sebelum Berangkat, Baru Tahu Visa Ditolak (1)

Ventimiglia-train-station

Stasiun KA Ventimiglia dari ujung jalan (Ist)

Karcis KA untuk kelas satu tidak berlaku untuk KA Trent Italia jurusan Roma Termini menuju titik akhir perjalanan di Ventimiglia, sebuah kota kecil di garis batas Perancis-Italia. Di situ hanya ada tiket kelas dua atau kelas tiga. Untuk itu pun, kami harus rela antri berjam-jam untuk mendapatkan 4 tiket reservasi tempat duduk menuju Ventimiglia.

Kami datang di Termini pukul 10.00 pagi waktu Roma dan baru bisa berangkat meninggalkan Termini menjelang akhir petang. Rute perjalanan yang awalnya digagas akan berangkat pukul 15.30 digeser mundur atas alasan keamanan.

Waktu itu, kami tak mengerti kenapa tiba-tiba saja di Termini banyak polisi bersliweran di ujung-ujung peron dengan senjata laras panjang. Di sana-sini banyak calon penumpang kulit hitam duduk bergerombol di beberapa sudut peron. Dari ragam bahasanya, menjadi jelas bahwa mereka ini adalah kelompok maghrébins yakni orang-orang dari kawasan Afrika Utara yang datang menyeberang ke “Utara” alias Benua Eropa melalui pelabuan-pelabuhan lintas batas di Italia Selatan.

Salah satu tujuan favorit mereka selain Roma adalah Milan. Namun, dalam perjalanan kami menuju Ventimiglia selepas petang hari, ternyata beberapa puluh kelompoh Maghrébins ini juga ada di dalam gerbong-gerong KA TrentItalia yang menempuh rute Roma Termini – Ventimiglia.

Selepas tengah malam
Kami menikmati perjalanan menyenangkan dari Roma Termini menuju Ventimiglia. Namun, kamo datang di kota kecil perbatasan Italia-Perancis di garis pantai Nice di Perancis Selatan ini persis beberapa menit menjelang berakhirnya tengah malam. Dan ketika kami cek perjalanan melalui petugas stasiun, ternyata perjalanan kami hanya bisa sampai di situ saja.

Pada jam-jam itu, tidak ada jalur kereta api dari Ventimiglia menuju Nice di Perancis Selatan. Kereta api pertama yang akan berangkat meninggalkan Ventimiglia menuju Nice baru akan berangkat beberapa jam kemudian usai dini hari. Kalau tak salah ingat, KA khusus dari Ventimiglia menuju Nice baru akan muncul pukul 04.40 waktu setempat.

Jadi, tidak ada pilihan bagi kami kecuali ‘menginap’ di alam terbuka di Stasiun Ventimiglia.

Berjejal di lorong toilet
Saya tak pernah membayangkan sebelumnya kalau Ventimiglia ini hanyalah kota kecil. Stasiunnya pun juga sangat mungil. Peron kecil dengan gang-gang teramat kecil untuk bisa menampung puluhan penumpang yang datang dari Roma Termini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.40 waktu setempat dan masih beberapa jam lagi KA dari Ventimiglia menuju Nice akan datang. Maka tak ada pilihan lain kecuali ngglesot saja di lantai.

ventimiglia3
Berjejal menyesaki lorong kecil menuju WC di Stasiun Ventimiglia (Ilustrasi/Ist)

Di peron utama jelas tidak boleh. Aparat keamanan Italia dengan senjata laras panjang ditenteng berkeliaran kemana-mana dan melarang kami ‘menginap’ di kompleks peron yang kecil. Mereka menyuruh kami keluar peron. Tak ada pilihan lain kecuali duduk ngglesot ujung gang pendek menuju WC.

Kami berempat dengan tiga koper akhirnya ‘tidur menginap’ di gang sempit menuju WC bersama sepasang wisatawan muda dari Malaysia. Dia datang dari Roma Termini untuk tujuan Nice. Kami menuju Nice untuk kemudian melaju ke Cannes, kota wisata di kawasan Riviera Perancis tempat dilangsungkannya Festival Film Cannes yang terkenal itu.

Karena sama-sama merasa ‘orang Asia’ di tengah kerumuman maghrébins yang juga datang bergerombolan di Ventimiglia ini, maka dalam sekejam kami merasa akrab satu sama lain.

Namun di Ventimiglia, urusan keamanan waktu itu adalah hal yang mencemaskan. Kehadiran banyak polisi bersenjata lengkap menambah degup jantung kami berdetak lebih kencang, selain kehadiran ratusan orang Maghrébins di sekeliling kami. Belum lagi, mereka wira-wiri melewati gang kecil menuju WC untuk pipis atau keperluan lain.

Yang paling tidak menyenangkan tentu saja mereka suka minta sesuatu dari kami: air, makanan, dan bahkan uang.

Kami menyimpan baik-baik perlengkapan kami di balik jaket jas kulit yang menempel di tubuh kami. Saat itu, angin dingin masih sangat terasa di Eropa. Suhu pada waktu malam bisa turun sampai di bawah 7 C. Maka, kami pun menyimpan paspor dan uang Euro dan US dollar kami di saku di balik jaket kulit kami.

Koper dan tas kami tindih sebagai alas kepala untuk sedikit bisa menidurkan mata kami yang telanjur lelah sepanjang hari ditelan stres karena susah mendapatkan tiket KA.

ventimigliaa5
Tidur ngleka seadanya di peron Stasiun Ventimiglia di kota kecil garis perbatasan Italia dan Perancis Selatan. (Ilustrasi/Ist)

Tapi, betapa susah nian mata kami terlelap barang semenit pun. Apalagi, hati kami menjadi resah karena juga harus menjaga barang-barang kami dimana di situ banyak lalu lalang para penumpang kulit hitam yang harus ‘melangkahi’ tubuh-tubuh kami sebelum bisa masuk ke lorong WC stasiun di luar peron.

Ketika jam sudah menujukkan pukul 04.00 waktu Ventimiglia, kami pun tergugah semangat untuk kembali masuk ke peron. Saat datang kereta pertama dari Ventimiglia menuju Nice, hati kami pun bersorak girang.

Kami tinggalkan Ventimiglia menuju Nice untuk selanjutnya melihat Cannes yang indah merona.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.