Tekun Berdoa (1)

Ayat bacaan: Roma 12:12
====================
“…dan bertekunlah dalam doa!”

Ketekunan merupakan sebuah sikap yang sangat diperlukan dan menentukan kesuksesan seseorang. Seperti apa sebenarnya tekun itu? Tekun berarti sebuah sikap yang sungguh-sungguh, serius dan dilakukan terus menerus dalam bekerja. Orang yang tekun punya sifat pantang menyerah meski mereka mengalami gangguan, kesulitan dan hambatan dalam melakukan pekerjaannya. Mereka yang tekun tidak setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu, tidak sambil lalu dan selalu memberi yang terbaik dari dirinya tanpa memandang besar-kecilnya imbalan yang mereka terima. Ada banyak orang yang hari ini mencapai sukses berawal dari kegigihan dan ketekunan luar biasa dalam merintis usahanya. Mereka jatuh bangun, tidak tertutup kemungkinan disepelekan atau ditertawakan, direndahkan, mengalami kerugian di sana sini, tetapi ketekunan mereka pada akhirnya menghasilkan buah setelah melalui rentang waktu yang bisa jadi panjang.

Sangat menarik kalau kita lihat ayat bacaan hari ini yang diambil dari kitab Roma. Secara lengkap ayat ini berisikan seruan Paulus kepada jemaat di Roma mengenai cara hidup yang baik. “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Bertekunlah dalam berdoa, itu merupakan salah satu poin penting selain selalu bersukacita tanpa kehilangan harapan dan tetap bersabar meski tengah ditekan kesesakan. Kedengarannya mungkin sepele, tapi pikirkanlah, berapa banyak orang yang tetap menjadikan doa sebagai sebuah gaya atau bagian hidup ditengah banyaknya kegiatan yang terus bertambah seiring berkembangnya teknologi? Bukankah lebih asyik main gadget, posting foto di jejaring sosial ketimbang menutup mata dan melipat tangan? Atau jalan-jalan, bukankah itu juga lebih menyenangkan? Ada yang menyelipkan doa sambil lalu saja ditengah bermain pada waktu senggangnya, ada yang hanya menyisakan satu-dua menit sebelum tidur untuk porsi doa, ada pula yang hanya kalau sempat atau bahkan sudah sangat jarang melakukannya.

Semua itu tentu jauh dari pengertian tekun. Bertekun dalam doa adalah menjalankan doa secara serius, sungguh-sungguh, sepenuh hati, tidak menyerah dan putus asa meski jawaban doa belum hadir saat itu juga. Bertekun dalam doa adalah meluangkan waktu secara khusus, fokus sepenuhnya dalam membangun komunikasi dengan Tuhan, bukan dilakukan sambil lalu, diselipkan sana sini ditengah beraktivitas. Bertekun dalam doa adalah kerajinan dan semangat dalam memanjatkan doa dengan didasari kerinduan dan iman yang percaya penuh disertai kesabaran. Tidak kenal lelah, dilakukan terus menerus dengan serius, sepenuh hati. Seperti itulah seharusnya kita berdoa.

Dalam menghadapi masalah, seberapa besar kesabaran kita untuk berharap pada Tuhan? Seringkali ketidaksabaran ini menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk menikmati janji-janji Tuhan. Betapa seringnya kita hanya mencoba sebentar, hanya berdoa selama beberapa waktu, tetapi kemudian kita pun cepat merasa kecewa dan berhenti berdoa. Kita mau Tuhan menjawab dengan instan sesuai waktu yang kita inginkan, jika tidak maka secepat itu pula kita meninggalkan Tuhan. Sebagian orang lalu akan segera mencari alternatif-alternatif lain akibat merasa kecewa kepada Tuhan.

Atau tidak jarang pula orang terlebih dahulu mencoba segala sesuatu dan baru mencari Tuhan sebagai alternatif terakhir, atau ada pula yang menganggap doa sebagai sesuatu yang sekedar “nothing to loose.” Ya dicoba saja, berhasil syukur kalau tidak ya sudah..” seperti itu pikiran sebagian orang. Itu bentuk doa yang tidak disertai keyakinan sedikitpun bahwa Tuhan mendengar dan sanggup menjawab doa mereka. Yang sering menjadi akar permasalahan, selain tidak yakin, mereka pun sulit menerima kenyataan bahwa waktunya Tuhan yang terbaik, untuk menyediakan segala yang terbaik bagi kita. Waktu yang terbaik yang kita anggap benar hanyalah berpusat pada pandangan kita pribadi, bukan lagi waktunya Tuhan. Tidak jarang pula orang malah hanya menganggap doa seperti mengirim paket permintaan semata. Ada perlu baru berdoa, jika semua berjalan sesuai keinginan, maka doa pun tidak dibutuhkan lagi. Padahal doa merupakan sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Semakin rajin kita berdoa, hubungan kita akan semakin dekat, kita pun akan semakin peka terhadap suaraNya. Dan itu membutuhkan ketekunan.

Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik mengenai pentignnya sebuah ketekunan dalam berdoa seperti yang bisa kita baca dalam Lukas 18:1-8. Mengambil perumpamaan tentang seorang janda, sosok yang lemah dan sering digambarkan sebagai figur yang tertindas dan diperlakukan tidak adil di dalam Alkitab, dan seorang hakim yang lalim. Demikian bunyi ayat pembuka perikop ini. “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” (Lukas 18:1). Dalam kisah ini, si janda diceritakan terus memohon kepada hakim lalim agar haknya dibela. (ay 3). Sementara si hakim bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan sikapnya arogan dan lalim, tidak menghormati siapapun. Sesuai dengan gambaran pribadi si hakim, sudah tentu ia menolak permohonan janda ini. Tapi lihatlah janda itu tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon. Dengan gigih janda itu berjuang. Kegigihan menunjukkan bahwa ia masih menaruh harapan agar permohonannya dikabulkan, karena tidak ada orang yang akan gigih jika mereka tidak punya harapan sama sekali. Lalu pada akhirnya sang hakim yang lalim pun luluh dan membenarkan si janda. Dan Yesus pun berkata, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!” (ay 6).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.