Tidak Akan Pernah Jatuh

Ayat bacaan: 2 Petrus 1:10
=====================
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”

tersandung, jatuh

Apakah anda pernah tersandung lalu terjatuh? Seorang anak kecil yang melintas di depan rumah saya sore ini tersandung selagi berjalan di atas permukaan jalan yang berbatu-batu. Ketidakhati-hatiannya membuatnya terjerembap jatuh. Untung dia tidak mengalami masalah apa-apa. Ia langsung bangkit dan berjalan lagi meski agak sedikit terpincang-pincang di awalnya disertai wajah yang agak meringis. Kita semua pernah mengalami hal ini. Bukan hanya di jalan terjal, berbatu, tapi terkadang di jalan yang mulus itu bisa terjadi. Jalan mulus bisa membuat kita tidak waspada, sehingga ketika ada sebentuk benda yang tidak kita lihat menghalangi langkah kita, kita pun bisa tersandung karenanya. Tersandung bisa sepele, tapi bisa pula menjadi berat jika ekses yang diakibatkan ternyata mencederai kita secara serius. Teman saya di SMA pernah tersandung begitu selesai bermain basket. Posisi jatuhnya ternyata cukup berakibat fatal. Ia kehilangan beberapa gigi karena mulutnya tepat menghantam permukaan keras di mana ia jatuh. Adik saya sempat sobek bibirnya karena jatuhnya menghantam ujung meja. Di sisi lain, kita seringkali tersandung dan bisa kembali melanjutkan langkah kita seperti halnya si anak.

Jatuh bangun dalam iman pun dialami oleh banyak orang. Bahkan ada orang yang sudah begitu sering jatuh bangun sehingga mereka sudah sulit menerima bahwa mereka sebenarnya direncanakan untuk tidak pernah jatuh. Tuhan sebenarnya sudah menjanjikan bahwa kita anak-anakNya tidak akan pernah tersandung dan jatuh. Firman Tuhan berkata bahwa ada sesuatu yang dapat membuat kita tetap berdiri tegak dan terhindar dari kejatuhan ini. Apa itu? Ketekunan. Ketekunan untuk berusaha lebih serius lagi atas panggilan dan pilihan Allah atas diri kita. Paulus menggambarkannya demikian: “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Kata tersandung dalam versi bahasa Inggris dijelaskan dengan “stumble or fall.” Tidak hanya tersandung, tapi juga terjatuh. Kata ketekunan atau keseriusan, kerajinan untuk berusaha keras untuk lebih sungguh-sungguh ini memiliki arti yang sangat penting. Kita perlu tahu bahwa kita tidak akan pernah dapat menghayati hidup yang penuh kemenangan tanpa adanya ketekunan ini.

Panggilan dan pilihan Allah, ini dijelaskan oleh Petrus di awal perikop. “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” (ay 1). Sejalan dengan ini, Paulus menulis rincian yang lebih jelas. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:30). Sejak semula Allah telah memilih dan menentukan panggilanNya. Inilah yang harus kita teguhkan dengan sungguh-sungguh, jangan disepelekan dan tidak diperhatikan. Bersungguh-sungguh artinya tidak sekedar menjalankan. Bersungguh-sungguh ada pada level di atasnya. Tekun berdoa, rajin beribadah, bisa dilakukan hanya karena rutinitas, sesuatu yang sudah terpola dari keluarga, atau alasan-alasan duniawi lainnya. Bersungguh-sungguh artinya melakukan lebih dari itu, dengan menyadari dengan sepenuhnya, mendasarkan setiap doa, pujian, penyembahan, perenungan dan sebagainya dari hati yang paling dalam yang memandang Tuhan dengan kasih tulus dan murni. Seperti apa bentuknya? Petrus menjabarkannya seperti ini: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” (2 Petrus 1:5-7). Lihatlah rantai yang terjalin dalam ayat-ayat ini. Itulah bentuk usaha sungguh-sungguh untuk lebih meneguhkan panggilan dan pilihan yang telah ditetapkan Tuhan sejak semula.

Petrus, Paulus dan murid-murid lainnya tahu bahwa kita tidak akan mampu hidup dengan iman ala kadarnya. Kita tidak bisa hidup dengan mengabaikan nilai dan prinsip kekristenan dan berharap dapat tetap diselamatkan. Dan kita pun tidak bisa melakukannya setengah-setengah. Di satu sisi kita taat, di sisi lain kita langgar. Di saat tertentu kita patuh, tapi di saat lain kita mengabaikannya. Tidak, ini tidaklah menggambarkan sebuah kesungguhan. Yakobus berkata “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10). Kita tidak akan bisa berdiri teguh tanpa membaca alkitab sepanjang minggu. Tidak akan pernah cukup jika kita hanya mengandalkan kebaktian seminggu sekali di gereja saja, lalu hidup sepenuhnya tanpa Tuhan selama seminggu penuh. Itu tidak akan pernah cukup. Jika kita termasuk dalam golongan ini, tidaklah heran jika kita terus saja tersandung, terjatuh dan lagi-lagi gagal.

Tuhan berfirman: “Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 54:17). Yes! Inilah bagian dari kebenaran yang seharusnya kita terima. Kita seharusnya dicanangkan untuk tidak pernah tersandung dan terjatuh. Never stumble or fall. Berusaha sungguh-sungguh untuk meneguhkan panggilan dan pilihan kita akan membawa kita naik ke level yang lebih tinggi, dimana semua berkat Tuhan berada. “Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:11). Ini janji Tuhan bagi kita semua. Jika demikian, haruskah kita terus tersandung dan terjatuh? Firman Tuhan berkata: “Sekali-kali tidak!” (Roma 11:11). Jika kita ingin bertahan menghadapi hari-hari yang sulit yang akan terus datang, kita semua membutuhkan iman yang dewasa, sebentuk iman yang dapat memindahkan gunung. Dan caranya tidak lain adalah dengan lebih sungguh-sungguh lagi menyerahkan diri kita kepada Firman. Jika kita sudah melakukannya, berusahalah untuk lebih baik dan lebih rajin lagi daripada sebelumnya. Paulus berkata: “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tesalonika 4:1). Rajinlah untuk memastikan bahwa panggilan dan pilihan atas kita tetap teguh. Dan lihatlah, tidak peduli betapa pun sulitnya keadaan, kita tidak perlu jatuh.

Hindari tersandung dan jatuh dengan lebih bersungguh-sungguh lagi bertekun memenuhi pilihan dan panggilan Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: