Temu Pastoral Keuskupan Bandung: Menjadi Komunitas yang Hidup, Mengakar, Mekar dan Berbuah

Para peserta Temu Pastoral sedang serius memerhatikan paparan / Foto : Ignatius Yunanto

CITA-CITA Umat keuskupan Bandung pada 2010 – 2014 ini adalah menjadi komunitas yang hidup, mengakar, mekar dan berbuah. Mengakar artinya  menjadi bagian dari masyarakat, tidak menjadi sosok yang terasing dan mengasingkan diri, mau berbaur dengan tetap memperlihatkan identitasnya sebagai pengikut Kristus.

“Akar merupakan bagian dari pohon yang sering tak tampak, bertugas menyedot makanan dan membuat pohon bertumbuh semakin besar sesuai jenis pohonnya,” ujar Vikjen Keuskupan Bandung, Pastor P. Wirasmohadi Soerjo, Pr, dalam pengantarnya membuka Temu Pastoral Keuskupan Bandung tengah tahun 2014, di Pondok Lembang, Bandung, Jumat-Sabtu (27-28/6/2014).

Menurut Pastor Wirasmohadi, mengakar sama dengan membuat hidup mekar dan berbuah. Mekar artinya bertumbuh karena bergaul dengan kehidupan sekitar, berkembang bersama masyarakat setempat dengan agama dan budaya setempat. Bertumbuh baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Berbuah artinya, Buah dinikmati oleh mahluk lain. Tidak ada pohon yang menikmati buahnya sendiri. Pohon sering “dipuji” karena buahnya disenangi yang menikmati. Berbuah berarti hidup yang berdampak bagi masyarakat sekitar. Kehadiran Gereja dapat dirasakan oleh masyarakat Jawa Barat.

Karena itu, fokus pastoral 2014 berbunyi “Dialog kebangsaan : Sadar, terlibat, mengakar”. Menurut Pastor Wirasmohadi, fokus ini bertujuan menciptakan keterlibatan umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keterlibatan ini disemangati oleh Pastoral keterlibatan – spiritualitas inkarnatoris.

Vikjen Keuskupan Bandung, Pastor P. Wirasmohadi Soerjo, Pr/ Foto : Ignatius Yunanto

Sambutan Vikjen Keuskupan Bandung:  Pastor P. Wirasmohadi Soerjo Pr dalam kapasitasnya sebagai Vikjen Keuskupan Bandung memberi pengantar dan sambutan dalam temu pastoral Keuskupan Bandung belum lama ini.  (Dok. Ignatius Yunanto)

Ini artinya, sebagai umat kita mesti terlibat dalam suka duka dan kecemasan masyarakat di sekitarnya, terlibat dalam dinamika kehidupan sosial dan politik. Juga ikut aktif berperan dalam lembaga/organisasi sosial kemasyarakatan, aktif berperan dalam lembaga/organisasi politik/partai, terlibat dalam memilih calon anggota legislatif dan yudikatif, terlibat dan bersedia mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi anggota legislatif, dan terlibat ikut ambil bagian dalam perayaan/peringatan hari raya nasional. Bentuk-bentuk keterlibatan tersebut diwujudkan dalam refleksi, selebrasi, dan aksi.

Temu pastoral ini dihadiri semua elemen di Keuskupan Bandung, meliputi perwakilan komisi, subkomisi, biro, kelompok kategorial, yayasan, Lembaga Hidup Bakti, seminari, dan paroki-paroki. Uskup terpilih Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subianto OSC, membuka Temu Pastoral ini dengan ucapan terimakasih para undangan hadir dalam pertemuan ini. Kehadiran para undangan merupakan wujud kerelaan sebagai seorang hamba Gereja, yang mau menjawab kebutuhan Gereja Keuskupan Bandung.

Proses Temu Pastoral dimulai dengan dialog Dewan Karya Pastoral Keuskupan (Komisi, sub komisi dan Biro) dengan paroki/kelompok kategorial, organisasi dan lembaga. Sejauh mana peran DKP sebagai fasilitator bagi paroki, kelompok kategorial/organisasi dan lembaga di keuskupan Bandung dapat dirasakan atau berdayaguna?

Dilanjutkan dengan berbagi kisah cerita (dalam kelompok kecil) antarparoki/kelompok kategorial/organisasi dan lembaga; Kegagalan dan keberhasilan dalam melaksanakan karya pastoral. Sejauh mana pelayanan kita berdampak bagi umat dan bagi masyarakat sekitarnya? Dan pada saat pleno, muncul kesepahaman bersama bahwa kegagalan dan keberhasilan karya pastoral paroki, kelompok kategorial/organisasi dan lembaga (lokal) menjadi keprihatinan dan keberhasilan bersama sebagai satu gereja keuskupan.

Masukan yang diberikan adalah menggali informasi dan menambah wawasan terkait dengan pemilihan presiden dan wakil presiden 2014. Dan diakhiri dengan peneguhan Bapak Uskup dengan tema  “Moto Panggilan dalam konteks tahun pastoral 2014”

Keterangan Foto : Para peserta Temu Pastoral sedang serius memerhatikan paparan / Foto : Ignatius Yunanto

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.