“The Bourne Legacy”, Bourne tanpa Bourne

TIGA sekuel film action dengan mengambil judul penting Bourne selalu menghadirkan tokoh sentral bernama Jason Bourne yang diperankan dengan sangat gemilang oleh Matt Damon. Tapi kali ini, film sekuel keempat berjudul The Bourne Legacy –persis sesuai namanya Warisan Bourne— lain. Film hasil besutan sutradara Tony Gilroy ini sama sekali tidak menghadirkan Matt Damon –si Jason Bourne yang misterius, jago kepruk, dan tentu saja jadi ‘musuh nomor 1’ CIA.

Hanya saja, tokoh sentral film ini bernasib sama seperti Jason Bourne dalam tiga sekuel sebelumnya yakni selalu diburu kemana pun berada. Itulah yang dialami oleh Aaron Cross (Jeremy Renner), rekrutan baru untuk program Outcome  yang dirancang CIA namun akhirnya dianulir dengan konsekuensi tunggal: semua intel projek Outcome harus dimusnahkan.

Aaron hampir lulus ujian, setelah berhari-hari  berhasil merampungkan program latihan fisik dan mental dengan bertahan di Kutub. Untuk survival, dia diberi makan berupa pil dan harus diminum sesuai takaran dan dosis yang telah ditentukan. Namun, menjelang sampai berakhirnya proses ujian itu, ternyata pilnya tidak genap alias ganjil alias ada sesuatu yang tidak beres akan menimpanya.

Karena itu, ia segera kembali ke ‘darat” dan ternyata hantaman roket yang diluncurkan oleh sebuah pesawat tak berawal (drone) sudah menyambutnya. Kematiannya diharapkan, sesuai perintah kepala operasi projek Outcome yang menghendaki sisa-sisa rekrutan ini harus sirna.

Mencari obat penawar

Perjalanan Aaron Cross hendak menemukan antidote (obat penawar) inilah yang akhirnya mempertemukan dia dengan Dr Martha Shearing (Rachel Weisz), seorang ilmuwan yang bekerja di sebuah proyek rahasia bidang rekayasa genetik atas pesanan Pentagon dan CIA. Karena hal itulah, keduanya lantas diburu oleh CIA karena dianggap akan membocorkan rahasia projek Outcome .

Pelarian pasangan Marta dan Aaron akhirnya membawa mereka sampai ke Manila dimana antidote itu diproduksi dan disimpan. Persis sama seperti Jason Bourne yang jago kepruk dan cekatan merancang paspor berbagai kartu ID –termasuk paspor—palsu, maka Aaron pun punya kualifikasi sama.

Untuk meringkus mereka berdua, CIA menurunkan mesin pembunuh dari Thailand. Dengan manusia berdarah dingin inilah, action film laga berlatar belakang organisasi telik sandi Amrik ini menemukan alur ceritanya. Selain bunyi dar-der-dor,  tampilan laga dikemas dalam bentuk kebut-kebutan menyusuri jalanan padat di kawasan Manila hingga akhirnya mesin pembunuh Thailand itu terkapar kena tembak.

Aaron pun demikian. Di perutnya bersarang timah panas. Tapi seorang nelayan lokal Filipina bersedia menyediakan kapalnya sebagai penampungnya. Dan berakhirlah film laga dengan judul Warisan Bourne dengan sebuah happy-ending.

Sepanjang film berdurasi lebih dari 2 jam ini, lalu kemana saja si Bourne? Tidak jelas, selain hanya namanya terukir berantakan di sebuah papan di dalam rumah penampungan di Alaska. Okelah, sutradara pintar juga mengemasnya karena kali ini yang dihadirkan bukan sosok fisik Bourne, melainkan roh dan semangatnya untuk survive.

Dengan berakhirnya Bourne Legacy dengan paparan kisah happy-end di sebuah perahu nelayan di lepas pantai Filipina, sudah barang tentu sekuel kelima kisah Jason Bourne ini akan tetap muncul di kemudian hari.

Pertanyaannya, apakah Jason Bourne ‘asli’ yakni Matt Damon akan muncul dalam sekuel kelima? Untuk hal ini, saya memilih diam karena pertanyaan itu menganggu saya menikmati duet laga Aaron Cross dan Martha Shearing.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.