Tidak Percaya Membuat Tenggelam

Ayat bacaan: Matius 14:31
======================
“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Seorang anak mendatangi saya beberapa waktu lalu dan bertanya. “Saya sedang ingin punya sesuatu, kalau doa saya tambah banyak dan panjang, bakal dapat nggak ya?” Kalau soal boleh atau tidak, tentu boleh. Kita bisa meminta sesuatu kepada Tuhan lewat doa. Tapi sejauh mana doa itu memperoleh jawaban? Ada banyak orang yang berpikir seperti si anak tadi. Mereka menaikkan frekuensi berdoanya untuk memaksa Tuhan mendengar permintaan mereka. Ada yang terus berdoa dan mengira iman mereka otomatis bertumbuh, padahal kenyataannya sering berdoa ternyata tidak selalu menghasilkan pertumbuhan iman. Bukankah ada banyak orang yang berdoa tapi tidak merasakan atau mendapatkan apa-apa? Banyak orang yang melakukan doa hanya sebatas seremonial atau rutinitas semata. Mereka berdoa bukan karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar suara Tuhan dan bersatu dalam hadiratNya, namun karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan belaka. Ada pula yang semata karena takut masuk neraka dan mengira bahwa dengan ritual berulang mereka sudah terbebas dari itu. Doa yang didasari alasan-alasan keliru seperti ini tentu sulit menghasilkan sesuatu. Doa sering, tapi percaya? Wah, itu soal lain. Karena pada kenyataannya, banyak orang yang tetap ragu akankah Tuhan mau menjawab doa mereka. Doa bukan lagi menjadi sarana membangun hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan tapi sifatnya hanya karena kebiasaan atau keharusan saja. Sering berdoa, tapi tetap tidak percaya alias ragu. Berdoa, berharap, meminta sesuatu yang tentu saja bukan karena untuk pemuasan keinginan daging, jika tidak disertai dengan iman dan dipenuhi kebimbangan atau ketidakpercayaan akan kuasa Tuhan bukannya bermanfaat tapi malah akan membawa kita kepada kesia-siaan, bahkan kejatuhan.

Hari ini mari kita lihat sebuah kisah dalam Injil Matius 14:22-32. Pada sebuah subuh Yesus menghampiri murid-muridnya yang sudah berada di tengah laut dengan berjalan di atas air. (ay 25). Melihat itu, terkejutlah murid-muridNya. Reaksi mereka bukannya kagum melihat kuasa Yesus tetapi malah berteriak-teriak ketakutan, mengira yang datang itu hantu. (ay 26). Betapa ironis. Meskipun mereka sudah mengikuti Yesus dan melihat mukjizat-mukjizat dengan mata mereka sendiri, namun ternyata iman yang masih saja lemah membuat murid-murid Yesus masih gampang diombang-ambingkan ketakutan. Reaksi pertama mereka yang malah takut dan menyangka yang datang itu hantu menunjukkan betapa lemahnya keyakinan mereka.

Yesus lalu berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay 27). Beres? Belum. Karena meski sudah mendengar suara Yesus, mereka masih juga belum percaya. Maka Petrus berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay 28). Yesus pun menyuruhnya datang. Petrus percaya dan turun dari perahu. Ajaib! Ia bisa melangkah, berjalan di atas air menuju Yesus. (ay 29). Setelah beberapa saat berjalan di atas air, rupanya angin kencang yang menerpa Petrus mulai membuatnya takut. Dan ketika ia mulai takut, Petrus pun mulai tenggelam. Maka berteriaklah Petrus minta tolong kepada Yesus. (ay 30). Yesus kemudian menolong dan menegur Petrus. “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (ay 31).

Kebimbangan bukanlah perasaan yang asing bagi manusia. Perasaan seperti ini kerap timbul dalam hati kita dan sadar atau tidak, kemunculannya seringkali menghambat pekerjaan Tuhan berlaku atas kita. Yesus mengajarkan, ketika kita meminta, memintalah dengan iman. Percayalah akan kuasa Tuhan yang memungkinkan sesuatu yang mustahil sekalipun untuk terjadi. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Dari pengalaman Petrus kita bisa belajar mengenai hal ini. Ia pada awalnya percaya sehingga ia menerima mukjizat yang ajaib dengan berjalan di atas air. Tetapi ketika ia membiarkan rasa takut dalam dirinya mulai mengambil alih, ia pun menjadi bimbang dan imannya segera terkikis. Seketika itu pula ia mulai tenggelam, kehilangan mukjizat yang tadinya terjadi secara luar biasa atas dirinya.

Ketika logika kita bekerja, sulit rasanya percaya bahwa sesuatu yang diluar logika bisa terjadi. Oleh karena itulah kita harus mempergunakan iman untuk bisa percaya sepenuhnya kepada kuasa dan kasih Tuhan. Ingatlah bahwa Penulis Ibrani mengatakan bahwa “iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Hal-hal luar biasa bisa terjadi ketika kita mengimani apa yang kita doakan. Sebaliknya kebimbangan hanyalah akan menghambat sesuatu yang besar berlaku atas diri kita.

“Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.” (Matius 21:21). Lalu apa yang dikatakan Yesus pada Petrus dan murid-murid lainnya pada kisah berjalan di atas air setelah Petrus jatuh :“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Keduanya mengambarkan diri kita yang seringkali diliputi keraguan ketika menghadapi masalah. Mungkin pada awalnya kita percaya, namun ketika angin mulai bertiup kencang, kita bisa menjadi bimbang, ragu, cemas atau takut bahkan panik, dan akibatnya kita bisa tenggelam. Yakobus pun menyinggung secara jelas akan hal ini. “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7).

Kita harus selalu melatih diri kita agar memiliki iman yang teguh dan kokoh untuk menerima janji-janji Tuhan. Yakinkan diri anda bahwa tidak ada satu pun yang mustahil bagi Tuhan. Dia sanggup, bahkan lebih dari sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Berserulah kepada Tuhan dalam setiap permasalahan anda, teruslah tekun berdoa dalam nama Yesus, tanpa melupakan pentingnya mengucap syukur, dan lakukan semuanya dengan kepercayaan yang penuh didasari iman yang baik, setidaknya sebesar biji sesawi. Berdoalah karena kerinduan yang dalam akan Tuhan, bukan karena sebatas seremonial atau rutinitas belaka. Dan percayalah! Seperti gunung yang dapat dilemparkan ke laut dengan iman yang kecil sekalipun, demikian pula dengan masalah-masalah kita.

Agar tidak tercebur dan tenggelam, melangkahlah selalu dengan iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.