“The Extraction”, Analogi dalam Hidup

MENONTON film merupakan salah satu bentuk relaksasi yang disukai banyak orang. Film menjadi outlet pelepasan ketegangan dalam hidup sehari-hari. Film menghibur orang dengan mempersilakan orang mengintip hidup orang lain secara legal. Film menjadi proses peniruan atau pun pembelajaran disadari atau tidak oleh yang menikmatinya alias sang penonton.

Bagaimana kalau film tersebut tidak menyuguhkan keindahkan sinematografi atau pun kemampuan berakting yang kadang membuat kita lupa bahwa mereka sedang berpura-pura ? Bagaimana kalau film tersebut menyajikan cerita yang absurd, kadang bahkan sampai pada tingkat ‘penghinaan’ terhadap akal sehat sang penonton?

Itulah film yang kita labeli ‘tak layak dapat bintang’. Itulah pengalaman ‘buruk’ kita. Alih-alih memberikan decak kagum terhadap kualitas tinggi suatu film, sang penonton bergosip mengomeli kekurangan suatu film. Mungkin itu hiburan juga, boleh mengomel tanpa akan diomeli balik.

Lalu apa kaitannya dengan film Bruce Willis The Extraction?

Persis seperti itulah film tersebut, masuk kategori kedua. Film yang tidak akan masuk nominasi Piala Oscar untuk kategori mana pun, tetapi berpeluang besar memenangi Piala Razzie. Akting, adegan, dan skenario kompak di bawah standar. Sebuah film aksi yang tanggung, penuh jagoan tangguh tapi canggung. Adegan di beberapa bagian bertele-tele tapi tak jelas juntrungannya.

Mungkin pelajaran yang bisa kita tangkap –setiap hal pasti mengajarkan sesuatu – yaitu menonton film itu seperti halnya alam; ada malam ada siang, ada hujan ada kemarau, ada film yang bagus seperti The Revenant ada film yang kurang seperti Extraction.

avatar Bekerja di sebuah lembaga nirlaba di Jakarta.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: