The Face of Rage

Ayat bacaan: Mazmur 37:8
========================
“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”

marah, lemah lembut, penguasaan diri

Lihatlah televisi hari-hari ini, dan anda akan dengan mudah melihat bagaimana wajah dari sebuah amarah. The face of rage, seperti itu saya gambarkan, akan dengan jelasnya terlihat dalam beragam acara, mulai dari berita-berita tentang demonstrasi, kericuhan, tawuran, perkelahian, atau perdebatan di parlemen bahkan ada banyak pula acara yang memanfaatkan kemarahan dan emosi untuk menarik rating. Intinya, bagaimana memancing kemarahan seseorang atau sekelompok orang, dan ketika muka mereka memanas dan berubah menjadi ganas, ketika mereka mulai mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas atau mulai mencoba menyerang secara langsung, disanalah acara itu dianggap menarik. Begitu banyak pola kemarahan yang kita tonton sehari-hari, sehingga bisa-bisa lama kelamaan kita akan berpikir bahwa emosi meledak-ledak itu wajar saja. Dan ada banyak orang yang mengira bahwa mereka bisa membuat wibawa mereka meroket lewat gaya penuh emosi, meledak-ledak dalam kemarahan. Dengan terus menerus membentak atau marah, atau setidaknya memasang wajah dingin, mereka mengira bahwa mereka akan terlihat berkuasa. Seharusnya tidaklah demikian. Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk memupuk emosi. We are not to have the face of rage. God never created us for that.

Berulang-ulang dalam banyak ayat Alkitab mengajarkan kita untuk tidak memendam amarah. Apalagi memupuk dan terus meningkatkan kebiasaan kita untuk terbakar emosi. Lihatlah firman Tuhan dalam Mazmur berikut: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mazmur 37:8). Kita diingatkan untuk segera meredakan kemarahan dan mendinginkan hati secepat mungkin, karena ada banyak kejahatan yang mengintip di balik sebuah kemarahan. Ini bukannya berarti kita tidak boleh marah. Marah itu boleh saja, tetapi jangan membiarkan diri kita mengalaminya berlarut-larut, karena eskalasi kemarahan itu biasanya akan terus meningkat jika tidak segera kita redam, dan pada akhirnya ada banyak kebodohan hingga dosa yang akan kita lakukan, yang pada suatu saat akan membuat kita menyesal sesudahnya. Seandainyapun kita harus marah, “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:4).

Mari kita lihat kelanjutan ayat dalam Mazmur 37 di atas. Setelah Daud mengatakan bahwa kemarahan itu tidak akan membawa manfaat apa-apa selain mengarah kepada berbagai tindak kejahatan, demikian bunyi ayat berikutnya: “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.” (Mazmur 37:9). Orang-orang yang berbuat jahat tidak akan mewarisi apa-apa selain kebinasaan yang kekal. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan Yesus setelahnya: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5). Orang yang mudah dipenuhi kemarahan tidak mampu menguasai diri mereka dan hanya akan menuai kehancuran, sebaliknya orang yang lemah lembut akan memperoleh banyak hal, bahkan dikatakan orang yang demikian akan memiliki bumi.

Lemah lembut merupakan satu dari sekian banyak buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22). Tetapi bagaimana mungkin kita bisa lemah lembut ketika ada orang-orang yang memang membuat kita kesal atau emosi? Bukan salah kita dong kalau kita marah? Itu mungkin yang kita pikirkan. Tetapi dengarlah bahwa apa yang dikatakan dengan lemah lembut adalah orang yang memiliki hati tunduk kepada kehendak Tuhan dalam hidupnya. Penundukan berbicara luas dalam berbagai aspek, baik pikiran, tindakan, perkataan atau perbuatan. Dan semuanya seharusnya tunduk ke dalam tuntunan Tuhan, lewat Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita. Ketaatan kita untuk tunduk kepada Roh Allah, kerelaan kita untuk hidup dipimpin Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah yang sangat baik, dimana beberapa diantaranya adalah kelemah lembutan dan penguasaan diri. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (ay 25). Inilah yang akan membuat kita mampu terus hidup dengan lemah lembut walaupun hal-hal yang sangat berpotensi mampu membangkitkan amarah mungkin terus mendatangi kita.

Kemarahan sungguh berpotensi untuk mendatangkan bahaya bagi kita. Baik secara langsung di dunia ini, seperti berbagai penyakit yang bisa menyerang kita, maupun ancaman berbuat berbagai kejahatan yang menimbulkan dosa. Karena itulah kita harus senantiasa berusaha untuk menjaga hati kita agar tetap lemah lembut. Yakobus pun mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yakobus 1:20). Tidak ada kebaikan apapun yang bisa kita tuai dari sebuah kemarahan. There’s no benefit in placing a face of rage on our face, there’s nothing good comes from the heart that’s full with anger. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” (ay 21). Terus bekali hati, jiwa dan roh kita dengan firman-firman Tuhan, dan terimalah itu dengan lemah lembut. Hiduplah dipimpin oleh Roh Allah dan hasilkan buah-buah yang indah, sehingga kita bisa menjalani hidup dengan sukacita dan bahagia tanpa terpengaruh oleh hal apapun yang mencoba menimbulkan amarah kita. Face of rage is never be the kind of face God wants us to have. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk menahan diri, mungkin sulit bagi kita untuk memiliki hati yang lembut, tetapi itulah yang sebenarnya diinginkan Tuhan untuk kita miliki.

Tundukkanlah diri dalam Roh Kudus dan milikilah hati yang lemah lembut

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.