Tolak Relokasi, Jemaat GKI Yasmin Ibadat di Depan Istana Merdeka

Sekitar 150 jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia kembali beribadah di seberang Istana Merdeka Jakarta, Minggu, untuk menolak rencana relokasi gereja.
    
“Ibadah di seberang istana kali ini adalah perwujudan dari penolakan kami atas permintaan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, untuk merelokasi gereJa kami di Bogor,” kata Penatua GKI Yasmin, Ngatari, sebagaimana dikutip dari siaran persnya di Jakarta, Minggu.
    
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi bersama Direktur Jenderal Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik Tanri Bale Lamo pada Jumat (7/9) meminta GKI Yasmin untuk menerima usulan Wali Kota Bogor Diani Budiarto untuk memindah lokasi gereja.
    
“Kami tidak menerima relokasi. Relokasi adalah melawan hukum. Relokasi sama dengan penggusuran. Kami, bersama-sama rekan-rekan lintas-iman, akan terus memperjuangkan hak konstitusional kami, ibadah di gereja kami yg sah sesuai agama dan kepercayaan kami,” kata Ngatari.
    
Dalam ibadah di seberang istana hari ini, Pendeta Ejodia dari Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) mengajak jemaat untuk terus bertahan, berdoa, dan berjuang, memperjuangkan kebenaran dan konstitusi
    
“Ini bukan soal bangunan gereja saja. Ini soal kebebasan beribadah bagi semua di Indonesia,” kata Ejodia.
    
GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia juga membawa kenangan akan Munir, yang dibunuh delapan tahun lalu, dan korban kekerasan atas nama agama di Sampang Madura, dalam doa dan liturgi ibadah.
    
“Munir gigih menyuarakan kebenaran. Munir berjuang hingga akhir, selayaknya GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia meneladani keberanian almarhum. Di Sampang, banyak orang yang menjadi korban kekerasan atas nama agama. Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi sesama tanpa kecuali, tanpa perbedaan suku, agama dan kepercayaan, untuk semua korban kekerasan di manapun”, pesan Pendeta Ejodia dalam khotbahnya.
    
Pendeta Palti Panjaitan dari HKBP Filadelfia menambahkan bahwa agama mengajarkan agar umat manusia saling mendukung, bersolidaritas, dan saling memberi, bahkan di saat diri sendiri dalam kekurangan.
    
Di akhir ibadah, Jeirry Sumampow, dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), menyerahkan sumbangan berupa buku, pakaian, alat tulis bagi siswa, dan kebutuhan lain, yang diperuntukkan bagi korban kekerasan berbasis agama dalam tragedi Sampang, Madura.
    
“Biarlah sumbangan ini menjadi bukti konkret persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaan kita, dari GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, dan komunitas Kristen Indonesia, bagi saudara-saudari sebangsa kami di Sampang Madura”, kata Jeirry dalam sambutannya saat menyerahkan sumbangan yang diterima langsung oleh perwakilan Ahlulbait Indonesia (ABI).
    
Siaran pers tersebut menulis bahwa sampai saat ini, GKI Yasmin masih saja disegel dan digembok secara ilegal meskipun putusan MA dan rekomendasi wajib Ombudsman telah mengukuhkan dan memerintahkan dikembalikannya hak GKI Yasmin untuk beribadah dan meneruskan pembangunan gerejanya sendiri yang sah.
    
Sementara itu, HKBP Filadelfia, di Kabupaten Bekasi, mengalami hal yang serupa, pengadilan telah mengeluarkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht)yang juga mengukuhkan keberadaan gereja di wilayah Tambun itu, namun, Bupati Bekasi, menolak menjalankan putusan tersebut hingga sekarang.
    
“Bupati Bekasi terpilih Neneng Hasanah Yasin yang menggantikan Sa’aduddin masih juga belum menjalankan putusan hukum agar gereja HKBP Filadelfia dibuka segelnya sehingga jemaatnya mendapatkan hak-hak konstitusional untuk bebas menjalankan ibadahnya,” tulis siaran pers tersebut.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.