The Power of Love

Ayat bacaan: Yohanes 3:16
==================
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

the power of love

Merry christmas! Selamat Hari Natal! Ucapan ini akan kita berikan kepada saudara-saudari seiman baik lewat ucapan langsung disertai salaman, lewat kartu pos darat/elektronik, sms, telepon, email dan sebagainya. Kita bersukacita dalam menyambut Natal, berbagai tempat perbelanjaan terlihat semarak. Jika di negara kita saja sudah demikian meriah, apalagi di luar sana dengan adanya salju putih yang menambah keindahan malam Natal. Saya pernah merayakan Natal di Swedia sekitar sepuluh tahun yang lalu, dan memang kerlap kerlip pohon terang akan berpadu sangat indah dengan putihnya salju. Di tempat saya menginap seisi keluarga merayakannya dengan makan malam bersama dan bertukar kado. Meriah memang, tetapi tidak satupun dari yang hadir mengambil waktu khusus untuk merenungkan apa yang menjadi makna Natal sesungguhnya, bahkan berdoa saja tidak. Saya sendiri pada waktu itu belum mengerti dan hanya menikmati saja pesta meriah itu.

Secara khusus judul dari renungan di hari Natal ini terngiang-ngiang sehari penuh di benak saya. The Power of Love. Kekuatan dari cinta/kasih. Saya percaya ini pesan Tuhan yang secara spesifik mengingatkan kita akan esensi dari apa yang kita rayakan sebagai hari Natal. Ya, ini adalah hari dimana kita merayakan kelahiran Kristus turun ke dunia. KedatanganNya membawa misi yang sungguh mencengangkan, yaitu menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan, memindahkan kita dari kematian untuk masuk ke dalam kehidupan kekal, ke dalam keselamatan. Mencengangkan? Jelas. Apa yang kita perbuat untuk memperoleh hal itu? Apakah kita begitu luar biasa baiknya sehingga Allah berhutang budi kepada kita? Sama sekali tidak. Yang terjadi justru sebaliknya, kita terus saja menyakiti dan mengecewakanNya dengan perbuatan-perbuatan kita yang seringkali tidak sedikitpun menghargai Pencipta kita. Tetapi lihatlah apa yang terjadi. Dalam keadaan kita masih penuh dosa, Tuhan ternyakenan memutuskan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa besar demi kita. Tidak tanggung-tanggung, AnakNya pun diberikan kepada kita untuk menggantikan kita semua di atas kayu salib, memikul seluruh dosa dan pelanggaran kita dan menebus semua itu dengan lunas. Firman Tuhan secara jelas menyatakan “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Kekuatan apa yang mampu menggerakkan Allah untuk mengambil keputusan yang sangat mencengangkan ini? Jawabannya adalah KASIH. Adalah kekuatan kasih yang sanggup menggerakkan hati Tuhan untuk menganugerahkan kita semua, yang seharusnya tidak layak, dengan keselamatan. That’s the power of love.

Mari kita renungkan baik-baik ayat emas berikut ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Tuhan mengaruniakan AnakNya yang tunggal, agar kita yang percaya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. Mengapa? Karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Begitu besarnya kekuatan kasih atau cinta ini sehingga mampu menggerakkan hati Tuhan. Tidak ada kekuatan apapun lagi yang mampu menandinginya. Paulus mengingatkan kita bahwa ada tiga hal yang tetap harus kita lakukan. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:13). Diantara ketiganya, kasih adalah yang terbesar.

Jika Tuhan saja mau bersikap pro-aktif di saat kita masih berdosa, dan itu karena kekuatan kasih, tidakkah seharusnya kita pun bisa bersikap demikian, mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh seperti halnya kasih Tuhan kepada kita, dan menyatakan kasih pula kepada sesama kita? Tidakkah seharusnya kita tidak berpangku tangan melihat orang-orang yang masih berada dalam penderitaan, mereka yang butuh pertolongan, bahkan yang masih terikat atau terpenjara dalam dosa? Sebab percuma kita mengaku orang Kristen, yang berarti pengikut Kristus, jika kita sama sekali tidak memiliki kasih dalam diri kita. Yohanes berkata “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Jika anda merayakan Natal dengan pesta, maukah kita memberikan sebagian dari itu untuk berbagi kasih dengan sesama yang tidak seberuntung kita? Jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah kepada kita sehingga Dia rela menyerahkan AnakNya sendiri demi keselamatan kita, ada satu hal yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Yesus sudah mengatakan hal ini: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:45). Itu salah satu cara bagi kita untuk sedikit membalas kebaikan dan kasih Tuhan. Menjaga diri agar tetap kudus, tetap berjalan dengan mematuhi firmanNya, membiarkan Tuhan bertahta atas segala sesuatu yang kita perbuat, itulah hal-hal lainnya yang menunjukkan seberapa besar kita menghargai besarnya kasih Tuhan kepada kita.

Saya tidak mengatakan bahwa pesta perayaan Natal itu salah. Tidak sama sekali. Tetapi maukah kita mulai berbuat sesuatu dengan memikirkan orang lain atas dasar kasih? Maukah kita belajar untuk berempati dan mengasihi orang lain lebih lagi dan bergerak untuk melakukan sesuatu bagi mereka? Hari Natal ada karena kasih yang begitu besar dari Tuhan kepada kita, dan sudah seharusnya kasih Allah ini bisa menjangkau lebih banyak orang lagi. Selamat Hari Natal buat teman-teman sekalian, Tuhan memberkati anda semua.

Extend God’s love to others in Christmas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.