Tanpa Tali Kekang

Ayat bacaan: Mikha 6:8
==================
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

tanpa tali kekang

Kemarin saya berkunjung ke rumah seorang teman baru. Ia memelihara dua anjing berukuran besar, satu golden retriever dan satu boxer. Ketika saya datang, saya melihat suaminya sedang kewalahan menahan laju kedua anjing itu dengan tali. Ia terseret oleh kedua anjing berukuran besar itu yang tampaknya ingin lepas bermain sepuasnya di jalan. Ketika kedua anjing itu masuk ke rumah dan tali dilepaskan, si boxer tiba-tiba menghambur dan menerjang saya. Maka teman saya pun segera menahan tubuh si boxer itu dengan sekuat tenaga. Ia meronta dan berusaha lepas, sehingga akhirnya harus diikat di luar. Sementara anjing satunya ternyata mampu duduk manis meski tanpa tali sekalipun. Dua anjing yang sama-sama berukuran besar, tetapi tampil beda. Yang satu bisa dipercaya tanpa perlu tali sedang yang satu harus diikat agar tidak membuat masalah.

Seperti apa hubungan yang diinginkan Tuhan dengan kita, manusia-manusia ciptaanNya yang istimewa ini? Ada banyak orang yang mengira bahwa serangkaian peraturan yang membatasi hidup manusia ini bagaikan rantai pengekang yang membuat kita seolah tidak berhak untuk menikmati kenikmatan hidup. Ini tidak boleh, itu dilarang. Malah ada yang berpikir lebih ekstrim, bahwa Tuhan gemar menyiksa manusia. Kita terus dikekang dan diikat tidak boleh kemana-mana. Benarkah seperti itu? Tentu tidak. Kasih Tuhan terkadang memberikan “tali” yang cukup panjang bagi kita untuk menjalani kehidupan. Bukankah ada kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita? Tuhan sama sekali tidak menciptakan kita seperti robot-robot yang bisa dikendalikan sepenuhnya. We have free will to decide whether we want to do good things according to His Words or not. Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi anak-anakNya yang patuh atau pembangkang.

Kalaupun Tuhan memberi kekangan kepada kita, itu untuk tujuan baik. Itu karena Dia tidak ingin satupun dari kita berakhir dalam bara api penyiksaan yang kekal. Itu karena Tuhan sayang kepada kita. Apabila pada suatu kali kita diberi “cambukan” karena kebandelan kita, itu pun bertujuan baik. Lihat apa kata Firman Tuhan berikut: “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:5-6). Semua karena kita diakuiNya sebagai anak, dan tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal atau binasa dalam hidup bukan?  Tapi bukan itu sebenarnya yang dirindukan Tuhan. Dia tidak menikmati hubungan seperti itu. Apa yang Dia inginkan adalah kehidupan kita yang tidak perlu dikekang. Tuhan ingin kita bisa bebas, merdeka dalam ketaatan sepenuhnya berjalan bersamaNya. He delights when we can walk freely in obedience, in a fully surrendered way to Him.
Mari kita lihat apa respon Tuhan menghadapi bangsa Israel yang terus bersungut-sungut dan mengomel kepada Mikha bagaimana susahnya menyenangkan hati Tuhan. Tuhan memberi sebuah jawaban yang singkat dan tegas bahwa sebenarnya menyenangkan hati Tuhan itu tidaklah sulit. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Cuma itu yang dituntut Tuhan bagi kita. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Dalam bahasa Inggrisnya disebutkan lebih lengkap: “to do justly, to love kindness and mercy and to humble yourself and walk humbly with your God.” That’s all. Hal ini sudah pernah diungkapkan Tuhan sebelumnya. Tuhan berkata “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.” (Ulangan 30:11). Dan inilah perintahNya: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” (ay 19-20). He wants us to fully surrendered and cling to Him, to walk with Him in obedience. Jika kita mampu hidup seperti itu, tidak perlu ada cambukan, bahkan kita tidak perlu diikat atau dikekang. Kita bisa bebas merdeka dengan ketaatan atau kepatuhan penuh terhadap Tuhan. Dan itulah hubungan yang Dia inginkan untuk dibangun bersama kita.

Dalam Mazmur kita bisa melihat kerinduan Tuhan yang sama untuk kita. “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau” (Mazmur 32:9). Kita seharusnya tidak perlu diperlakukan demikian, karena Tuhan pun tidak suka memperlakukan kita seperti itu. Tuhan menginginkan sebuah hubungan yang luwes, terbuka dalam keintiman yang didasarkan ketaatan sepenuhnya kepadaNya. Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat seperti yang bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan syaratnya pun sama. “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (ay 1-2).

Bayangkan seandainya anjing boxer teman saya itu dilepas. Ia mungkin akan menerjang siapa saja atau mungkin bahkan menggigit orang, ia akan berlari seenaknya kemana-mana dan itu sangatlah beresiko bagi dirinya sendiri. Ia bisa binasa dalam waktu singkat. Kita pun seperti itu. Tuhan rindu untuk memberi kebebasan kepada kita, tetapi mampukah kita menjaga kepercayaan seperti itu andaikata kita dilepas sepenuhnya? Sudah mampukah kita hidup benar bergantung kepadaNya meski tanpa tali kekang sekalipun? Semua itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. Hari ini mari kita membuat komitmen untuk benar-benar berjalan dalam ketaatan penuh bersamaNya. Hiduplah adil, penuh kasih dan kerendahan hati dan berjalanlah bersamaNya. Anda akan melihat bahwa Tuhan akan sangat senang apabila kita tidak perlu berjalan dengan tali kekang lagi.

Dapatkan kebebasan sepenuhnya dengan berjalan dalam ketaatan bersama Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: