Terlambat Bersaksi

Ayat bacaan: Lukas 16:27-28
=======================
“Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.”

terlambat bersaksi, orang kaya, lazarus

Saya dan istri saya sama-sama berasal dari keluarga dengan kepercayaan yang berbeda-beda. Ayah dan adik saya bukan orang percaya, demikian pula ibu dan kakak dari istri saya. Ketika saya bertobat dan lahir baru, saya bahkan sempat dilarang untuk beribadah ke gereja oleh ayah saya. Dan untuk menghindari konflik, saya memutuskan untuk pindah ke kota lain, tempat di mana saya tinggal hari ini. Puji Tuhan, seiring waktu berjalan ayah saya akhirnya bisa menerima keberadaan saya sebagai murid Yesus. Ia tidak mempermasalahkan lagi, malah sempat berkata bahwa ia merasakan sesuatu yang baru, yang berbeda terhadap diri saya setelah saya bertobat. Saya tidak lagi menjadi pribadi pemarah yang suka melawan. Hingga hari ini masih menjadi pergumulan saya agar ayah dan adik saya bisa menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, demikian pula dengan mertua dan kakak ipar saya.

Memang tidak gampang bagi kita untuk menyampaikan berita keselamatan. Takut menghadapi penolakan, tidak tahu bagaimana caranya, tidak pandai bicara dan berbagai alasan lain akan membuat kita mengabaikan sebuah tugas yang seharusnya sangat penting untuk kita lakukan. Sangat penting? Ya, sangat penting, karena hal ini merupakan pesan terakhir dalam bentuk Amanat Agung yang disampaikan Yesus sendiri tepat sebelum Dia naik ke Surga. Lihatlah ayat berikut: “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20). Ini menjadi tugas yang seharusnya berada dalam agenda kehidupan setiap anak Tuhan di muka bumi ini. Seperti Bapa yang tidak ingin satupun manusia ciptaanNya binasa, hati seperti itu seharusnya ada pula dalam diri kita.

Mari kita sambung renungan kemarin mengenai Orang kaya dan Lazarus yang miskin dalam Lukas 16:19-31. Jika kemarin kita sudah melihat bahwa si orang kaya terlambat untuk berbuat baik, meski kesempatan dan kemampuan sebenarnya sudah tersedia baginya, hari ini mari kita lihat keterlambatan apa lagi yang dialami oleh orang kaya tersebut. Perhatikan ayat berikut: “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” (ay 27-28). Orang kaya itu memiliki 5 orang saudara yang sama-sama belum bertobat. Sepanjang hidupnya ternyata ia tidak pernah mau memberitakan Firman bahkan tidak pernah mau menjadi teladan. Ia terlena dengan segala kenyamanan yang ia miliki sebagai orang kaya sehingga melupakan sebuah tugas penting yang seharusnya menjadi perhatian orang percaya. Ia terlambat untuk bersaksi, ia terlambat untuk menjadi teladan. Dan penyesalan pun akhirnya ia rasakan ketika ia tidak lagi memiliki kesempatan. “Seandainya saya tahu bakalan begini, saya akan mati-matian mengingatkan kelima saudara saya selagi masih hidup..” saya yakin ia berpikir demikian. Tetapi semuanya sudah terlambat, penyesalan sedalam apapun tidak lagi bisa mengubah keadaan.

Mewartakan Firman bukan harus selalu lewat kotbah. Dan bukan pula dilakukan dengan cara memaksa atau bahkan mengancam. Ada banyak orang yang berpikir bahwa itu hanyalah tugas pendeta atau hamba-hamba Tuhan yang aktif di gereja saja, padahal ini seharusnya merupakan tugas dari setiap anak-anak Tuhan. Kita tidak harus menjadi pendeta terlebih dahulu untuk melaksanakan tugas ini. Ada sebuah cara yang elegan dan sebenarnya mudah untuk kita lakukan, yaitu menyatakan Yesus lewat kesaksian kita, lewat pengalaman hidup kita, dan juga lewat tingkah laku dan perbuatan kita. Hal ini seringkali luput dari perhatian kita. Dalam kitab Wahyu kita bisa melihat bahwa iblis itu dikalahkan oleh “darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian” kita. (Wahyu 12:11) Ini artinya kesaksian kita akan memiliki dampak yang sangat penting dalam mewartakan berita keselamatan.

Paulus menekankan pentingnya mempergunakan waktu dengan cermat dan sungguh-sungguh selagi kesempatan itu masih ada pada kita. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus ia berkata “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16). Dia juga mengingatkan kita untuk tidak berpangku tangan dan bermalas-malasan saja. “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (ay 14). Adalah penting bagi kita untuk menjadi orang yang bersaksi, menjadi teladan dan bagi yang sudah berkeluarga hendaklah bisa menjadi orang yang sanggup memimpin keluarga untuk taat kepada Firman Tuhan. Ada waktu dimana kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa seperti yang dialami oleh orang kaya dalam kisah Lazarus di atas, dan hal ini pun sudah diingatkan sejak jauh hari. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Sudahkah kita menjadi orang-orang yang mampu bersaksi akan kebaikan dan kasih Yesus dalam hidup kita? Sudahkah kita menjadi teladan bagi sesama kita, terlebih bagi keluarga kita? Menjadi terang dan garam harus menjadi gaya hidup kita, karena percuma saja kita mengaku beriman pada Yesus tetapi tidak disertai dengan perbuatan yang bisa menjadi teladan di mata orang-orang di sekitar kita. Si orang kaya sudah tidak lagi memiliki kesempatan, tetapi kita masih bisa melakukannya saat ini. Pergunakanlah waktu yang masih tersisa semaksimal mungkin agar jangan sampai kita menyesal karena terlambat seperti si orang kaya.

Selagi masih ada kesempatan, jadilah kesaksian dan teladan bagi orang-orang di sekitar kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: