Terbebani

beban hidup suku minoritas di Sapa dekat perbatasan Vietnam China

“Aduh! Besok aku ada pelayanan di sini, tapi aku juga ada tanggung jawab di sana, mana besok ujian lagi, huuuffftt… Bagaimana ini?”

HAL di atas cocok dijadikan sebagai bahan permenungan bagi para aktivis maupun para pelayan saat ini. Saat kita dihadapkan oleh serangkaian karya pelayanan dan dibenturkan dengan realitamu sebagai pekerja/pelajar dengan segudang kegiatan, ditambah lagi dengan posisi kita sebagai anak dalam keluarga dan kewajiban yang harus dilakukan. Saat itulah kita akan merasakan dilematis yang cukup tinggi. Karena di satu sisi kita harus bertanggung jawab dengan kegiatan ini, namun di satu sisi ada tanggung jawab lain sebagai anak contohnya untuk dapat hadir ke dalam acara keluarga yang tidak setiap minggu diadakan.

Pernahkah kamu merasakan hal ini?

Ada kalanya kamu ingin sekali hadir di suatu pertemuan keluarga misalnya, namun dibenturkan dengan realita kamu harus melayani di suatu tempat. Apakah hal ini pernah membebanimu?

Katakan ya jika iya, dan katakan tidak jika tidak. Ketika dibenturkan dengan realita seperti ini, hal yang pertama perlu diingat adalah ayat Matius 6:33 yang berbunyi “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Memang tidak mudah, namun percayalah semua akan indah pada waktunya.

Teladan Maria

Mari meneladan sikap Bunda Maria, karena seperti ada tertulis dalam Lukas 16:18 yang berbunyi “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga alam perkara-perkara besar.”

Hal inilah yang tercermin dalam Bunda Maria. Ia sungguh teladan umat beriman, karena ia setia mendampingi Putranya dari dalam kandungan hingga wafat di kayu salib. Tanggung jawab yang diemban Bunda Maria sungguhlah besar, namun Ia tetap menjalaninya dengan setia dan penuh kesungguhan hati.

Kita sebagai umat Allah, hendaknya menjadikan Bunda Maria sebagai sosok panutan dalam kegiatan karya pelayanan di dunia ini. Mari belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, peduli, dan bersyukur. Karena sejatinya pelayanan yang sungguh bermula dari ketulusan hati kita sendiri dan semua itu berlandaskan kasih dari Allah Bapa di surga. Maka, jangan pernah merasa terbebani karena suatu pelayanan, bersyukurlah karena kita dipakai Allah sebagai alatNya untuk dijadikan berkat bagi sesama dan demi kemuliaan Allah yang lebih besar.
Selamat berkarya. Berkah Dalem Gusti.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.