“The Angriest Man in Brooklyn”, 90 Menit Terakhir

APA yang akan Anda lakukan ketika mengetahui waktu hidup Anda hanya tinggal 90 menit? Menangis? Protes? Diam termangu? Pasif menunggu ajal datang? Lalu apakah arti waktu di hadapan kematian yang mendekat?

Henry Altmann (Robin William) sontak dikuasai oleh kemarahan ketika mengetahui bahwa hidupnya hampir selesai di dunia. Kesialan-kesialan yang baru saja dihadapi –sedannya di srempet taksi dan dia harus menunggu beberapa jam kedatangan dokter– menambah stimulus kemarahan dalam dirinya. Henry seperti mati akal dengan kabar yang baru saja disampaikan oleh si dokter.

Apalagi Henry tidak tahu kalau diagnose yang disampaikan oleh Dr. Sharon Gill (Mila Kunis) ternyata ngawur. Si dokter yang kebetulan sedang bad mood tersebut saking jengkelnya kepada pasien Henry, spontan memberikan angka 90 menit untuk mengakhiri ocehan si pasien yang menyesakkan dadanya.

Waktu itu masa lalu
Apa arti 90 menit itu bagi Henry? Dalam sekejap Henry dibawa oleh ingatannya ke masa lalu. Tentang masa-masa indah bersama istri dan dua anak. Kemudian datang pula ingatan akan kematian anaknya. Juga tentang perseteruannya dengan Hamish, anaknya yang jelas tidak ingin bergabung dengan perusahaan Henry.

Di hadapan Henry, masa lalu tersebut menjadi begitu riil hadir saat itu. Waktu menjadi padat. Waktu adalah ingatan akan dan buah-buah atas tindakannya. Yang pasti hari-hari Henry yang semula mesra dan indah dengan keluarganya, kini kering dan diisi oleh ketidakpuasan. Waktu mampu mengubah narasi kehidupan Henry.

Lelaki tua ini akhirnya memutuskan untuk berbaikan dengan keluarganya. Dia ingin membawa kembali jaman bahagia tersebut ke masa kini yang sudah teramat singkat. Dia memutuskan untuk meminta maaf kepada anak lelakinya yang menggeluti dunia tari. Dia bermaksud untuk memberi kesan romantis kepada istrinya. Semua niat baik tersebut diharapkan dapat menjadi happy ending untuk hidupnya. Namun Henry bukan penguasa waktu. Sekali lagi semua yang direncanakan ternyata tidak berjalan mulus. Keadaan yang berlawanan dengan harapannya semakin membuatnya frustasi. Marah. Putus asa.

Si Tukang Marah yang bahagia
90 menit yang dimiliki sepertinya kurangkah? Diceritakan dalam film tersebut, Henry tak menyerah. Khususnya setelah Sharon menemukannya dan mengatakan yang sesungguhnya. Ya Henry memang akan meninggal karena pelemahan fungsi otak, akan tetapi bukan 90 menit.

Setidaknya 90 menit yang telah lewat menghantar pada langkah awal keutuhan diri. Meminjam istilah filsuf Heidegger, dalam waktu tersebut si Henry secara penuh menyadari keberadaannya, being. Pergulatan 90 menit yang dialaminya justru meningkatkan kualitas kesadaran akan relasi dan visi hidup Henry. Kematian yang menanti di muka bukanlah soal ketakutan dan kepasrahan. Melainkan kematian itu soal bagaimana seseorang mengisi hidup secara penuh dan sadar.

Begitulah akhirnya satu demi satu rekonsiliasi terlaksana. Rekonsiliasi terjadi dengan diri sendiri pertama-tama, ketika Henry menerima kenyataan sakitnya dan dia akan meninggal. Lalu rekonsiliasi dengan istri. Dan akhirnya rekonsiliasi dengan Hamish. Tuan Kematian tetap datang dan Henry telah menghargai waktu yang ada dengan mencintai keluarganya. Si tukang marah tersebut seolah-olah berseru, “Maut oh maut dimanakah sengatmu? Aku telah mengakhiri pertandingan ini.” Akhirnya Henry meninggal dengan bahagia.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.