To Whom Our Hearts Belong?

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”

Ketika menerangkan tentang hal mengumpul harta dalam Matius 6:19-24, Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan salah oritentasi dalam mengumpul harta. Bukan harta di bumi yang penting untuk dikumpulkan, tpai di surga. Jika kita salah berpikir dengan menganggap bahwa sebuah hidup yang berpusat pada pengumpulan harta kekayaan bisa menjamin kebahagiaan dan kesempurnaan hidup, kenyataannya seringkali tidak demikian. Ada ngengat, karat dan pencuri yang siap menghabiskan berapapun jumlahnya dalam sekejap mata. Bukankah kita sering melihat hal tersebut, atau mungkin pernah mengalaminya? Saya pernah mengalaminya dan sejak itu mengerti bahwa mementingkan uang dalam hidup adalah sesuatu yang sia-sia dan keliru. Tuhan Yesus mengatakan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Apa yang dikatakan Yesus itu sangatlah benar. Kita akan menaruh seluruh hati kita kepada apa yang kita anggap paling berharga. Pertanyaannya, dimana kita meletakkan hati kita hari ini? Apakah masih pada hal-hal yang didoktrin oleh dunia sebagai penjamin kebahagiaan atau kepada Penjaga Israel yang tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4)? Pertanyaan kedua, jika kita memang meletakkan Yesus pada posisi paling utama, sebagai apa kita menempatkanNya? Apakah sebagai Tuhan atau hanya sebagai provider harta, bodyguard, dokter dan sejenisnya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang harus sering-sering kita periksa agar jangan sampai ada motivasi-motivasi yang bergeser dalam hati kita.

So, who’s ruling inside our heart today? The Kingdom of Myself yang menempatkan semuanya pada diri sendiri, The Kingdom of Evil yang berpusat pada iblis dan segala kejahatannya, atau The Kingdom of God yang menempatkan Tuhan sebagai yang memerintah dan berkuasa dalam diri kita? Dimana hati kita berada hari ini? Sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita camkan dalam hati kita. Anggaplah diri kita seperti sebuah lembaga kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan seperti apa diri kita. Know that there’s a kingdom in our hearts, dan kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya.

Petrus mengatakan sebuah pesan penting yang berbunyi sangat tegas: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (1 Petrus 3:15). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord.” Ada versi lain pula yang mengatakannya dengan “Sanctify the Lord God in your hearts.” Dari versi-versi tersebut kita bisa melihat bahwa itu berarti kita harus menguduskan, menjadikan dan mendeklarasikan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus secara jelas mengatakan bahwa itu semua di mulai dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini.

Begitu pentingnya hati, maka Alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati tersebut. Sebuah ayat dalam Amsal berkata: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Lewat Yesus kita bisa mengetahui alasannya. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22). Ini adalah sebuah daftar yang mengerikan. Dan Dia berkata: “Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (ay 23). Jika demikian, adalah sangat penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Itu tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Sebagaimana nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar.

Kembali kepada ayat bacaan kita diatas, seruan penting lainnya bisa kita dapatkan. “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16). Hal ini harus dicermati dengan sangat serius, “sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Agar bisa menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, pengaruh-pengaruh buruk dan lain-lain, semua itu haruslah bisa kita matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memperoleh Raja yang tepat. Firman Tuhan berkata “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:10).

Sadar atau tidak, ada banyak hal di dalam diri kita masing-masing yang sebenarnya ingin memegang kendali atas hidup kita. Jangan-jangan Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan sudah tidak lagi punya tempat, sementara hal-hal lainnya justru lebih berkuasa atas diri kita. Kita mungkin merasa itulah kebebasan, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan atau kemerdekaan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita. Siapa yang menjadi raja atas diri kita hari ini? Mari periksa hati kita masing-masing, dan tetapkanlah dengan benar, karena itu akan sangat menentukan arah hidup kita.

Hidup yang dipimpin Tuhan akan membawa kita ke dalam jalan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.