Teladan (1)

Ayat bacaan: Titus 2:7
================
“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”

Slogan “jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas” hampir setiap hari kita dengar di televisi. Himbauan yang sangat baik karena keselamatan berlalu lintas akan sangat tergantung dari sejauh mana para pengendara serius menaati peraturan yang berlaku, termasuk kita. Jadi pelopor, juga jadi teladan, itu artinya kita harus mulai melakukannya sekarang juga meski yang lain masih suka melanggar aturan. Sebenarnya mana yang lebih mudah, jadi pelopor atau teladan atau ikut-ikutan yang salah? Pada kenyataannya jauh lebih banyak yang ikut-ikutan ketimbang memberi contoh baik. Bak ikut arus deras, kita biasanya terbawa arus dan ikut bandel ketimbang bersikap taat pada aturan. Alasannya macam-macam. Takut kehilangan teman, takut tidak diterima dalam kelompok, ingin terlihat gaul dan sebagainya. Kalau anda lihat di acara-acara televisi terkait, saat orang melanggar aturan lalu lintas dan diberhentikan, mereka biasanya berdalih bahwa semua orang juga melakukan itu. Kenapa saya ditilang sementara yang lain tidak apa-apa? Itu contoh jelas dari kebiasaan kita mengikuti arus, tak peduli bahwa itu salah. Kalau orang semua salah, ya kita juga boleh dong salah. Begitu kira-kira. Memilih untuk hidup benar seringkali menjadi pilihan terakhir. Bukan karena kesadaran tapi kalau sudah sangat terpaksa. Selain itu, kita pun terbiasa untuk hanya taat aturan saat ada yang melihat, tapi akan seenaknya melanggar kalau merasa tidak ada yang memperhatikan. Lampu merah ditaati di siang dan sore hari, tapi kalau sudah larut malam maka lampu tidak lagi diindahkan, meski itu sangat beresiko mendatangkan kecelakaan yang bisa menghilangkan nyawa. Berbagai penyimpangan kebenaran menjadi hal yang sangat lumrah. Saking lumrahnya sampai-sampai orang yang mencoba hidup benarlah yang terlihat aneh. Maka banyak orang percaya pun menyerah. Bukannya menunjukkan keteladanan tentang hidup yang benar menurut Kerajaan Allah tapi malah menyerah ikut-ikutan.

Di tengah dunia yang semakin penuh gemerlap cahaya tapi semakin gelap secara moral, dimanakah seharusnya orang percaya berdiri? Apakah memang jumlah orang percaya yang benar terlalu sedikit sehingga kita harus terlalu mudah menyerah dan mengikuti cara hidup orang dunia? Pentingkah atau wajibkah kita menjadi teladan, atau memang kita diperbolehkan untuk ikut-ikutan dengan alasan-alasan tertentu?

Pertama-tama mari kita sadari bahwa Kepada kita semua telah disematkan tugas mulia untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia, menjadikan seluruh bangsa sebagai muridNya. (Matius 28:19-20). Kita diminta untuk menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada, bahkan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8). Banyak orang mengira bahwa itu berarti menginjili, mengkotbahi dan sejenisnya. Kalau sudah berpikir begitu, alasan tidak pintar bicara, pemalu atau bahkan tidak merasa itu sebagai panggilan pun dikemukakan sebagai excuse. Tapi coba pikirkan, bagaimana mungkin kita bisa menjalankan tugas ini hanya dengan menyampaikannya sebatas kata-kata saja? Meski kita terus menyampaikan firman Tuhan sampai berbusa sekalipun tidak akan membawa hasil apabila itu tidak tercermin dari sikap hidup kita. Itu malah hanya akan menjadikan kita bahan tertawaan atau olok-olok saja.

Pada bagian lain, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita dituntut untuk menjadi terang dan garam dunia. (Matius 5:13-16). Perhatikan sifat garam dan sumber penerangan seperti lampu. Kalau garam dibiarkan diam di dalam botol tanpa dipakai untuk memasak, apakah garam bisa berfungsi? Terang pun demikian. Lampu tidak akan bermanfaat kalau hanya disimpan, tidak dinyalakan atau tidak diletakkan pada posisi yang tepat untuk menerangi area yang gelap. Semua ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kabar gembira yang kita sampaikan dengan bentuk perbuatan nyata yang harus tercermin lewat sikap hidup kita sendiri. Dengan kata lain, keteladanan lewat sikap dan perbuatan kita merupakan hal yang mutlak untuk kita perhatikan apabila kita ingin menjadi agen-agen Tuhan yang berfungsi benar di dunia ini.

Karenanya menjadi teladan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Dalam Titus 2 kita bisa membaca serangkaian nasihat yang menggambarkan kewajiban kita, orang tua, pemuda dan hamba dalam kehidupan. Pertama, kita diminta untuk memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat. (Titus 2:1). Pria dewasa diminta untuk “hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (ay 2). Sementara wanita dewasa “hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.” (ay 3-5). Anak-anak muda diminta agar mampu “menguasai diri dalam segala hal”. (ay 6). Semua pesan ini menunjukkan perintah untuk memberikan keteladanan secara nyata tanpa memandang usia, gender maupun latar belakang lainnya. Itulah yang akan mampu membuat ajaran yang sehat bisa diterima oleh orang lain secara baik dan membuahkan perubahan. Seruannya jelas: “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” (ay 7). Jadikan diri kita teladan, menjadi agen-agen Tuhan menyampaikan kebenaran lewat perbuatan-perbuatan baik yang merupakan buah dari keselamatan yang kita terima dalam Kristus.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: