Tobat Itu Kasih Lawan Ketidakpedulian

Hari ini kita mendengar seruan keras Yohanes tentang pertobatan. Yohanes menegaskan: saatnya sudah mendesak. Perlu pertobatan segera. Karena itu ia mencela sikap para pemimpin bangsa Yahudi, yang merasa diri beres-beres saja, karena mereka adalah orang baik-baik, keturunan Abraham dan sudah mentaati Hukum Taurat. Yohanes menegaskan: tanda bertobat adalah adanya buah-buah pertobatan.

Natal sudah dekat, kita juga diajak untuk mewujudkan pertobatan. Perbedaan besar antara pesan Yohanes dengan persiapan Natal ialah: Yohanes mendesak dan mengancam: kapak sudah diakar pohon, penampi sudah di tangan Tuhan! Sebaliknya, Natal yang akan kita rayakan adalah suasana gembira dan bahagia. Tetapi justru karena suasana Natal yang seperti itu, maka pesan Yohanes menjadi lebih mendesak lagi! Kesibukan kita menjelang Natal, dapat membuat kita terlena untuk memperhatikan sisi batin dalam persiapan kita. Semua kesibukan itu membuat kita merasa sudah baik. Saya sudah menyediakan ini, saya sudah berbuat itu dsb. Saya sudah OK.

Karena itulah teguran Yohanes kepada para pemimpin bangsa Yahudi perlu kita kenakan pada diri kita masing-masing. Kegiatan rutin setahun sekali yang mungkin menyenangkan, dapat tidak mendorong kita untuk bertobat. Kita merasa diri biasa-biasa, bahkan mungkin baik-baik saja. Ada yang mengatakan: musuh utama Cinta bukanlah Benci, tetapi Acuh tak acuh. Kebencian merupakan penolakan langsung terhadap Cinta. Tetapi biasanya kebencian tidak lama. Orang merasa terganggu dengan rasa benci di hatinya, sehingga cepat juga merasa bersalah. Acuh tak acuh jauh lebih berbahaya. Orang tidak merasa ada sesuatu yang tidak beres. Karena itu orang juga tidak merasa perlu bertobat, karena merasa diri beres-beres saja.

Paus Fransiskus dalam kotbah di Misa Harian tgl. 3 Desember menulis: Natal bukan sekedar perayaan untuk mengenang keindahan suatu musim liburan. Natal adalah suatu pertemuan! Pertemuan antara manusia dengan Allah yang rindu bertemu dengan umatNya. Pertemuan antara Yesus dengan Umat kesayanganNya.     Seorang ibu hidup sendirian sejak ditinggal pergi anak laki-laki satu-satunya. Sudah berbulan-bulan sejak anaknya pergi tanpa kabar; si ibu selalu membuat roti bakar ekstra dan meletakkannya di ambang jendela untuk siapapun yang melewati rumahnya dan kelaparan.. Setiap hari ia melakukan hal itu untuk mengenang anaknya. Biasanya menjelang siang roti bakar yang diletakkan di ambang jendela akan hilang diambil pejalan kaki yang kelaparan.

Dalam beberapa waktu terakhir nampaknya ada seorang pengemis bungkuk yang selalu mengambil roti bakar yang disajikan. Anehnya, pengemis bungkuk ini selalu mengucapkan kata-kata yang sama setiap kali ia mengambil roti di ambang jendela: “Setiap keburukan yang engkau lakukan akan tinggal padamu; Dan setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu”. Hari demi hari, setiap pagi, pengemis bungkuk itu datang, mengambil roti dan mengucapkan kata-kata yang sama. Si ibu tua penasaran dan juga jengkel dengan kehadiran rutin si pengemis bungkuk setiap hari. “Orang lain yang kelaparan tak mendapat kesempatan untuk mendapatkan roti bakarnya.

Si pengemis bungkuk itu selalu mengambilnya duluan… Lagi pula apa maksud kata-kata yang selalu diucapkannya? Alih-alih mengucapkan terimakasih, malah mengucapkan kata-kata aneh yang sama setiap hari. Apa artinya: “Setiap keburukan yang engkau lakukan akan tinggal padamu; Dan setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu?” Karena kesal, si ibu berpikir untuk menyingkirkan pengemis bungkuk yang selalu mengambil rotinya. Ia mencampurkan racun di adonan roti bakarnya. Namun ketika ia meletakkan roti bakar yang berisi racun, tangannya gemetar. “Perbuatan apa yang saya lakukan ini?” katanya dalam hati, lalu melemparkan roti beracun itu ke dalam tungku pembakaran dan membuat lagi adonan yang baru dan meletakkannya di ambang jendela.

Pengemis bungkuk datang, seperti biasa mengambil roti dan mengucapkan kata-kata yang sama: “Setiap keburukan yang engkau lakukan akan tinggal padamu; Dan setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu” Pengemis bungkuk itu melanjutkan perjalanannya, tanpa pernah menyadari bahwa sebuah pikiran buruk dan baik sedang berperang dalam diri si ibu; yang setiap kali meletakkan roti bakar itu selalu menyematkan sebait doa untuk puteranya yang pergi agar suatu saat kembali.

Malam itu, ada ketukan di pintu. Ketika si ibu membukanya, ia terkejut menemukan anaknya berdiri di ambang pintu. Badannya kurus kering, pakaiannya compang-camping dan robek. Dia kelihatan begitu kelaparan dan lemah. Saat ia melihat ibunya, ia berkata, “Ibu, sungguh suatu keajaiban aku bisa sampai di sini.

Ketika masih beberapa mil jauhnya, aku begitu kelaparan sampai kehabisan tenaga dan terjatuh. Kupikir saat itu aku akan mati seandainya saja aku tidak bertemu seorang pengemis bungkuk yang dengan sukarela memberikan semua roti bakarnya untukku… Aku terus teringat kata-katanya: “Setiap keburukan yang engkau lakukan akan tinggal padamu; Dan setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu” Sang ibu yang menendengar perkataan anaknya tiba2 berubah pucat wajahnya. Ia tersandar di pinggir pintu sambil teringat ia pernah mencampurkan racun ke dalam roti bakarnya. Apa jadinya jika roti itu dibawa si pengemis bungkuk dan dimakannya? Atau malah diberikan kepada anaknya sendiri?? Seketika itu juga sang ibu tersadar dan mengerti arti perkataan si pengemis bungkuk: “Setiap keburukan yang engkau lakukan akan tinggal padamu; Dan setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu”

Bukankah harum bunga melati tak pernah jauh dari kelopaknya? Setiap kebaikan tentu tak pernah pergi terlalu jauh dari sang pemberinya; suatu saat setiap kebaikan selalu akan kembali bersama sahabat-sahabatnya yang lain: Syukur, Cinta, dan Rahmat kemurahan. Selalulah berbuat baik; entah pada waktu buruk atau pada waktu-waktu yang baik. Kita tak pernah tahu, untuk satu kebaikan yang kita berikan, mungkin hal itu bisa menyentuh begitu banyak orang tanpa kita pernah bisa membayangkannya…[ P.Hend.SCJ: setiap kebaikan yang engkau lakukan, suatu saat akan kembali kepadamu]

Bertobat bukan sekedar perkara menemukan kesalahan dan dosa. Bertobat bukan sekedar melakukan hal-hal penting. Bertobat kembali menemukan Tuhan dan menemukan cinta dalam dalam tugas sederhana dan dalam hidup sehari-hari. Bertobat berarti menyebarkan kebaikan bersama orang-orang yang kita kasihi. Sehingga nanti saat kita merayakan Natal, cinta Tuhan menjadi semakin nyata nampak dalam hidup kita. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.