Tidak ada Allah? (2)

(sambungan)

Pada kenyataannya kita masih suka berkompromi dengan dosa. Kita mengira bahwa dosa kecil itu tidak masalah. Sedikit melakukan kecurangan itu tidak menjadi soal. Membunuh, mencuri, itu memang dosa. Tapi menyontek atau sedikit melakukan mark-up di pekerjaan itu wajar.Meminta lebih dari kebutuhan dengan alasan yang palsu itu lumrah. Melakukan kecurangan-kecurangan itu manusiawi, toh semua orang juga demikian.  Dalih uang rokok, uang jerih payah, uang pengganti lelah, itu menjadi pembenaran atas perlakuan curang. Gosip sedikit itu biasa. Bukankah banyak orang percaya yang masih memiliki pola pikir seperti itu? Padahal semua itu jelas-jelas tergolong mengabaikan juga melanggar perintah Tuhan. Itu bukanlah gambaran hidup sebagai orang yang benar. Sekecil apapun itu, dosa tetaplah dosa yang harus dipertanggungjawabkan pada waktunya nanti di hadapan Tuhan. Mulut kita mungkin mengakui Tuhan ada, tapi perbuatan, perilaku kita dalam hidup belum tentu menyatakan hal yang sama. Lewat perbuatan-perbuatan kita yang bertoleransi dengan dosa, kita tanpa sadar sudah menyatakan ketidakpedulian kita terhadap keberadaan Allah yang mampu melihat segalanya. Bukankah dengan tindakan-tindakan seperti itu kita sebenarnya sedang berkata dalam hati kita bahwa Tuhan itu tidak ada? Maka ayat bacaan ini pun bisa mengenai diri kita, orang-orang percaya yang masih terus berbuat pelanggaran atas ketetapan-ketetapan Tuhan.

Daud menggambarkan perbuatan seperti ini dengan sangat keras. “Busuk dan jijik perbuatan mereka.” Menjijikkan dan penuh kebusukan. Sadar atau tidak, semakin jauh orang bertindak seperti itu, semakin busuk dan menjijikkan pula dirinya. Dosa dalam ukuran apapun akan semakin menjauhkan kita dari Tuhan yang kudus. Yesus pernah menegur orang-orang Farisi yang munafik. Berpenampilan rohani, hafal Taurat Tuhan, tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai duta-duta Allah di dunia ini. “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus mengacu kepada nubuat nabi Yesaya yang mengatakan “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Perilaku seperti ini akan mendapat ganjarannya sendiri, seperti apa yang bisa kita lihat pada ayat selanjutnya. “maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (ay 14).Kata ‘keajaiban yang menakjubkan’ disini bukanlah berbicara dalam arti positif, tapi bermakna negatif. Kehancuran dan kebinasaan akan menimpa orang-orang munafik yang perkataannya tidak sejalan dengan tindakan.

Sekecil apapun dosa itu, kita tidak boleh memberi toleransi kalau memang kita mengakui bahwa Tuhan itu ada. Yakobus mengatakan “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10). Kita harus mampu menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya, terus berusaha untuk lebih taat lagi agar mampu hidup sebagai orang-orang kudus. Bukan cuma dari perkataan dann penampilan tapi terlebih dari perbuatan kita. Karena seperti apa cara kita hidup akan menyatakan sejauh mana kita percaya kepada Tuhan. Bahkan firman Tuhan berkata demikian: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Tubuh kita yang tetap dijaga kekudusannya, tetap berjalan sesuai firman Tuhan, itulah yang merupakan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan dihadapanNya. Dan itulah ibadah yang sejati. Bukan hafalan, bukan lips service, sebatas di bibir saja dan bukan pula tergantung atribut yang kita pakai. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak segampang itu untuk menyatakannya lewat perbuatan. Mari kita mulai menjaga perbuatan-perbuatan dan tingkah laku kita, agar setiap langkah yang kita buat akan menyatakan keberadaan Allah.

Nyatakan keberadaan Allah bukan hanya sebatas ucapan, tapi juga lewat tindakan dan perbuatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.