The Loneliest ‘Man’ in the World

Ayat bacaan: Yesaya 42:20
====================
“Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.”

“Banyak anak, tapi kenapa saya masih kesepian juga ya…” Demikian ujar seorang bapak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya pada suatu hari. Saya ingat betul saat itu hari libur, dimana anak-anaknya yang rata-rata masih muda dan kecil seharusnya, atau setidaknya ada menemaninya. Tapi ternyata semua anaknya punya kesibukan sendiri-sendiri, sehingga tinggalah ia sendirian dan berjalan keluar hingga bertemu saya. Ah, ternyata punya banyak anak tidak menjamin kebahagiaan orang tua, terlebih ketika orang tuanya merupakan tipe orang yang merindukan kehadiran anak-anak ada dekat dengan mereka.

Hari ini saya teringat kembali akan hal itu. Disini saya duduk dan membayangkan, jika seandainya Tuhan saat ini ada dalam wujud manusia di bumi, Tuhan sepertinya akan menjadi orang yang paling kesepian di bumi ini, the loneliest ‘Man’ in the world. Mengapa saya katakan demikian? Bayangkan ada berapa milyar manusia di dunia ini yang Dia ciptakan, tapi berapa banyak yang mampu atau mau mendengar suaraNya? Bukankah menyedihkan apabila Bapa yang penuh kasih rindu agar anak-anakNya berjalan sesuai rencanaNya yang indah dan terbaik, sangat ingin didengar, tapi jarang yang mau peduli?

Ada dua telinga bagi setiap manusia, dan hanya ada satu mulut. Tapi ternyata mulut kerap jauh lebih dominan ketimbang telinga. Seringkali pendengaran kita alpa berfungsi. Masuk kiri keluar kanan, seolah-olah dari telinga kiri ke kanan hanyalah berisi sebuah terowongan kosong bebas hambatan. Ada begitu banyak pengajaran dari orang tua, saudara, teman-teman yang sangat baik untuk dijadikan bekal hidup, namun hanya sedikit yang didengar, apalagi yang dipraktekkan. Kalau nasihat orang tua atau sanak saudara/teman dekat saja sudah tidak mau didengar, apalagi Tuhan yang tidak hadir secara nyata di depan kita.  Rajin ke gereja dan sering mendengar kotbah, namun begitu pulang langsung lupa. Itupun menjadi kebiasaan banyak orang.Tidak heran apabila banyak orang yang akhirnya menyesal dalam hidup karena tidak mendengar peringatan-peringatan baik yang berasal dari orang yang lebih berpengalaman atau bijaksana dan dari Tuhan sendiri.

Sebuah teguran keras Tuhan dijatuhkan pada bangsa Israel. “Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.” (Yesaya 42:20). Kalau mundur lebih jauh, sejak Adam dan Hawa pun masalah yang sama sudah terjadi. Ketika Yesus datang, peringatan yang sama masih saja diberikan. “barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar”, dan ini bukan hanya sekali disampaikan tapi bisa ditemukan dalam berbagai kesempatan. Jika anda peka terhadap suaraNya, anda akan menyadari betapa Tuhan terus menerus berbicara pada kita memberitahukan banyak hal. Menjaga, mengingatkan, menegur dan mengajarkan anda terhadap berbagai kebenaran, menyibak rahasia Kerajaan yang bisa membuat anda tampil berbeda dari kebiasaan yang dianut orang dunia. Namun terkadang kita terlalu sibuk dalam hal-hal lain untuk mau mendengar perkataanNya. Siapa yang rugi? Tentu kita sendiri. Apabila ini masih dibiarkan berlarut-larut, akan tiba masanya dimana kita tidak lagi punya kesempatan untuk mendengar dan memperbaiki diri. Kematian kedua, seperti yang dikatakan dalam kitab Wahyu bisa ditimpakan kepada kita. Inilah yang diingatkan kepada jemaat di Smirna, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” (Wahyu 2:11).

Telinga boleh sama-sama ada dan serupa letaknya, tapi hanya sedikit yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh apa yang Tuhan ingin katakan, apalagi yang mau menuruti atau melakukan yang disampaikanNya. Dalam Amsal disampaikan: “baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan” (Amsal 1:5). Orang yang bijak itu mendengar, belajar dari pengalaman dan petuah orang-orang yang lebih bijaksana dari kita sehingga kita bisa menambah ilmu dan mendapatkan berbagai masukan yang berguna sebagai bekal pertimbangan dalam menghadapi hidup. Tuhan tidak sabar ingin berbicara pada kita semua hari ini, maka jadilah bijak agar tidak harus menyesal di kemudian hari. Jangan sampai teguran keras Tuhan seperti yang ada di Yesaya ini menjadi bagian kita: “Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta!” (Yesaya 42:18). Sekali lagi, kita sendirilah yang akan menderita kerugian jika kita mengabaikan untuk mendengar. Maka “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7b). Pakai telinga baik-baik untuk mendengar nasihat orang lain, buka hati dan lembutkan agar bisa mendengar suaraNya membimbing kita. God wishes to talk to us, don’t ignore Him, stop making Him as the loneliest ‘Guy’, listen to Him and let Him guide you through your daily life. 

He’s ready to talk, are we ready to listen?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.