Tidak Ada Yang Kehilangan

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 21:20
=========================
“…Ia meninggal dengan tidak dicintai orang…”

tidak ada yang kehilangan, tidak dicintai, jahat di mata Tuhan

Ketika di SMA ada seorang guru yang secara rata-rata tidak disukai oleh murid-murid disana. Beliau memang suka menghukum, lupa bawa buku saja hukumannya bisa runyam, belum lagi jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Hukuman berupa dikeluarkan dari kelas atau pemotongan nilai bisa diberikan karena alasan-alasan yang sepele saja. Lama tidak mendengar cerita tentang bapak guru itu, pada suatu kali ketika bertemu dengan seorang teman lama, ia bercerita bahwa pak guru “killer” itu ternyata sudah meninggal. “Baguslah.. nggak bakalan ada yang kehilangan..” kata teman saya itu. Wah, kesal sih boleh, tapi haruskah ia sampai sedendam itu hingga mengeluarkan kata-kata demikian? Saya sendiri tidak punya masalah terhadap guru itu, meski saya pun pernah dihukum satu kali ketika lupa membawa buku. Tapi itu tidak membuat saya mendendam, karena yang saya tahu sebenarnya ia sosok yang baik. Hanya saja ia sangat mementingkan disiplin yang justru bagus buat membentuk murid-murid agar tumbuh baik. Tapi kedisiplinan itu ternyata dianggap terlalu kaku bagi sebagian murid seperti teman saya. Itu orang yang sebenarnya baik namun disalahartikan. Bagaimana jika orang yang benar-benar jahat, yang selama ini tidak pernah peduli malah selalu menyusahkan yang dipanggil pulang? Mungkin rasa tidak kehilangan itu bakal lebih parah.

Betapa menyedihkannya jika pada suatu saat kita dipanggil pulang, namun tidak satupun orang yang peduli. Tidak ada yang kehilangan, tidak ada yang sedih, malah mungkin bersorak dan bersyukur dengan tidak adanya kita lagi di dunia ini. Mengenai hal ini Alkitab mencatat sosok seorang raja yang mengalaminya, yaitu raja Yoram. Ketika ia meninggal, alkitab mencatat bahwa tidak ada orang yang peduli, tidak ada yang kehilangan dan tidak ada yang sedih karena ia tidaklah dicintai orang. “Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja” (2 Tawarikh 21:20). Dalam versi NKJV dikatakan “He was thirtytwo years old when he became king. He reigned in Jerusalem eight years and, to no one’s sorrow, departed. Seperti apa kesalahan Yoram hingga ia diperlakukan demikian? Sikap Yoram semasa hidup memang buruk. Kalau kita membaca cerita mengenai dirinya, kita akan tahu bahwa ia tidaklah mencerminkan ayahnya, Yosafat, sama sekali. Ia malah hidup seperti mertuanya Ahab yang tidak benar. Dikatakan bahwa Yoram hidup seperti halnya raja-raja Israel yang sesat. Seperti Ahab mertuanya, ia pun menyembah Baal, bahkan membunuh saudara-saudaranya sendiri. (ay 12-13). Hal yang sama bisa kita lihat pada kitab 2 Raja Raja. “Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab.” (2 Tawarikh 21:6, 2 Raja Raja 8:18a). Dikatakan bahwa ia hidup seperti Ahab sang mertua, yang juga buruk kelakuannya. “Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya. Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya.” (1 Raja Raja 16:30-31). Sementara Yosafat menghapuskan penyembahan berhala dan mengharuskan rakyat untuk menyembah Tuhan saja, Yoram bukannya meneladani sosok ayahnya tapi malah sebaliknya memilih untuk mengikut gaya hidup Ahab yang “jahat di mata Tuhan lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya.” Sama seperti Ahab, Yoram pun disebut melakukan hal-hal jahat di mata Tuhan. “Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (2 Tawarikh 21:6b, 2 Raja Raja 8:18b). Dan Tuhan pun menjatuhkan tulah atasnya berupa penyakit usus yang tidak dapat disembuhkan. Ketika ia meninggal, tidak satupun orang menangisi kepergiannya.

Tentu tidak ada satupun di antara kita yang mau menerima nasib seperti Yoram. Kita semua tentu ingin harum dalam memori orang-orang yang kita tinggalkan, yang akan diingat dan dikenang lewat hal-hal baik yang pernah kita perbuat selama hidup. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menghasilkan buah-buah yang baik. Jika kita hidup sesuai kedagingan atau hawa nafsu duniawi, kita pun akan berbuah seperti itu. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21a). Yang seperti ini dikatakan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (ay 21b). Tidak disukai Allah, tidak juga dikasihi manusia. Sebaliknya, hiduplah dalam Roh. Sebab jika kita memberi diri untuk dipimpin oleh Roh, kita pun akan menghasilkan buah-buah Roh. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (ay 22-23). Buah-buah Roh ini yang akan membuat kita berkenan di hadapan Allah. Dikasihi Allah dan juga dihormati manusia. Paulus menuliskan dalam surat Roma: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. (Roma 14:17). Buah-buah Roh ini akan membuat hubungan kita dengan Allah dan sesama menjadi baik. Dalam buah-buah Roh terkandung kedua hukum yang terutama yaitu mengasihi Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22:37), dan mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri (ay 39). Dengan demikian, apabila kita hidup dengan menghasilkan buah Roh, di satu sisi kita berkenan di hadapan Tuhan, di sisi lain kita pun akan mendapatkan penghormatan dari sesama manusia.

Dikasihi Tuhan dan sesama itu sudah seharusnya seiring sejalan. Salah apabila ada yang menganggap bahwa kita harus memilih salah satu. Hidup kudus bukanlah berarti bahwa kita harus terus bersikap menggurui dimana-mana, terus menerus mengkotbahi orang seolah-olah kita orang yang paling benar di dunia ini. Jika itu yang kita lakukan, bukannya menjadi terang tapi kita malah bisa menjadi batu sandungan dimana-mana. Di sisi lain, agar dikasihi sesama bukan berarti kita harus mentolerir dosa dan ikut dengan berbagai perilaku duniawi yang tidak sejalan dengan kehendak Allah. Buah-buah Roh menunjukkan serentetan hal yang bisa kita jadikan pedoman untuk bersikap dalam hidup, dimana hasilnya akan indah baik bagi Tuhan maupun bagi sesama kita. Ingatlah bahwa bagaimana kita menyikapi hubungan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, akan menentukan sejauh mana kita akan dirindukan oleh orang-orang yang kita tinggalkan kelak. Jika ini kita pegang dengan baik, kita akan hidup untuk menyenangkan Tuhan dan memberikan kasih kepada orang lain. Ini keduanya haruslah sejalan. Tidak ada yang tahu kapan kita meninggalkan dunia ini, oleh karenanya mulailah dari sekarang untuk hidup benar agar tidak ada penyesalan kelak di kemudian hari.

Hiduplah dengan menghasilkan buah-buah Roh agar kita tidak berakhir seperti Yoram

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.