Terseret Arus

Ayat bacaan: Ibrani 2:1
===================
“Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.”

Dalam sebuah acara di televisi saya melihat cuplikan kejadian menegangkan tentang seorang pria yang terseret arus di sebuah negara di luar sana. Ia terus terseret dan gagal diselamatkan karena arus yang menariknya cukup deras. Untunglah setelah hanyut sekian kilometer, ia akhirnya berhasil diangkat keluar dan tidak harus kehilangan nyawanya. Begitulah besar resikonya ketika terseret arus deras. Seorang teman pernah menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika ia hampir menemui ajalnya karena terseret arus saat sedang berenang di sebuah sungai. Ia beruntung karena sempat meraih sebuah dahan yang menjorok ke arah sungai. Kalau tidak, ia bisa jatuh ke bebatuan di bawah karena tidak jauh dari posisi dahan itu ada air terjun yang cukup tinggi siap menelannya. Sebagai anak kecil pada saat itu, ia tidak mengetahui betapa besar bahayanya jika terseret arus. Ia mungkin hanya ingin bersenang-senang sebentar dengan bermain di sungai, tetapi ia tidak menyadari malapetaka yang tengah mengintip akibat perbuatannya itu.

Sadar atau tidak, dalam kehidupan ini kita pun akan banyak berhadapan dengan berbagai arus berbahaya yang siap membinasakan kita. Betapa seringnya kita melihat atau mendengar orang-orang yang tadinya baik lalu berubah menjadi sesat karena terbawa pengaruh yang salah dari lingkungan pergaulan mereka. Kita sering menyaksikan atau mungkin juga pernah mengalami sendiri bagaimana pergaulan yang buruk membuat kita ikut terbawa arus kesesatan. Di kalangan anak-anak Tuhan pun hal ini lumayan sering terjadi. Kejatuhan mereka seringkali terjadi bukan karena mereka sendiri ingin berbuat dosa, tetapi justru karena terhanyut di bawa arus. Di zaman yang begitu maju seperti sekarang ini, berbagai arus penyesatan pun kerap tampil dari banyak sisi. Dari pertemanan, lingkungan, berbagai media seperti bacaan, lagu, televisi, internet dan banyak media lainnya. Lebih parah lagi, seringkali arus penyesatan ini hadir tidak kasat mata alias samar-samar sehingga kita tidak sadar saat mulai terseret masuk di dalamnya. Jika kita membiarkan diri kita terus hanyut terseret arus seperti ini mungkin kelak pada suatu ketika kita akan sadar, tapi bisa jadi saat itu kita sudah sulit melepaskan diri lagi. Maka banyak korban yang akan jatuh akibat terseret arus dalam kehidupan seperti ini, di mana banyak di antaranya adalah orang baik-baik yang tadinya hidup lurus dan taat. 

Firman Tuhan sudah mengingatkan kita agar mewaspadai hal ini. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1). Hanyut terbawa arus sudah merupakan masalah yang dihadapi manusia sejak jaman dahulu sampai sekarang. Ketika kita lemah, maka akan sangat mudah bagi kita untuk terhanyut dalam berbagai kesesatan. Dan Alkitab mengingatkan kita agar terus berhati-hati terhadap segala kemungkinan yang berpotensi menghanyutkan kita. Sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya kita bisa berhati-hati agar tidak hanyut terbawa arus kalau kita tidak tahu apa-apa mengenai Firman Tuhan? Oleh karena itulah Alkitab mengingatkan dengan tegas lewat ayat di atas. Sangatlah perlu bagi kita untuk benar-benar memperhatikan dengan teliti dan seksama akan segala sesuatu yang kita dengar, memiliki kemampuan memilah-milah mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang harus diterima dan ditolak dan sebagainya. Itu akan mampu menghindarkan atau menjauhkan kita dari potensi hanyut terbawa arus.

Arus penyesatan itu kerap timbul dari lingkungan pertemanan yang salah. Hal seperti ini sudah sering kita lihat, bahkan mungkin sudah atau pernah kita alami sendiri. Firman Tuhan mengingatkan “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut” (Amsal 1:10). Sangatlah menarik melihat bahwa pesan penting ini muncul lewat manusia paling berhikmat yaitu Salomo. Lewat hikmat yang ia miliki ia bisa melihat adanya kecenderungan manusia untuk terjebak pada bujuk rayu orang lain. Salomo melanjutkan “Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka.” (ay 15). Kaki orang berdosa digambarkan sedang “lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah” (ay 16), dan dengan demikian “mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri.” (ay 18). Terseret arus seperti ini akan membawa kita masuk ke dalam situasi yang sama pula. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk tidak terjebak dan terseret dalam arus ini.

Selain dari lingkungan pertemanan, Alkitab pun mengingatkan kita agar mewaspadai nabi-nabi palsu dengan ajaran-ajaran mereka yang sesat. Ini adalah arus kesesatan lain yang seringkali dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah baik, seolah-olah sejalan dengan firman Tuhan padahal orientasi atau dasarnya sangatlah jauh berbeda atau bahkan bertolak belakang. Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita akan hal ini. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (Matius 7:15). Mereka bisa tampil seperti lurus dengan kemasan-kemasan yang mampu memperdaya kita. Ada begitu banyak ajaran berorientasi kepada kemakmuran, kesukesan, keberhasilan dan sebagainya yang terlihat seolah-olah benar namun semua itu ternyata bertentangan dengan Firman Tuhan. Terhadap hal seperti ini kita haruslah berhati-hati. Yesus pun memberikan cara bagaimana kita bisa membedakannya. “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (ay 16a).

Disamping kedua hal di atas, sebenarnya ada banyak arus-arus lain yang bisa datang dari segala arah dan siap menghanyutkan kita. Berbagai arus ini siap menjanjikan banyak hal yang sepertinya membahagiakan dan nikmat, tetapi sebenarnya sedang mengarahkan manusia untuk lenyap dalam kenikmatannya. Hal ini sudah diingatkan oleh Yohanes. “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17). Dunia akan cenderung mengarah kepada arus-arus seperti ini, tetapi bagi kita anak-anak Tuhan sudah diingatkan dengan jelas agar tidak ikut-ikutan terbawa arus. Sebuah firman Tuhan yang sudah sangat kita kenal wajib untuk kita ingat, yaitu:  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Lewat Petrus Tuhan menasihatkan “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.(2 Petrus 3:17). Kita wajib waspada, karena kelemahan-kelemahan kita akan selalu siap untuk dimanfaatkan oleh si jahat untuk menyesatkan kita lewat berbagai arus penyesatan baik yang terlihat kasat mata maupun yang dikemas secara rapi. Apa yang harus kita lakukan bisa kita baca dalam ayat berikutnya. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” (ay 18). Kita memang tidak dilarang untuk bersahabat dengan orang lain, tetapi perhatikan betul siapa dan seperti apa orangnya. Dan yang terlebih penting lagi, ketahuilah dengan teliti apa yang menjadi pesan Tuhan sehingga kita bisa awas dalam menjalani hidup. Berhati-hatilah terhadap arus-arus yang siap menghanyutkan kita hingga binasa. Biasakan diri untuk teliti terhadap segala sesuatu yang kita dengar dan lihat agar kita terhindar dari bahaya seperti ini.

Teliti dan cermati segala sesuatu agar kita tidak mudah terbawa arus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.