Tidak Ada Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 14:1
=====================
“Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”

tidak ada Tuhan

Sudah mau pensiun, tapi masih korupsi. Demikian cerita tetangga saya kemarin. Atasannya di kantor hanya tinggal beberapa bulan lagi disana. Tapi di waktu yang sudah sempit itu, ia masih sempat melakukan manipulasi untuk membeli mobil untuk dipakai sendiri. Dan sialnya, tetangga saya itu yang ia perintahkan untuk menandatangani pembelian mobil. Tentu saja tetangga saya menolak dengan tegas. “Tidak apa-apa, tidak usah takut..nanti kalau ada tim audit, cat saja mobilnya dengan warna mobil dinas, setelah mereka pergi, catnya diganti lagi..” kata si atasan itu. Untung tetangga saya tidak mau terjebak. Ia masih dengan tegas menolak, walaupun mungkin resikonya ia bisa diturunkan atau kehilangan pekerjaan disana. Seperti itulah gambaran instansi-instansi di negara kita. Hampir di setiap sisi kita menemukan korupsi dalam berbagai bentuk. Sangat inovatif, sangat kreatif. Cerdik, licin, pintar berkelit dalam melakukan kecurangan. Seandainya kepintaran mereka itu dipakai untuk tujuan yang baik, negara kita mungkin sudah jauh lebih maju dari keadaan sekarang. Tapi begitulah, banyak orang yang berpikiran sangat pendek, melakukan penipuan yang sebenarnya hanya memberi kenikmatan sementara. Sama sekali tidak sebanding dengan dosa yang mereka tanggung lewat perbuatan mereka.

Ayat bacaan hari ini ditulis oleh Daud: “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah”. Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.” (Mazmur 14:1). Kepada siapa ayat ini ditujukan? Kepada atheis? Kepada orang yang tidak percaya? Bagaimana jika saya katakan bahwa ayat ini bisa mengenai kita juga? Tentu kita tidak pernah bermimpi bahwa ayat ini dapat disematkan pula kepada kita. Bukankah kita mengakui bahwa Tuhan ada? Jika ditanya apakah Tuhan ada atau tidak, tentu kita akan dengan cepat berkata bahwa Tuhan itu jelas ada. Tapi mari kita berpikir sekali lagi. Memang benar dari mulut kita, ucapan bahwa Tuhan ada bisa keluar. Kita tidak akan pernah berkata bahwa Tuhan tidak ada. Tapi bagaimana dengan tindakan kita?

Kenyataannya kita seringkali berkompromi dengan dosa. Menganggap bahwa dosa kecil itu tidak masalah. Sedikit melakukan kecurangan itu tidak menjadi soal. Membunuh, itu dosa, tapi menyontek atau sedikit melakukan mark-up di kantor itu wajar. Meminta lebih dari kebutuhan dengan alasan yang palsu itu lumrah. Melakukan kecurangan-kecurangan itu manusiawi, toh semua orang juga demikian. Gosip sedikit itu biasa. Bukankah banyak orang percaya yang masih memiliki pola pikir seperti itu? Semua itu jelas-jelas termasuk mengabaikan perintah Tuhan. Itu bukanlah gambaran hidup sebagai orang yang benar. Sekecil apapun, dosa tetap dosa, yang harus dipertanggungjawabkan pada waktunya nanti di hadapan Tuhan. Mulut kita mungkin mengakui Tuhan ada, tapi perbuatan, perilaku kita dalam hidup belum tentu menyatakan hal yang sama. Lewat perbuatan-perbuatan kita yang bertoleransi dengan dosa, kita tanpa sadar sudah menyatakan ketidakpedulian kita terhadap keberadaan Allah yang mampu melihat segalanya. Bukankah dengan tindakan-tindakan seperti itu kita sebenarnya sedang berkata bahwa Tuhan itu tidak ada? Maka ayat bacaan ini pun bisa mengenai diri kita, orang-orang percaya.

Daud menggambarkan perbuatan seperti ini dengan sangat keras. “Busuk dan jijik perbuatan mereka.” Menjijikkan dan penuh kebusukan. Seperti itulah Daud mengaitkan perilaku seperti itu. Sadar atau tidak, semakin jauh orang bertindak seperti itu, semakin busuk dan menjijikkan pula dirinya. Tidak peduli kecil atau besar, dosa tetaplah dosa yang akan menjauhkan kita dari Tuhan yang kudus. Yesus pernah menegur orang-orang Farisi yang munafik. Berpenampilan rohani, hafal Taurat Tuhan, tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai duta-duta Allah di dunia ini. “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus mengacu kepada nubuat nabi Yesaya yang mengatakan “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Perilaku seperti ini akan mendapat ganjarannya sendiri, seperti apa yang bisa kita lihat pada ayat selanjutnya. “maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (ay 14). keajaiban yang menakjubkan” disini bukanlah berbicara dalam arti positif, tapi bermakna negatif. Kehancuran dan kebinasaan akan menimpa orang-orang munafik yang perkataannya tidak sejalan dengan tindakan.

Sekecil apapun dosa itu, kita tidak boleh memberi toleransi jika kita mengakui bahwa Tuhan itu ada. Yakobus mengatakan “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10). Kita harus mampu menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya, terus berusaha untuk lebih taat lagi agar mampu hidup sebagai orang-orang kudus. Bukan cuma dari perkataan tapi terlebih dari perbuatan kita. Karena seperti apa cara kita hidup akan menyatakan sejauh mana kita percaya kepada Tuhan. Bahkan firman Tuhan berkata demikian: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Tubuh kita yang tetap dijaga kekudusannya, tetap berjalan sesuai firman Tuhan, itulah yang merupakan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan dihadapanNya. Dan itulah ibadah yang sejati. Bukan hafalan, bukan lips service dan bukan sebatas di bibir saja. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak segampang itu untuk menyatakannya lewat perbuatan. Mari kita mulai menjaga perbuatan-perbuatan dan tingkahlaku kita, agar setiap langkah yang kita buat akan menyatakan keberadaan Allah.

Nyatakan keberadaan Allah bukan hanya sebatas ucapan, tapi juga lewat tindakan dan perbuatan

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.