Tanah yang Baik, Tanah yang Subur: Mat 13:1-9

Tibet soil by China Org

ADA umat yang lapor bahwa warga di lingkungannya makin lama makin mengurang jumlahnya, khususnya kalau ada kegiatan pendalaman iman dan Ekaristi lingkungan. Pamong lingkungan pun sangat prihatin akan keadaan ini, karena jangan-jangan nanti umatnya makin habis atau pergi ke daerah lain.

Dalam pertemuan dengan para pamong lingkungan dan Dewan Paroki masalah ini menjadi pembicaraan yang serius.Ada kebetulan pamong lingkungan yang professinya tani atau penggarap sawah. Ia memberikan sharing didalam pertemuan itu.

”Saudara-saudara, tanah itu bisa menjadi subur atau tandus, tergantung apakah tanah itu digarap atau tidak. Dulu sawah saya itu juga tidak rata dan tidak subur, tetapi tiap-tiap hari saya ratakan, saya beri pupuk organik dan saya gemburkan, sehingga akhirnya sawah saya bisa saya tanami padi atau sayuran.

Dan hasilnya bapak-ibu bisa mirsani. Hal ini saya hubungkan dengan situasi lingkungan-lingkungan di paroki kita, Tadi ada melapor bahwa Umat di lingkungan kita mretheli, berkurang dan tidak semangat. Ini saya samakan dengan tanah yang tidak subur.

Maka usul saya marilah lahan paroki kita dan khususnya lingkungan itu kita garap bersama: kita beri pupuk dan singkirkan semua yang menghalangi tumbuhnya iman. Saudara-saudara pasti setuju, yaitu kita garap keluarga-keluarga di lingkungan kita.

Kita mendorong agar dalam keluarga-keluarga kita kompak, rukun, rajin berdoa. Kita perhatikan keluarga kita yang punya masalah kita perhatikan, jangan sampai menjadi orang Katolik kecewa karena lingkungan tidak rukun atau tidak memberi perhatian.

Kita perhatikan anak-anak kita, supaya ikut terlibat dalam soal iman, biar ikut berdoa dan aktif, jangan dimonopoli oleh bapak-ibu. Ini antara lain cara bagaimana kita menghidupkan iman. Berilah warga lingkunagn diberi kesempatan untuk menerima pembinaan rohani dari para pakar diparoki ini, agar mereka dapat mendengar Firman Tuhan. Saya yakin kalau ini kita lakukan ligkungan kita subur.”

Sharing sungguh mengesankan, karena memang suasana rukun, damai, kompak dalam keluarga dan dalam lingkungan adalah syarat mutlak agar Firman Tuhan dapat tumbuh dan berkembang. Iman inilah yang akan menarik Umat untuk setia pada panggilannya, terutama sapaan dari gembala Umat.

Sebenarnya yang membentuk pribadi sebagai Umat beriman adalah Firman Tuhan itu sendiri. Maka dimana Umat rajin mengikuti ekaristi harian dan rajin mendengar atau membaca Firman Tuhan, pastilah suasana akan menjadilain dan akan selalu baru.

Kredit foto: Tibet’s soil (China org)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.