“Tinuntun Jumbuh”, Filsafat Jawa tentang Penyelenggaraan Ilahi (1)

< ![endif]-->

TINUNTUN adalah kosa kata bahasa Jawa yang kurang lebih berarti “tertuntun” oleh kekuatan supra indrawi tanpa pernah kita rancang sebelumnya. Sedangkan arti kosa  kata Jawa “jumbuh” kurang lebih sama seperti “mendapatkan jodohnya” setelah sekian lama waktu “tertuntun” oleh kekuatan di luar kemampuan manusiawi ini.

Padanan bahasa Jawa untuk kedua kata “tinuntun jumbuh” itu ibarat bunyi pepatah Jawa kuno yang mengatakan “kaya tumbu oleh tutup”. Seperti panci masak yang tiba-tiba mendapatkan tutup panci, pas, pleg, gathuk, cocok, dan …Le voila! It works very well as  expected.

Begitulah kosa kota kehidupan yang saya dapatkan di Colo, Kudus, dari sebuah pertemuan workshop penulisan dan pelatihan jurnalistik bersama tim Sesawi.Net dengan penggerak komsos dari enam paroki Keuskupan Agung Semarang di wilayah Pantura Timur, 18-19 Januari 2014.

Adalah Romo R. Haryono MSF –Direktur Balai Budaya Rejosari di Kudus– yang pertama kali mencungulkan dua kosa kata bahasa Jawa dengan kandungan filosofi kehidupan yang amat tinggi, subtil, sekaligus mendalam itu. Romo anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) ini kemudian mensharingkan pengalaman rohaninya bagaimana pada awalnya tidak ada apa-apa; namun dalam perjalanan waktu dan oleh bimbingan “Roh Kudus” sendiri, akhirnya harapan-harapan itu berhasil dipenuhi satu per satu.

Penyelenggaraan Ilahi

“Seperti peziarahan dengan jalan kaki menuju sebuah tujuan tertentu dan seiring dengan kaki  menapaki jalan menembus  waktu, maka satu per satu harapan kita itu akhirnya terpenuhi. Ibaratnya, perjalanan hidup kita ini dituntun menuju  terpenuhinya harapan hidup  hingga akhirnya satu-dua kebaikan seakan mendatangi kita tanpa pernah kita bayangkan sebelumnya,” kata Romo R. Haryono dalam sambutan singkat membuka Workshop Menulis dan Pelatihan Jurnalistik bersama tim Sesawi.Net untuk 26 penggerak Komsos dari  7 paroki di kawasan Pantura Timur di belahan Pulau Jawa Timur Laut.

Keenam paroki itu adalah Paroki Kudus, Paroki Juwana, Paroki Pati,  Paroki Gubug, Paroki Purwodadi, dan Paroki Jepara.Penyelenggaraan Ilahi 2

Filsafat “tinuntun jumbuh” itu –kata Romo R.Haryono—adalah kisah nyata tentang segala niat baik itu akhirnya dituntun oleh Tuhan sendiri hingga akhirnya dipertemukan dengan kebaikan-kebaikan lain. “Seakan-akan kita ini dituntun oleh Dia sendiri menuju kebaikan-kebaikan itu,” tandas romo yang ahli main organ ini.

Romo R. Haryono MSF Balai Budaya Rejosari

Photo credit:

  • Suasana Workshop Menulis dan Pelatihan Jurnalistik bersama tim Sesawi.Net untuk 26 penggerak Komsos 6 Paroki di Pantura Timur, Jawa Tengah (AYP)
  • Ilustrasi tentang karya penyelenggaraan ilahi (Ist)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.