The Art of Mancing (1)

Mancing biru 1 ok

MANCING –demikian kata orang banyak—konon melatih keutamaan manusiawi bernama kesabaran.

Saya kira, omongan orang itu ada benarnya. Terlebih bila sudah menyangkut hasrat ingin segera ‘memiliki’ ikan, ketika mata pancing mulai ‘disentuh’ ikan, namun ternyata ikannya malah lepas karena kita terlalu ambisius ingin segera memilikinya.

Sebelum kita bicara soal the art of mancing, mari kita telusuri dulu makna kegiatan mancing dari perspektif memupuk keutamaan sabar.

Butuh investasi waktu yang lama
Mancing tentu saja kegiatan yang bukan terjadi hanya 1-2 jam saja. Bisa berjam-jam, apalagi sudah berhasil masuk dalam keasyikan. Untuk bisa sampai tahapan ini, butuh waktu lama untuk persiapannya. Taruhlah itu mempersiapkan semua peralatan pancing, umpan, merangkai senar berikut mata pancing di alat pancing.

Semua itu bukan pekerjaan gampang dalam pengertian harus rela bersabar diri untuk ‘berkotor ria’ dalam proses merangkai pancing siap pakai.

Butuh kesabaran tinggi menunggui lengahnya ikan

Saya baru saja menikmati acara mancing di sebuah empang di pinggiran Teluk Jakarta di kawasan Muara-Selembaran, Teluk Naga, Kec. Kosambi, Dadap, Tangerang. Itu terjadi pada masa liburan Lebaran. Jadi, setelah berpuluh tahun tidak memegang pancing, ada sejenak keraguan memegang peralatan pancing untuk ‘memancing’ ikan kakap merah yang lengah kena tipu daya saya.

Ambisi pribadi jelas mengatakan: ingin segera dapat ikan. 30 menit pertama memang sukses mendulang ikan. Namun paruh kedua selepas tengah hari, mata pancing saya sama sekali bergeming ‘disambar’ ikan.

Jadilah, saya bête abis, hingga kemudian ada orang baik meminjami saya pancingnya yang lebih ‘sederhana’. Ternyata berhasil: mata pancingnya ‘kena’ setelah nyemplung empang tidak lebih dari 10 menit.

Kebaikan orang membuat kesabaran saya diuji. Ternyata, dalam soal pancing-memancing, saya belum punya keutamaan sabar.

Butuh kehati-hatian melepas mata pancing dari mulut ikan
Kakap merah –atau sering disebut Kakap Kanci oleh para pedagang ikan di kawasan Tanjungpasir di Teluk Naga—punya dua gigi depan semacam taring yang sangat runcing dan tajam. Jangan sesekali memasukan jari tangan ke dalam mulut kakap merah.

Saking ambisiusnya saya ingin mendapatkan ikan, saya lupa akan nasihat sederhana Bu Vivi: jangan sesekali masukkan jari ke mulut ikan. Betul juga, baru sedikit masuk, jari saya sudah kena ‘sambar’ taring nan tajam ini.

Juga hati-hati melepas mata kail pancing, ketika ikan bergerak menggelepar. Saya kurang hati-hati dan ujung telunjuk saya sobek kena ‘patil’ kakap di sayap dekat insang. Kata orang, ‘patil’nya sangat tajam –seperti kata tagline sebuah infotainment—“setajam silet”.

Bener, jari telunjuk saya tersayat hampir 1/5 cm terkena hentakan ‘patil’ kakap merah ini.

Kredit foto: Mancing kakap merah di empang pinggiran Teluk Jakarta di Muara, Selembaran, Kec. Kosambi, Dadap, Teluk Naga, Tangerang. (Royani Lim)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.